Lelah Yang Menyadarkan

0
750

Sebelumnya saya telah membahas tentang betapa melelahkannya menjadi seorang yang mendedikasikan diri demi kemaslahatan bersama, setidaknya itu yang saya lihat dari kisah teman saya.

Rasanya tidak perlu kita memperdebatkan stres yang dialami oleh teman saya, atau mereka, atau mungkin kamu yang bekerja di sektor sosial. Berat sudah barang tentu. Sebagai seorang teman, saya paham betul tanggungan pekerjaan yang harus teman saya selesaikan. Sudah berkali-kali dia mengeluh penat dan kelelahan, meskipun tidak sampai membuat dia menyeletuk, “Capek, pengen nikah aja.”

Poin saya adalah, dia sudah terlihat di ambang batas, dan tidak ada salahnya untuk meminta keringanan, karena apa yang ia kerjakan toh juga di luar tanggung jawabnya.

Mulanya ia berkata, “Ah, ini kan buat hal baik!” Waktunya saya hanya mengangguk dan berusaha memilih kata-kata penyemangat karena dengan tujuan seperti itu rasanya saya harus mendukungnya. Baru saja kata semangat akan keluar dia sudah memotong napas saya dengan berkata, “Tapi, tetep capek!”

Baca juga: Keberlanjutan Para Pejuang Keberlanjutan

Waktu itu hanya pertanyaan, “Kenapa tidak coba bilang ke atasanmu?” yang muncul di pikiran saya. Teman saya tidak menjawab dan diam beberapa saat sebelum berkata, “Ini salahku. Mungkin aku aja yang sedang kebawa emosi, lagi stres biasa aja. Atasan aku juga bilang kalau aku bisa kok ngerjain ini. Mudah katanya buat aku.”

Dahi saya langsung mengernyit, sepertinya reflek, mendengar jawaban teman saya, yang kalau dipikirkan berulang kali tetap tidak terasa benar. Sejak kapan seseorang tidak boleh terbawa emosi? Sejak kapan seseorang dipaksa untuk tidak merasa lelah dengan sugesti bahwa pekerjaan yang ia lakukan merupakan pekerjaan mudah?

Perbincangan ini mengingatkan saya pada sebuah data yang dapat merefleksikan kondisi serupa di sektor kerja sosial dalam lingkup lebih luas.

Hasil penelitian dari Diane Galpin, Annastasia Maksymluk, dan Andy Whiteford yang ditulis di The Guardian mengatakan bahwa dalam praktiknya, pekerja sosial sering dituntut untuk memiliki strategi menangani stress mereka sendiri sehingga keadaan mental mereka tak memengaruhi performa kerja mereka.

Baca juga: Selayaknya Kerja, Sistem Kerja Haruslah Layak

Tidak sebatas itu, penemuan yang lebih menggelisahkan adalah penggunaan konsep ketahanan yang dipakai sehingga permasalahan seolah terfokus pada kesalahan individu, ketimbang sebagai permasalahan sistem yang terjadi di sebuah perusahaan, seperti berkurangnya modal atau konflik internal organisasi.

Dengan konsep ketahanan ini, para pekerja kemudian disalahkan karena dianggap tidak memiliki daya tahan dengan meningkatnya tuntutan pekerjaan, atau ketidakmapuan penanggulangan stres yang baik.

Tekanan Mental Pekerja

Dari survei yang dilakukan Galpin dkk kepada para pekerja sosial, bagi mereka, konsep ketahanan dipahami sebagai sebuah cara dalam merespon kesulitan, sesuatu yang harus diasah dan dikembangkan, seperti kemampuan untuk memulihkan keadaan. Mereka percaya bahwa setiap keadaan sulit dan tidak menguntungkan disebabkan karena kesalahan dan ketidakmampuan individu.

Definisi ini, menurut penelitian Galpin dkk, memaksa para pekerja sosial untuk bisa mengatasi permasalahan emosional mereka sendiri, menggunakan kecerdasan emosional untuk melindungi diri sendiri, hingga berusaha keras supaya tidak terbawa emosi.

Sementara para atasan menyebutkan hal serupa, konsep ketahanan lebih didasarkan pada ketahanan individu, dan bukan pada kebijakan perusahaan itu sendiri. Ketahanan lalu hanya sebatas disamakan dengan “tidak jatuh sakit” atau “tidak mengeluh meski beban kerja meningkat” dan sebagainya.

Baca juga: Kerja dan Kebermaknaan

Pada awal teman saya bekerja sebagai pekerja sosial di tempatnya sekarang, ia selalu membanggakan slogan dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, yang – baginya – sangat mulia dan pantas diupayakan dengan sekuat tenaga, yaitu “tidak ada yang ditinggalkan”.

Bekerja di tempat yang berupaya meningkatkan kesejahteraan tanpa pemenuhan kesejahterannya, apakah masih membuat teman saya optimis dengan slogan yang semula ia bangga-banggakan? Kini kepala saya dipenuhi pertanyaan yang begitu rumit. (Ber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here