Kita Yang Takut Bayangan Sendiri

0
1980

Pagi-pagi saya sudah dibuat gemas sendiri, tidak hanya oleh satu saja tapi dua pokok sekaligus. Yang pertama permasalahan klasik yang selalu meneror saya, yaitu pola tidur yang lebih mirip jadwal dinas Tim Jaguar, itu lho yang kegiatannya sempat jadi tayangan reality show kriminal di layar kaca, yang memberikan kita gambaran betapa perkasanya para penegak hukum dikala bertugas mengamankan situasi jalanan saat malam hari. Ah, pokoknya saya benci kalau masalah klasik ini muncul lagi, bisa seharian kepala saya panas dan jadi uring-uringan tidak jelas juntrungannya.

Tapi kali ini ada membuat kepala saya lebih panas daripada sekedar jadwal tidur yang berantakan, hal tersebut yang menjadi pokok kedua persoalan. Pagi tadi saat rutinitas rapat vitual harian, seorang teman nyeletuk dengan pertanyaan “eh mas, kamu sudah tahu soal anggaran yang sedang ramai dibahas?” Saya lanjut bertanya anggaran soal apa yang dia maksud, maklum kalau urusan anggaran bangsa ini memang sudah terkenal dengan ‘prestasinya’ jadi saya tidak terlalu merasa ada yang aneh. Teman saya lanjut menjelaskan bahwa anggaran yang sedang ramai dibahas tersebut adalah soal Rencana Anggaran Pembelanjaan Negara di tahun 2021, tidak lupa dia juga menyertakan tautan beritanya.

Setelah saya menyimak tautan dari teman saya kepala ini jadi makin berasap, bukan karena emosi, tapi karena berusaha merasionalkan isi berita dalam tautan tersebut. Di sana diceritakan bahwa RAPBN tahun 2021, angka anggaran untuk sektor pembangunan tetap jadi yang paling tinggi, bahkan angka untuk anggaran kesehatan berada jauh di bawahnya. Ini yang mengganggu sekali pikiran saya sampai harus berpikir keras menemukan di mana letak masuk akalnya.

Baca juga: Apa Kabar Produktivitas Penelitian Indonesia?

Saya memang bukan ahli tata negara apa lagi pengamat yang paham membaca dinamika sosial politik, tapi untuk merasa heran dengan isi berita dalam tautan tersebut rasanya kita tak harus jadi ahli. Begini, kita sekarang sedang berada di situasi sulit dan serba tak menentu, kita juga paham penyebab situasi ini adalah sejumput virus yang akhirnya meneror seluruh penduduk bumi.

Jadi hampir semua manusia di muka bumi sudah paham situasinya, walau yang menolak paham tidak sedikit juga. Tapi bagi yang sudah mampu menerima kenyataan, maka sudah pasti paham bahwa persoalan yang jelas di depan mata kita itu  adalah masalah ancaman kesehatan dan keselamatan manusia. Jadi jelas pula di mana letak prioritasnya, ya setidaknya dari kacamata seorang awam lah.

Tapi kalau membaca berita soal RAPBN tahun depan, sepertinya pemerintah kita masih tetap mengutamakan aspek lain, tercermin dari betapa besarnya angka RAPBN di sektor pembangunan. Sikap ini bukan sepenuhnya tak masuk akal, memang hantaman terbesar selain masalah kesehatan adalah masalah ekonomi yang di ambang krisis. Mungkin pihak pemerintah melihat soal ekonomi ini jauh lebih mengancam saat merumuskan RAPBN 2021.

Baca juga: Yang Liar Dari Balap Lari

Tapi melihat situasi belakangan, ancaman krisis kesehatan semakin mendekati batang hidung kita, angka peningkatan jumlah pasien semakin menanjak tiap harinya, sedangkan jumlah fasilitas kesehatan yang menunjangnya semakin berkurang. Jelas permasalahan ini harus segera teratasi sampai setidaknya ramuan penangkal pageblug korona ini ditemukan nanti. Sudah banyak pihak yang menyatakan bahwa soal pageblug ini belum menemukan titik cerah yang pasti, jadi sudah dapat dipastikan akan tetap belangsung sampai waktu yang tak berbatas. Jadi keputusan yang lahir dengan anggapan bahwa di tahun depan ancaman kesehatan sudah selesai sepenuhnya tuntas adalah sebuah tindakan yang tidak bisa tidak disebut gegabah.

Bahaya Mengintai

Dari sini saya teringat kisah guru saya dulu, beliau menceritakan tentang seorang yang selalu ketakutan akan bayangannya sendiri, ia selalu memilih bersembunyi dalam kegelapan karena beranggapan saat dalam kegelapan bayangannya akan pergi meninggalkannya dan tak lagi mengikutinya. Sampai pada suatu saat ia terjebak di dalam sebuah gua yang gelap karena di luar matahari telah menyingsing dan saat itu bayangan yang ia takuti akan kembali muncul mengejarnya, tapi kali itu ia bernasib nahas, gua tempatnya bersembunyi ternyata adalah sarang seekor induk beruang yang akhirnya mencabik orang tersebut hingga tewas, karena ia dianggap mengancam anak-anaknya.

Dari kisah itu saya merasakan ironi yang serupa dengan situasi saat ini, ironi tentang kita yang cenderung ketakutan pada masalah yang sebenarnya dapat kita atasi ketimbang pada ancaman yang secara nyata justru mengancam keselamatan kita. Sungguh hari-hari belakangan saya hanya bisa bertumpu pada doa-doa yang saya panjatkan, harapan agar kita selamat dan disembuhkan, bukan saja dari penyakit di badan tapi juga pikiran, yang kerap membutakan. (Ignavus Canis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here