Cupang dan Tanaman Hias, Bukti Rapuhnya Manusia

0
555

Memandangi cupang atau tanaman kesayanganmu memang punya kenikmatan yang sering bikin senyam-senyum sendiri, mirip orang yang sedang kesengsem.

Semenjak pandemi berlangsung, manusia seantero jagad harus mulai menyesuaikan diri dengan situasi. Mulai dari berkegeiatan dengan protokol kesehatan, sampai bekerja dari rumah, tentu kebiasaan baru ini bukan hal yang mudah.

Bayangkan saja bagi seseorang yang kecanduan kopi tiba-tiba saja ia harus berhenti menyesap nikmatnya seduhan kopi sachet di pagi hari dan menggantinya dengan air putih, wah kebayang kan uring-uringannya seperti apa? Tapi kalau ia tidak merubah kebiasaanya itu, keselamatannya lah yang terancam, pokoknya sudah pasti maju kena mundur keserempet mio.

Baca juga: Yang Liar Dari Balap Lari

Tapi ya dasar manusia, tak mungkin dapat julukan makhluk berakal kalau cobaan-cobaan ini tidak bisa mereka lalui.

Sebagai upaya mengakali situasi yang serba mengekang, beragam kegiatan pun diinisiasi oleh para homo-sapiens. Kegiatan yang dimaksud adalah upaya untuk menjaga kewarasan di tengah situasi yang njlimet ini.

Eksistensi Manusia

Kegiatan yang dilakukan pun beragam, mulai dari yang sifatnya menjaga kesehatan fisik seperti bersepeda, jogging, yoga, maupun kegiatan yang dimaksudkan untuk menjaga kesehatan mental, seperti berkebun, melukis, budidaya tanaman, atau memelihara cupang.

Nah dua kegiatan terakhir ini sepertinya paling diminati sebagai upaya menekan stres. Untuk dapat melihat fenomenanya mudah saja, coba saja buka platform sosial media, niscaya tanaman dan cupang mulai memadati timeline, atau coba saja cari dengan menggunakan tagar dua kata tadi, wah hasilnya pasti menyaingi unggahan motivasi.

Entah kenapa manusia itu selalu memiliki kepuasan saat berhasil memelihara dan merawat makhluk hidup lain. Mungkin ini semacam kebutuhan spiritual di luar agama, semacam kepuasan batin yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Baca juga: Plantasia: Lantunan Untuk Tanaman

Tapi fenomena ini bagi saya seperti menjelaskan aspek lain pada manusia. Aspek tersebut adalah bahwa betapa rapuhnya manusia sebagai makhluk hidup. Kalau argumen bahwa kita tergantung pada makhluk hidup lain untuk bertahan, itu sih sudah biasa, tapi ternyata untuk persoalan mental kita juga membutuhkan sesuatu yang liyan, yang di luar diri kita sebagai subjek.

Betapa rapuh eksistensi manusia itu, makhluk sombong yang kerap lupa bahwa untuk sekedar merasa puas saja mereka butuh pengakuan. Pengakuan bahwa cupang peliharaannya bersisik biru menyala atau betapa mengkilapnya lidah mertua yang menjulur di pojok ruang kerjanya. (Ignavus Canis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here