Perang Itu Cuma Tawuran Berskala Besar, Tidak Ada Hebat-hebatnya

0
1171

“Saya pernah terjebak di tengah perang dalam format tawuran pelajar. Selain kepala yang terbentur aspal, yang menyenangkan dari situasi tersebut hanyalah menertawakan teman yang kakinya tergilas roda angkot, selebihnya sia-sia.”

Sebagai sebuah kata, bila ditelaah secara fonetik, kata ‘perang’ tentu tidak menyeramkan sama sekali, kita akan dengan mudah mengasosiasikannya dengan suara gelas yang jatuh karena sikut teman yang slebor (Tentu kita semua dikaruniai setidaknya seorang teman macam ini.) Atau suara yang mewakili benda berbahan kaca, jadi jelas apabila maknanya dicerabut tentu kesan angkernya raib seketika.

Tapi saya tidak ingin membahas aspek linguistik pada kata perang, selain saya bukan ahlinya, sebenarnya saya hanya tertarik soal kaitannya dengan hidup saya. Bukan, saya bukan pejuang reformasi yang ‘berperang’ melawan rezim orba, apalagi pejuang angkatan 45 jelas lebih tidak masuk akal.

Sesuai kutipan di awal tulisan, saya memang pernah terjebak di tengah situasi ‘peperangan’ walau skalanya hanya tawuran pelajar. Jadi jelas secara kasta, level saya lebih tinggi dari pengalaman orang yang berperang dalam aspek spiritual, sebab pengalaman saya ini adalah pengalaman konkrit bukan filosofis, hehehe.

Untuk memberikan konteks, biar saya jelaskan sedikit. Tahun-tahun usia saya sekolah, adalah tahun-tahun dimana tren tawuran sudah mulai surut, tapi belum bisa dikatakan hilang. Jadi saat itu pilihannya hanya ada dua saat kita sebagai pelajar terjebak di situasi tawuran, pertama ikut dan pasrah pada kehendak takdir, atau yang kedua lari dengan konsekuensi dapat bogem mentah dari pentolan sekolah karena tidak memiliki jiwa solidaritas satu sekolah.

Jadi sebagai seorang warga sekolah yang biasa-biasa saja dan tanpa kemampuan berkelahi yang mumpuni, saya lebih memilih opsi yang pertama, sebab opsi kedua bagi saya adalah opsi yang lebih dari mengerikan.

Baca juga: Perang: Mengganjal dan Menjegal Keberlanjutan

Saat itu saya dan beberapa teman dipaksa kakak kelas kami untuk bertarung melawan rival sekolah lain, buntut dari kekalahan pertandingan futsal. Bagai petir di siang bolong, ajakan yang bernada ancaman itu menggetarkan nyali saya. Bagi beberapa teman yang memang haus perkelahian, mereka jelas bersemangat dan menganggap ini semacam pertandingan pasca pertandingan. Tapi bagi saya, ini semacam pertaruhan hidup dan mati, bahkan bila nyali saya diibaratkan seekor kelomang, maka ia adalah seekor kelomang yang sudah lepot ke dalam cangkangnya.

Singkat cerita, akhirnya pertarungan tak berhasil dimenangkan kedua pihak, karena tawuran berakhir dibubarkan oleh warga sekitar yang geram. Kamipun berakhir melarikan diri dari kepungan warga, lalu buyar ke berbagai arah. Tapi saat itulah saat yang membekas sampai hari ini, karena pada hari itu saya menyaksikan karma yang dibayar tunai.

Sebab Perang

Saat melarikan diri, saya bergerombol dengan sekitar empat kawan saya, pelarian kami pun berakhir tragis. Semua terjadi karena kawan saya salah memilih transportasi, ia kurang cermat memilih angkot dan ternyata angkot yang kami masuki dalam kondisi penuh, alhasil bukan tempat duduk yang didapat malah tendangan salah satu penumpang yang mendarat di dada kawan saya.

Saat itu saya berada persis di belakangnya, jadi jelas saat kawan saya ditendang maka yang jatuh lebih dulu menimpa aspal adalah saya. Sesaat setelah jatuh, saya yang sedang mengusap-usap kepala habis ditertawakan karena terjengkang. Tapi rupanya nasib masih berpihak pada saya, tawa teman saya itu harus dibayar dengan kakinya yang tergilas angkot karena lupa digeser posisinya selepas jatuh, sontak jeritannya menjadi pertanda untuk saya terbahak membayar dendam, hahahaha.

Dari pengalaman tersebut akhirnya saya paham, bahwa ada berbagai faktor yang memicu perang, bahkan untuk peperangan sekelas tawuran sekalipun mereka butuh alasan seperti ejekan, pengeroyokan, pemalakan, dan sebagainya.

Tapi dari berbagai aspek tadi saya tidak menemukan alasan yang masuk akal, bahkan yang mendasar sekalipun biasanya hanya soal dominasi saja, cuma seputar kekuasaan yang kadang tak berguna sama sekali.

Jadi kalau ada peperangan yang merusak dan menanggung kerugian dalam jumlah besar, sudah dapat dipastikan, bahwa satu dari dua pihak yang berperang hanyalah dibakar api dendam untuk hal-hal yang sebenarnya lebih asyik kalau dibicarakan di selasar warung sembari ngopi dan menambah daftar kasbon gorengan. (Ignavus Canis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here