Menghindari Rasa Bersalah Memang Bikin Repot

0
1087

“Salah satu siksaan di dunia yang paling menyesakkan dada adalah rasa bersalah, dan kita tak pernah bisa benar-benar menghindarinya.”

Kalau ditanya penyesalan apa yang masih saya ingat-ingat sampai sekarang, mungkin salah satunya adalah perilaku kurang tahu diri saya dulu saat masih di bangku sekolah.

Saya itu punya orang tua yang sangat mendukung anaknya mengembangkan kemampuan akademisnya, maklum mereka berdua hanya berhasil menamatkan pendidikan di jenjang SMA dan STM, jadi ya wajar rasanya kalau punya keinginan anaknya nanti bisa menempuh jenjang pendidikan yang lebih dibanding orang tuanya.

Baca juga: Kita Yang Takut Bayangan Sendiri

Saat SMA saya pernah diberi kesempatan untuk les bahasa inggris di salah satu lembaga pendidikan bahasa yang lumayan dikenal di kota saya, saat itu saya tahu betul kalau orang tua saya memaksakan kemampuan agar anaknya memiliki kesempatan untuk belajar. Tapi memang dasar saya anak yang kurang tahu diri, saat itu alih-alih mengikuti kelas, saya malah memilih nongkrong menimba ilmu jalanan dari penjaga kios rokok di depan tempat les saya itu.

Singkat cerita, ulah saya ini sampai juga ke telinga Ibu dan akhirnya saya ditanyai soal kebenaran kabar tersebut. Saya yang sudah dalam posisi tidak bisa lagi berkelit hanya mengangguk saat Ibu bertanya, saya lihat air muka Ibu waktu itu sedikit sendu, tapi beliau terlihat menahan amarahnya dan hanya memungkas pembicaraan dengan kalimat yang saya tidak pernah bisa lupa “Ibu cuma mau kamu punya kesempatan lebih baik, tapi kalau kamu merasa tidak nyaman, ya sudah, setidaknya Ibu sudah kasih kesempatan.” Ya, saya Cuma bisa menunduk malu tanpa kata-kata.

Penyesalan itu muncul lagi ke permukaan setelah saya membaca tulisan “Belajar bersyukur dengan kurangi sampah” dalam artikel tersebut sang narasumber begitu memikirkan aspek dalam kehidupan rumah tangganya, bahkan untuk urusan popok anaknya, beliau bahkan meilih untuk menggunakan popok kain yang dapat dipakai lagi lantaran popok sekali pakai sangat berdampak buruk bagi lingkungan.

Setelah membaca kisah tersebut saya merasa perilaku saya yang mengecewakan Ibu saya dulu itu terlampau kurang ajar, betapa saya tidak tahu bagaimana harus bersyukur atas segala yang saya dapatkan.

Sulit Dilakukan

Tapi kemudian saya berpikir, apa yang harus saya lakukan untuk dapat menghindari perilaku yang bermuara pada rasa bersalah serupa di masa yang akan datang?

Dari artikkel yang saya baca itu, saya mulai berpikir untuk mengambil jalan serupa dengan sang narasumber, tapi kok ya rasanya repot betul. Bayangkan, setiap belanja saya harus bawa kantong sendiri, mengurangi jumlah konsumsi kemasan plastik, memilah sampah, bahkan mengurangi produksi sampah di rumah. Wah baru dipikirkan saja sudah berat, apa lagi dijalankan? Duh.

Tapi mungkin untuk menghindari rasa bersalah memang harus menempuh jalan yang berat, repot, dan rasanya menyulitkan. Tapi saya teringat sebuah ungkapan, bahwa jalan kebaikan memang tak pernah mudah, tapi akan selalu layak untu diupayakan. Yah, semoga saya, atau mungkin kita semua mampu menempuhnya. (Ignavus Canis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here