Pelajaran Dari Meja Makan

0
462

Sudah beberapa kali selama pandemi dan selama saya bekerja dari rumah, Ibu saya kerap mengeluh kebingungan dengan menu makan yang harus beliau masak. Ibu saya ini kerap nggrutu dalam bahasa Sunda “Duh asa lieur kudu masak naon teh,” (Duh, pusing harus masak apa) mendengarnya, saya dan Bapak biasanya cuma terkekeh setengah meledek, untuk kemudian kami berdua kena semprot amarah Ibunda tercinta.

Pada dasarnya untuk ukuran seorang ibu-ibu, beliau termasuk ke dalam kategori Ibu andalan, saat masih aktif sebagai PNS, beliau adalah salah satu bendahara dengan tingkat akurasi kerja yang mumpuni dan selalu dapat diandalkan atasannya. Bahkan dulu saat masih dalam usia paling produktifnya, Ibu saya tidak pernah gagal membagi fokus antara pekerjaan dengan perannya sebagai seorang Ibu. Jadi bisa dibilang Ibu saya ini trengginas sejak dalam pemikiran.

Nah, di sisi lain, saya punya Bapak yang agak sedikit ajaib. Kepribadian Bapak justru berpunggungan dengan Ibu, contoh mudahnya, Bapak selalu telat bangun sembahyang subuh, tidak mudah bergaul, dan cenderung tak berambisi. Kadang di waktu-waktu tertentu, saya sering merasa heran kenapa mereka bisa berjodoh, tapi lagi-lagi saya hanya harus kembali pada jawaban bahwa, toh jodoh (dan gol) itu  kan di tangan Tuhan.

Nah, kembali ke soal Ibu yang mutung karena ditertawakan Bapak dan saya, biasanya kami siasati dengan meninggalkannya di dapur sampai suasana hatinya sedikit lebih tenang. Biasanya setelah itu, Ibu akan memasak apa saja yang sekiranya terlintas di benaknya, bisa sayur lodeh, ikan peda goreng, atau tumis-tumisan.

Baca juga: Tak Kekurangan Pangan, Tapi Kenapa Kelaparan?

Setelah sajian terhidang di meja makan, biasanya Ibu akan memanggil saya dan Bapak untuk segera makan selagi nasinya masih panas. Kami berdua pun melahap makanan tanpa ba-bi-bu. Oh iya, perlu saya jelaskan, Bapak saya itu hampir tidak pernah mengeluh soal makanan, apapun menunya akan selalu tandas bersama nasi dalam format portugal (porsi tukang gali). Saya sendiri juga jarang meminta variasi menu, selain karena tidak terlalu repot dengan persoalan selera, saya hanya berusaha tahu diri, sebab saya cuma bujangan tua dengan penghasilan alakadarnya dan masih menumpang di rumah orang tua, jadi jelas upaya bertahan saya selama di rumah ya, tahu diri.

Nah selama makan dan saat Ibu sudah lebih tenang, saya biasanya akan memulai celetukan “Tuh masak apapun, toh Bapak makan sama lahapnya kan Bu?”

Lalu biasanya Ibu hanya akan menjawab “Ya Ibu juga cuma bosen aja sama masakannya, kalau soal dimakannya sih, Bapakmu itu kan paling syaratnya cuma tempe.”

Berkah

Situasi ini bukan hal baru, sudah terjadi sejak saya masih di rumah, lalu merantau untuk sekolah dan bekerja, hingga kembali ke rumah karena pandemi. Lalu akan ada kisah yang juga hampir sama keluar dari mulut Bapak tiap kali situasi ini terjadi. Kisah tentang masa kecilnya yang super prihatin, yang jadi alasan kenapa beliau tak banyak syarat dalam hal makanan. Baginya, soal makan tak ada dikotomi lezat atau tidak, semuanya hanya dikembalikan pada fungsi dasarnya, bahwa makanan adalah kebutuhan semua makhluk hidup.

Baca juga: Perjuangan David Melawan Goliath Agrikultur Belum Selesai

Selesai dengan cerita itu, Ibu biasanya akan menimpali dengan “Iya juga sih, si Bapak dulu bisa makan juga udah sukur ya?” dan biasanya kami bertiga hanya akan berakhir cengengesan, sambil mengusap dada masing-masing, karena sadar Tuhan masih memberikan rizkinya yang melimpah.

Lalu saya sendiri dalam hati biasanya hanya akan bersyukur dengan tangan Tuhan, yang dengan iseng menjodohkan dua orang yang tak bisa dibilang cocok-cocok amat ini. (Ignavus Canis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here