Meninggalkan Jejak Kebermanfaatan

0
1046

Ada pepatah bilang “Apa yang kamu tuai adalah apa yang kamu tanam”, analogi ini cocok untuk program pemberdayaan masayarakat yang dimulai perjalanannya cukup panjang dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Berangkat dari hal tersebut maka pemberdayaan masyarakat bisa terjadi salah satu caranya dengan adanya pemantik dari luar komunitas namun harus mengajak masayarakat untuk bersama menanam hingga akhirnya menuai bersama hasilnya.

Papan Pengingat

Salah satu sekolah dampingan kami di Kecamatan Katibung, Kabupaten Lampung Selatan memiliki cerita menarik dan mendebarkan. Berawal dari hadirnya pendamping lapangan di bulan Juli 2019, sekolah tersebut didampingi selama 9 bulan hingga April 2020. Sekolah ini merupakan salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Desa Sukajaya, Kecamatan Katibung, Lampung Selatan. Sekolah tersebut dikenal dengan nama SDN Kecil Siring Babaran. Banyak aktivitas yang dilakukan bersama pendamping lapangan program demi mencapai sekolah yang bersih dan nyaman, salah satunya adalah membuat kebun sekolah. Banyak tanaman yang ditanam khususnya tanaman obat keluarga (TOGA), pohon pepaya, singkong dan lain-lain. Kolaborasi juga dilakukan bersama Swepping Lampung Community yang fokus pada lingkungan sekolah dan meminalisir sampah plastik. Awalnya pendamping program hanya memberikan masukan dan perlahan memberikan informasi mengenai manfaat jika ada kebun sekolah karena bisa menjadi salah satu media pembelajaran yang kreatif dan hasilnya juga bisa langsung dikonsumsi semua warga sekolah. Setelah proses pendekatan yang intens akhirnya sekolah berkeinginan membuat lingkungannya lebih asri dengan menanam warung hidup. Bibit tanaman, alat berkebun, pot hingga pagar untuk tanaman disediakan dan dikerjakan secara gotong royong bersama siswa, guru dan masyarakat sekitar sekolah.

Membangun lingkungan yang lebih baik dalam sebuah kelompok masyarakat membutuhkan kepemimpinan yang baik, motivasi yang kuat, rencana yang visible, dan dukungan yang maksimal dari masyarakat itu sendiri. Hal ini termasuk komitmen yang kuat dari setiap individu yang ikut dalam setiap prosesnya, hingga membuat program ini sukses dan berkelanjutan. Peran pemimpin yang “ideal” ini memang sangat subyektif, apalagi jika kepemimpinan itu tidak berasal dari dukungan mayoritas masyarakat itu sendiri. Butuh waktu untuk menyatukan visi dan misi membangun agar selaras sebelum bersama-sama memulai membangun masyarakat tersebut. Sekolah ini merupakan salah satu sekolah yang banyak melakukan perubahan sejak dimulainya program pendampingan, itu semua dimungkinkan karena sosok Pemimpin yang “ideal” untuk perlahan membangun sekolah SDN Kecil Siring Babaran menjadi lebih baik.

Gotong Royong Warga

Sebagai pendamping program, bahagia rasanya saat bulan Juli 2020 lalu, Ibu Sanawiyah (Kepala sekolah di SDN Kecil Siring Babaran) menghubungi kembali dan menyampaikan keberlanjutan program di sekolahnya.

“Program pendampingan ini membuahkan beberapa perubahan terutama kebijakan yang saya keluarkan mengenai penerapan 5S, perilaku PHBS di sekolah dan pemanfaatan lahan sekolah menjadi warung hidup. Setelah beberapa bulan kami ditinggal oleh kalian, barulah kami menuai hasilnya khususnya pohon papaya yang waktu awal program kami tanam bersama. Buahnya tumbuh banyak dan manis, sayang sekali kalian belum sempat mencicipinya langsung.” Ujar Ibu Sanawiyah.

Ibu Sanawiyah

Kami menyadari bahwa Community Development yang berjalan dengan efektif di antaranya ditandai dengan tingginya partisipasi anggota komunitas, adanya peningkatan kemampuan komunitas, dan adanya perubahan sikap komunitas ke arah yang lebih baik sesuai tujuan program. Keberlanjutan yang dimaksud bukan hanya sekedar tercapainya tujuan program namun memastikan keberadaan sumber daya lainnya masih dapat diakses di masa depan.

Berdasarkan cuplikan cerita di atas, Hal yang menarik dalam suatu program pemberdayaan masyarakat adalah komunikasi yang baik sejak awal program hingga berakhirnya program akan menjadi bekal adanya keberlanjutan dalam hal kedekatan personal antara masyarakat dan pemilik program. Komunikasi yang dijaga setelah program selesai membuat masyarakat dampingan merasa masih diapresiasi dan meningkatkan motivasi mereka untuk terus melakukan perubahan yang sudah dipupuk sebelumnya.

Baca juga: Merawat Masa Depan di Tengah Pandemi

Salah satu prinsip pemberdayaan adalah bagaimana individu, kelompok, komunitas berusaha mengontrol kehidupan mereka sendiri dan mengusahakan untuk membentuk masa depan sesuai keinginan mereka (Shardlow,1998). Sehingga, proses tersebut merupakan perjalanan panjang yang tidak akan berhenti walau pendamping program meninggalkan masyarakat tersebut. Merasakan manfaatnya secara langsung bisa menjadi salah satu bahan bakar untuk masyarakat terus melakukan perubahan yang awalnya dipantik oleh pihak dari luar komunitas demi jejak kebermanfaatan yang lebih luas. (Rima Sumayyah Ahmad)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here