Tombol Komputer

0
1505

Sebagai seorang putra daerah, sudah menjadi lumrah rasanya kalau saya terjebak dalam kegagapan saat berhadapan dengan apa-apa yang serba modern. Tentu ini semacam disclaimer di awal tulisan, perkara kalian yang membaca kurang sreg, ya sudahlah, maklumi saja, namanya juga warga kabupaten era 90-an.

Sebagai seorang anak desa sebenarnya saya ini serba tanggung, hmm, untuk menyingkat cerita begini saja penjelasannya, saya itu tinggal di tengah hutan, like literally di tengah hutan (ini salah satu kalimat yang selalu ingin saya tulis, karena merupakan elmu yang saya dapat setelah beberapa tahun mengadu nasib di ibu kota) tapi entah kenapa saya disekolahkan di kota, ya walau hanya kota madya, sih. Tapi boleh lah disebut kota, sebab di sana sudah ada pusat perbelanjaan dengan eskalator, di tahun itu mendapati gedung perniagaan dengan eskalator, bagi seorang anak yang tinggal di hutan apa bukan sebuah pencerahan namanya? Ya kan?

Saya bersekolah di kota dengan tetap tinggal di hutan sampai kira-kira menjelang kelas 2 SMA, sampai akhirnya orang tua saya memutuskan untuk melepas saya hidup indekost karena merasa nelangsa melihat putra bungsu kesayangannya tiap hari pulang telat dengan berbagai alasan. Jelas saya tak perlu menjelaskan berbagai alasan tersebut, toh kita kan sama-sama pernah belia.

Semenjak kost saya sebenarnya tidak merasa benar-benar mandiri layaknya kisah heroik mereka yang pernah nge-kost, ini disebabkan jarak saya ke rumah tidak bisa dibilang jauh, walau dekat pun sama sekali tidak. Saya merasakan suasana yang benar-benar baru dan asing ketika akhirnya duduk di bangku kuliah sebagai mahasiswa, sebab kali ini saya benar-benar jauh dari rumah dan secara administratif saya sudah sah pindah kota.

Di kota yang baru ini saya merasa asing dan kerap gagap dalam membaurkan diri ke dalam kerumunan urban yang sesungguhnya. Tapi kegagapan saya ini sebenarnya sedikit banyak merupakan buah dari ulah saya sendiri, yang saat SMA hampir selalu membolos ketika harus praktik di kelas komputer (nanti kalian paham kaitannya), alih-alih belajar komputer, saya bersama beberapa kawan seperjuangan justru malah berhasil membuat sindikat yang menginisiasi gratifikasi bagi guru komputer kami, yang sudah tentu dalam rangka memuluskan nilai ujian praktek kami.

Nah lalu apa hubungannya kelas komputer dengan kegagapan saya di kampus? Sebenarnya malu rasanya mengingat kejadian ini, tapi sudahlah mungkin kalian bisa memetik hikmah dari cerita saya, kalau sekiranya tidak ada hikmahnya, setidaknya kalian punya bahan untuk ditertawakan.

Begini, perhitungan saya meleset soal kehidupan kampus, saya kira belajar di jurusan yang saya ambil ini  tidak akan menemukan kendala teknis yang berarti, tapi baru seminggu  melewati masa orientasi dan memulai perkuliahan, saya harus menghadapi kenyataan bahwa nasib malang harus menimpa sejak awal ngampus. Ya di hari itu saya ada kelas komputer, seketika badan saya terasa dingin, apalagi ketika akhirnya duduk berhadapan dengan monitor dan tetikus di tangan saya, wah tegangnya itu lho, haisssh.

Di hadapan monitor saya mencoba tenang, saya memutar otak agar dapat dengan lancar, atau setidaknya terlihat lancar dalam mengoperasikan teknologi yang konon mengubah wajah dunia itu. Saya sebenarnya sudah terbiasa menggunakan sebuah aplikasi dengan komputer saat SMA, tapi celakanya setiap saya memakai aplikasi tersebut di komputer milik teman saya, sang pemilik sudah terlebih dahulu menyalakan komputernya, jadi saya tidak pernah tahu tombol mana yang ditekan saat harus menyalakan sebuah komputer, ditambah bentuk komputer di kampus saya berbeda dengan milik teman saya, ini jadi poin halang rintang tambahan yang harus saya lalui.

Tapi sebagai golongan berakal bulus saya tak kehabisan stok jalan pintas, belajar dari pepatah “posisi menentukan prestasi” saya menggunakan taktik serupa. Sebelum saya masuk lab komputer, saya terlebih dahulu melihat peluang yang dapat menyelamatkan saya dari kebodohan diri sendiri dengan cara duduk di sebelah teman yang memang menguasai komputer di luar kepalanya.

Saat saya bertanya bagaimana cara menyalakan komputer, teman saya ini jelas sekali tak sanggup menahan tawa, saya pun hanya cengengesan berlagak gila untuk menahan malu. Tapi memang teman saya ini lebih dewasa secara umur maupun mental, ia menahan tawanya lalu perlahan mengajari saya bagaimana menyalakan mesin pintar tersebut dengan penuh kesabaran, walau celaan terkadang terlontar satu dua kali.

Kisah-kisah kebaikan kecil semacam kisah saya yang diselamatkan teman dari hegemoni teknologi bernama tombol komputer akan selalu saya ingat dan mungkin selalu membekas di ingatan, sebab, coba saja bayangkan kalau saat itu sosial media sudah seperti sekarang, apa tidak bakal jadi utas cerita kebodohan saya itu? Mungkin akan ada perdebatan besar setidaknya seputar ketimpangan antara orang desa dan kota. Wah jelas saya tak mau jadi biang kisruh yang dapat memecah belah bangsa, hehehe.

Baca juga: Keuntungan Lahir di Waktu Yang Tepat

Kelak kisah-kisah kecil itu yang jadi modal saya untuk tetap menjaga rasa kemanusiaan, aneh memang saat orang banyak terpengaruh kisah-kisah besar dari sosok macam Gandhi, Gus Dur, atau Bunda Theresa, saya hanya bermodal kisah-kisah kecil yang remeh temeh. Itu semua kemungkinan membekas karena menjadi pengalaman hidup saya yang jelas seremeh dan setemeh itu. Tapi setidaknya karena kisah-kisah itu sampai saat ini saya masih percaya masih ada pohon kemanusiaan, dan kebaikan adalah buah manis yang akan selalu dapat saya petik saat rasa kemanusiaan saya mulai terkikis zaman yang kian menua. (Ignavus Canis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here