Masa Depan Yang Beracun

0
551

Dua puluh tahun yang lalu kita mungkin tak mampu membayangkan bahwa kecanggihan teknologi akan berkembang sepesat dan secepat sekarang. Tentu bagi generasi yang sempat mencicipi masa-masa telepon umum, faximili, dan binder (bukan tinder lho ya!) akan mengamini bahwa perkembangan teknologi begitu dahsyat setidaknya dua puluh tahun belakangan ini.

Kini di tahun 2020, kita mengalami hal-hal yang luar biasa (tentu termasuk pageblug yang serba ghoib ini) hal yang sebelumnya disebutkan tak terbayangkan. Kini hampir semua orang mulai terbiasa dengan dunia virtual, dunia yang tak berbatas dan masih begitu dalam untuk dapat diselami lebih jauh. Sosial media yang tadinya dimanifestasikan sebagai medium alternatif dalam menjalin relasi sosial, kini malah mulai mendominasi tatanan sosial manusia.

Baca juga: Memakai Akal, Bukan Mengakali

Fenomena dominasi sosial media tentu bukan sesuatu yang sepenuhnya di luar dugaan, tapi perkembangannya sungguh sangat mengejutkan. Kini setiap orang sudah dapat dipastikan memiliki keterhubungan secara virtual lewat gawai di tangan mereka, bahkan dalam beberapa kasus, mereka sudah memercayakan aspek-aspek primer kehidupannya ditentukan oleh algoritma mesin pencari virtual. Secara sederhana bisa dipahami bahwa, kini seseorang dapat berteman tanpa harus mengenal siapapun.

Seiring perkembangannya, sosial media kini mulai bergeser dari format sebelumnya sebagai media jejaring sosial dan perlahan tapi pasti bersalin menjadi lapak-lapak dagang virtual. Tentu fenomena ini tak bisa dibaca secara sederhana untuk kemudian dipilah ke dalam kategori moral baik atau buruk, sebab jelas persoalannya tak pernah sesederhana itu.

Tapi belakangan, gejala-gejala sosial media menjadi semakin beracun. Semakin banyak keluhan dari orang-orang yang merasa tercerabut dari kehidupannya karena tersita oleh sajian di layar gawai.

Langkah Masa Depan

Tobin Brogunier, seorang jurnalis di entrepreneur.com, lewat artikelnya yang berjudul “4 Reasons Why Social Media Has Become So Toxic and What to Look for Next” menyoroti kasus yang dialami oleh Katie Bower, seorang “mommy blogger” yang menjadi viral karena keluhannya di sosial media. Katie yang kerap mengunggah momen bersama anaknya mengeluh, karena ia merasa setiap unggahan yang menampilkan buah hatinya tersebut tidak mendapatkan apresiasi dalam bentuk likes yang semestinya.

Tanpa diduga unggahan tersebut justru menjadi viral, tapi apa yang terjadi tak pernah sesuai dengan yang Katie bayangkan. Reaksi dalam bentuk empati terhadap apa yang menimpanya memang muncul, namun yang tak terduga adalah kritik pedas dan penghakiman yang disampaikan padanya, salah satu komentar yang dilayangkan justru menyoal sikap Katie yang dianggap eksploitatif terhadap anaknya.

Mengacu dari kasus Katie, Tobin menyatakan bahwa hal tersebut adalah salah satu bentuk betapa beracunnya sosial media, ia pun memaparkan empat alasan utama yang menjadikan sosial media begitu beracun. Namun dari keempat alasan tersebut ada satu alasan yang menjadikan sosial media begitu berbahaya bagi penggunanya.

Alasan tersebut menyatakan bahwa sosial media telah mengkomodifikasikan penggunanya ke dalam pengelompokkan status sosial lewat fitur like. Itu semua ditunjukkan dari beberapa penelitian yang berhasil membuktikan bahwa fitur seperti like, share, dan comment mampu memengaruhi kesehatan mental seseorang dan merugikan kesehatan mental masyarakat secara umum. Sebuah penelitian yang dilaporkan lewat American Journal of Epidemiology menemukan bahwa fitur like memiliki keterikatan dengan memburuknya kondisi mental dan fisik pengguna sosial media, juga mengakibatkan perasaan tidak puas atas hidupnya.

Melihat berbagai hasil analisa dan penelitian yang telah dilakukan terhadap dampak sosial media, tentu kita harus lebih berhati-hati saat mengaksesnya. Apa lagi sudah banyak jurnal yang memprediksi bahwa dunia virtual adalah masa depan bagi umat manusia, maka sudah sepatutnya kita mempersiapkan segala sesuatunya sebaik mungkin, sebelum terlambat. (Ignavus Canis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here