Merawat Masa Depan Di Tengah Pandemi

0
1038

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI tahun 2018, Indonesia memiliki 7 juta anak yang mengalami stunting sebelum pandemi COVID-19 melanda,. Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai negara kelima di dunia dengan balita stunting terbanyak mengacu pada data dari UNICEF. Selain itu, nyaris setengah dari total ibu hamil mengalami anemia karena makanan yang dikonsumsi tidak mengandung cukup vitamin dan mineral (zat gizi mikro) yang diperlukan. Permasalahan tersebut kemungkinan akan memburuk di tengah situasi pandemi COVID-19.

Pelayanan posyandu menjadi salah satu alternatif yang dapat diandalkan untuk mengurangi risiko permasalahan gizi balita yang memburuk di tengah pandemi. Sejak bulan Maret 2020, kegiatan posyandu tidak dilakukan seperti biasa, ada pembatasan kegiatan yang dilakukan. Posyandu hanya dibuka untuk bayi/balita yang membutuhkan imunisasi saja, sedangkan untuk kegiatan pemantauan tumbuh kembang untuk sementara ditiadakan. Keadaan ini berlaku di hampir seluruh wilayah Indonesia, salah satunya Kawasan Relokasi Siosar. Sejak ditutup sementara pada bulan Maret, kegiatan posyandu disana hanya terbatas untuk pelayanan imunisasi saja. Pada saat itu tidak ada kegiatan pemantauan tumbuh kembang seperti penimbangan berat badan ataupun pengukuran tinggi badan.

Hingga akhirnya pada bulan Juli 2020 posyandu kembali dibuka, namun menyesuaikan dengan protokol kesehatan yang harus dipatuhi oleh semua pihak yang terlibat. Tenaga kesehatan atau bidan desa diwajibkan memakai alat pelindung diri lengkap yang terdiri dari baju hazmat, face shield, masker dan sarung tangan. Kader posyandu yang bertugas dan orang tua yang datang diwajibkan menggunakan masker. Namun pada praktiknya tidak semua orang tua yang datang ke posyandu menggunakan masker. Alasannya sangat beragam, ada yang lupa membawa, tidak punya masker dan merasa tidak nyaman saat menggunakan masker.

Kader dan bidan desa salah satu posyandu di Siosar sedang melakukan penimbangan dengan menggunakan APD

Ada peraturan yang dibuat bahwa apabila ada orang tua balita yang tidak menggunakan masker, maka orang tua tersebut diminta untuk pulang dan kembali lagi dengan menggunakan masker. Namun, hal tersebut tidak bisa diterapkan sepenuhnya di Siosar, karena orang tua yang diminta untuk pulang kemungkinan tidak akan kembali lagi ke posyandu disebabkan waktu yang terbatas dan harus segera pergi ke ladang untuk bekerja atau ada kesibukan lainnya. Mengantisipasi hal tersebut, kader yang bertugas memberikan imbauan untuk bulan selanjutnya menggunakan masker ketika datang ke posyandu. Tidak semua posyandu memiliki fasilitas cuci tangan, selain itu ada keterbatasan air untuk cuci tangan, karena air di sana hanya mengalir di jam-jam tertentu saja. Namun, di posyandu tersedia hand sanitizer yang bisa digunakan oleh orang tua balita, kader dan bidan desa.

Baca juga: Garasi (Gagasan dan Kolaborasi): Memulai Dengan “Giziku Untuk Anakku”

Angka partisipasi orang tua yang datang ke posyandu sebelum pandemi selalu di atas 70%, namun saat pertama kali dibuka kembali tidak sampai 50% jumlahnya. Kader posyandu menyampaikan bahwa hal itu terjadi karena ada beberapa orang tua balita yang masih takut dan ada yang belum mendapatkan informasi bahwa posyandu sudah dibuka kembali. Sebelum pandemi terjadi, masyarakat disana memang kurang mendapatkan informasi khususnya tentang kesehatan ibu dan anak, untuk menambah paparan informasi tentang kesehatan ibu dan anak biasanya kader dan bidan desa melakukan penyuluhan secara personal di meja konseling dan penyuluhan kelompok. Namun, saat ini pelayanan posyandu tidak dilakukan dengan sistem 5 meja lagi, hanya meja pendaftaran, penimbangan dan pelayanan kesehatan saja yang berfungsi. Kegiatan penyuluhan yang biasanya dilakukan tidak lagi berjalan. Hal tersebut dilakukan agar pelayanan di posyandu tidak terlalu lama dan menghindari adanya penumpukan orang di dalam ruangan posyandu.

Baca juga: Stakeholder : Teman Tumbuh Masyarakat

Hasil penimbangan pada bulan Juli saat pertama posyandu dibuka kembali, ada balita yang mengalami penurunan status gizi dari normal menjadi gizi kurang. Jumlahnya tidak banyak dan masih lebih banyak balita yang naik berat badannya. Namun, belum semua balita dapat terpantau tumbuh kembangnya, karena masih banyak yang tidak hadir ke posyandu. Hal ini menjadi perhatian kader dan bidan desa di sana, dengan harapan bulan selanjutnya lebih banyak balita yang hadir sehingga bisa terpantau status gizinya. Sebelum pandemi, kader melakukan kegiatan kunjungan rumah kepada balita yang memiliki masalah gizi untuk memberikan edukasi dan penjelasan lebih detail kepada orang tua balita. Tetapi saat ini kegiatan kunjungan rumah belum diperbolehkan, sehingga orang tua yang anaknya mengalami masalah gizi langsung diberikan edukasi dan motivasi agar bisa meningkatkan status gizinya secara bertahap.

Pada masa pandemi ini kita memiliki tantangan baru, karena harus mencegah penyebaran COVID-19 namun tetap memerhatikan upaya-upaya menurunkan angka kematian dan masalah kesehatan bayi. Perlu sinergi dengan seluruh pihak, baik lintas program dan juga lintas sektor agar kegiatan posyandu dapat lebih dioptimalkan, supaya bisa terlaksana dengan tetap menjalankan protokol kesehatan, sehingga di masa pandemi seperti sekarang, bayi dan balita tetap terpantau tumbuh kembangnya. Semoga bayi dan balita tidak melewatkan masa emasnya untuk tetap bisa tumbuh optimal dan dapat menjadi generasi yang unggul di masa depan. (Ria Kesuma Perdani)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here