Tak Kekurangan Pangan, Tapi Kenapa Kelaparan?

0
851

Perut lapar terkadang sering kali menjadi hambatan berbagai aktivitas, bahkan tidak jarang menjadi gangguan. Mulai dari berkurangnya konsentrasi hingga rasa senewen yang tidak jelas apa sebabnya. Bagi sebagian orang, makan bukan hanya sebatas kegiatan penawar lapar namun juga kegiatan yang dapat — secara magis — membuat baik suasana hati, bahkan jadi sumber rasa senang.

Bersyukurlah wahai orang-orang dari golongan di atas. Sebab, bagi kalian makan mungkin sudah menjadi kegiatan yang fungsinya tidak lagi sebatas pemenuh kebutuhan primer. Sementara, di belahan dunia lain, atau mungkin di lain tempat yang masih di negara kita, makan bisa menjadi sebuah kemewahan meski fungsinya untuk memenuhi kebutuhan biologis.

Hingga hari ini ada 815 juta orang di dunia yang terpaksa tertidur dalam kondisi lapar. Bayangkan seberapa buruknya itu? Tidur bisa menjadi tidak nyenyak, dan aktivitas di keesokan hari lantas tak bisa dilakukan secara efektif.

Baca juga: Pelajaran Dari Meja Makan

Kelaparan bukanlah permasalahan sepele, sebab menurut data UNICEF, di tahun 2010 diperkirakan ada 7.6 juta anak-anak yang meninggal dunia, kurangnya nutrisi menjadi penyebab setidaknya setengah jumlah tersebut. Hampir satu dari lima belas anak-anak di negara berkembang meninggal sebelum usia 5 tahun karena sebab yang tidak jauh dari kelaparan.  Meski terjadi di berbagai belahan dunia, namun 98% kelaparan terjadi di negara miskin, dan 526 juta di antaranya tinggal di Asia dan Afrika Sub-Sahara menjadi tempat di mana kelaparan paling parah terjadi, satu dari empat penduduknya atau 25% penduduk di daerah ini menderita kelaparan parah.

Kelaparan bukanlah permasalahan sederhana dengan sebab tunggal. Kelaparan terjadi karena sebab yang kompleks, meski kemiskinan diyakini menjadi penyebab utama. Berdasarkan data Bank Dunia penyebab kemiskinan mencakup langkanya sumber daya, tidak meratanya pendapatan, konflik dalam negeri, dan perang.

Meski demikian, kamu harus tahu kalau sebenarnya bumi dan seisi penghuninya masih bisa memproduksi makanan yang cukup untuk 7 miliar orang! Data dari Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) memperkirakan, jika pangan bisa dibagikan secara merata, maka semua orang di muka bumi dapat menerima makanan dengan 2,750 kalori tiap harinya. Angka ini jauh lebih tinggi dari angka minimum kalori yang harus manusia konsumsi tiap harinya, yaitu 2,100 kalori.

Oleh karenanya distribusi pangan menjadi aspek yang penting. Tapi tidak hanya itu, kontras dengan jumlah makanan terproduksi yang melimpah, terbuangnya makanan secara sia-sia juga menjadi penyebab mengapa banyak saudara kita masih mengalami kelaparan hingga hari ini.

Food Wasting

Hampir sepertiga makanan yang diproduksi setiap tahun, atau setara dengan 1.3 triliun ton makanan, terbuang sia-sia. Jumlah makanan ini senilai 1 triliun dollar atau sekitar 15 ribu triliun rupiah! Jumlah ini, dapat didistribusikan secara merata dan dapat memberi makan dua miliar orang, atau dua kali jumlah orang yang mengalami kelaparan.

Selain menjadi sia-sia, makanan yang terbuang juga menyumbang jejak karbon yang besar. Jika diibaratkan negara, jejak karbon yang dihasilkan makanan-makanan yang terbuang ini ketiga terbesar setelah Amerika Serikat dan Cina.

Baca juga: Perjuangan David Melawan Goliath Agrikultur Belum Selesai

Meski kelaparan merupakan persoalan besar, bukan berarti kita sebagai individu, yang semoga masih punya empati, tidak dapat melakukan apapun. Ada beberapa, bahkan banyak yang bisa kita lakukan. Tapi ada setidaknya satu yang paling mudah yang bisa kamu mulai lakukan, yaitu mulai peka dengan apa yang akan kamu makan. Lebih teliti dengan porsi makanmu, sehingga kamu tidak punya alasan untuk membuang makananmu ketika kamu kekenyangan. Kamu juga bisa mengurangi belanja bulananmu yang tidak perlu, jadi makanan yang kamu simpan di kulkas tidak membusuk karena kamu menyimpannya terlalu lama.

Banyak hal yang terkadang kita anggap biasa, namun ternyata sebuah kemewahan bagi yang lain. Semoga kita senantiasa diberi kemampuan untuk bersyukur.  (Ber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here