Selalu Ada ‘Mau’ di Mamuju

0
401

“Akan ada 1000 alasan jika memang tidak mau. Namun, hanya butuh satu alasan untuk mau melakukan sesuatu”

Kata orang, bagaimana keseluruhan harimu akan berjalan, tergantung bagaimana kamu memulai pagi. Pagi di ibu kota tetap riuh, dengan atau tanpa ada pandemi, dengan atau tanpa ada peningkatan angka kasus baru. Begitulah ibukota, tidak pernah mati dan selalu gaduh.

Di sini, kita tidak akan bicara soal ibu kota. Sudah terlalu banyak yang bercerita tentangnya.

Kali ini, mari kita menyapa tempat yang sedikit jauh di timur sana, menyapa kabar pagi yang dikirim penuh energi.

Baca juga: Meninggalkan Jejak Kebermanfaatan

“Korona bukan jadi penghalang SDN Mandar Pitu untuk panen kacang panjang lagi”, tulis Pak Bahri di suatu grup percakapan daring, lengkap dengan foto rekan guru yang sedang panen di kebun sekolah.

“Sekalian panen jahe untuk bikin wedang jahe”, tambah Bu Nurliang yang akrab disapa Bu Haji, tidak mau kalah dari rekan satu sekolahnya itu. Tak lupa, ia juga melampirkan foto dari area kebun sekolah bagian lainnya.

“Pembuatan pupuk komposnya juga alhamdulillah berhasil”, tambah Pak Bahri lagi.

Kabar yang seperti ucapan selamat pagi itu tentu disambut hangat oleh penghuni grup lainnya. ‘Selamat pagi ini’ menghidupkan suasana grup yang beberapa waktu cenderung sepi karena proses belajar mengajar dari rumah akibat pandemi, disusul usainya program pendampingan tak lama setelah itu. Proses transfer energi baik pun sepertinya terjadi dari percakapan pagi hari itu. Energi baik dari timur itu secara ‘ajaib’ sampai juga ke barat, seperti sinar matahari yang bergerak ke arah yang sama.

SDN Inpres Mandar Pitu merupakan salah satu sekolah dampingan kami bersama sebuah perusahaan makanan selama 9 bulan. Program ini merupakan program pendampingan sekolah dasar yang bertujuan  untuk mendorong perubahan perilaku  hidup bersih dan sehat warga sekolah. Program juga fokus pada implementasi tata kelola sekolah yang diadaptasi dari sistem 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke).

SDN Inpres Mandar Pitu memang sudah menunjukkan perkembangan positif sejak awal program. Kemauan dan kekompakan warga sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru hingga siswa menjadi modal penting dan energi yang tampak tidak habis-habis untuk tetap merawat praktik baik yang sudah dibangun.

Seminggu setelah sapaan pagi itu, salah satu guru kembali mengirimkan foto aktivitas di sekolah. Kali ini foto kepala sekolah, Pak Alimuddin, yang sedang menanam bibit di taman sekolah. Jauh sebelum itu, ketika masih ada pendampingan program, cerita tentang kepala sekolah yang mau dan ikut serta dalam segala aktivitas program bahkan sampai membuat rambu, berkebun dan hal-hal teknis lainnya bukanlah hal yang asing. Pak Alim menjadi ‘motor’ sekaligus contoh langsung bagi warga sekolah. Selain itu, hubungan internal yang harmonis antar dewan guru agaknya juga menjadi kunci terjadinya perubahan baik di sana.

Baca juga: Merawat Masa Depan Di Tengah Pandemi

Ternyata, ketika pandemi terjadi, di saat banyak orang membuat banyak sekali alasan untuk menunda atau bahkan berhenti melakukan sesuatu, SDN Inpres Mandar Pitu tetap mengupayakan menjaga praktik baik yang sudah ada. Saat awal pandemi hingga hari ini, siswa memang belajar di rumah. Namun, guru-guru secara bergantian datang ke sekolah untuk memastikan kondisi sekolah tetap terawat. Setiap hari jumat, guru-guru akan berolahraga bersama dan melakukan kerja bakti. Hal ini tentu dilakukan dengan tetap menjaga protokol pencegahan covid-19.

Maka, tidak heran bila sampai saat ini, ketika pendampingan sudah selesai lebih dari 5 bulan yang lalu, kebun, rambu, dan aktivitas-aktivitas yang masih mungkin dilakukan tetap berjalan. Mari kita tunggu kabar selanjutnya di waktu-waktu mendatang!

Tak jauh dari lokasi sekolah ini, ada sebuah desa yang minim sinyal dimana di sana terdapat salah satu posyandu yang pernah kami dampingi. Posyandu ini juga memiliki energi tak jauh beda dengan SDN Inpres Mandar Pitu. Kemauan dan keterlibatan banyak pihak seperti kader, bidan, PKK dan pemerintah desa menjadikan perkembangan positif terjadi di posyandu ini. Program yang telah usai pada Januari 2020 lalu ini didesain untuk mewujudkan optimalisasi fungsi posyandu bagi ketercukupan gizi balita, menjadi enabler untuk iktikad atau kemauan pihak-pihak tersebut dalam mendukung tumbuh kembang balita di desanya.

SDN mandar Pitu
Semangat Bertindak

Dialah Posyandu Mutiara yang terletak di Desa Sisango. Satu bulan sebelum kabar pagi hari dari SDN Inpres Mandar Pitu, Posyandu ini juga mengirimkan sapaan pagi yang mengabarkan bahwa Hari Buka Posyandu akhirnya dilakukan untuk pertama kalinya sejak pandemi. Menariknya, pada kabar itu diceritakan bahwa semakin banyak ayah balita yang mengantarkan anaknya ke posyandu. Ini merupakan kabar baik karena biasanya persoalan mengurus anak lebih banyak dibebankan ke ibu saja. Padahal, ayah memiliki peranan yang tidak kalah penting bagi tumbuh kembang anak. Mendengar kabar ini setelah setengah tahun program selesai, tentu menjadi energi positif untuk memulai hari.

Jadi bagaimana?

Akankah kita memilih mencari ribuan alasan untuk berkata tidak? Atau justru memilih untuk mau melakukan aksi nyata?

Pilihan ada di tanganmu!

Namun, seseorang pernah berkata, “Bisa dan tidak bisa itu bedanya setipis benang, tetapi mau dan tidak mau, bedanya setinggi gunung”

Mau pilih yang mana?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here