Kerja dan Kebermaknaan

0
626

Lalu pikiran di kepala saya semakin menumpuk dan menagih untuk segera di telaah sesegera mungkin. Sayapun memikirkan apa yang akhirnya menimpa pada diri saya sendiri.

Bagi saya, hal terburuk yang dapat terjadi dalam pekerjaan saya adalah ketika saya tidak lagi menemukan arti dalam apa yang saya kerjakan. Atau ketika saya tahu apa yang saya lakukan, meski bertujuan baik, ternyata tak memberikan dampak atau kontribusi barang secuil untuk tercapainya tujuan itu. Bagaimana denganmu?

Baca juga: Lelah Yang Menyadarkan

Kecewa karena jerih payah tidak dapat memberi arti apa-apa itu hal yang nyata. Apalagi kalau kita sebetulnya tahu betul apa yang sedang kita lakukan sebenarnya sangat bermanfaat bagi keberlangsungan hidup bersama, setidaknya. Tapi ternyata tidak banyak orang memiliki pemahaman sama. Bahkan tidak jarang di beberapa kesempatan malah sama sekali tidak ada. Rasanya bagaikan semut yang mencoba mendorong gajah.

Belum lagi ketika saya merasa perusahaan saya sudah mulai kehilangan sentuhan idealisme yang sempat awal-awal digelokarakan dan ditawarkan kepada saya. Persoalan demikian mungkin lebih sering dialami oleh mereka yang bekerja di sektor dengan titel kemanusiaan, atau pekerjaan yang bersinggungan dengan soal-soal moral publik, mengingat semua orang pasti punya dan berpijak di atas moralitas masing-masing. Belum lagi ketika sebuah perusahaan harus mulai berkompromi dengan idealisme mereka karena tuntutan pasar.

Baca juga: Keberlanjutan Para Pejuang Keberlanjutan

Sudah tidak se-ideologi, mereka juga tetap dituntut untuk memenhi target. Bagai kehilangan nyawa, mungkin mereka sudah merasa diri mereka robot.

Sayangnya hal ini sangat sulit untuk dihindarkan, harus ada yang dikorbankan, kecuali sebuah perusahaan memang tidak menggantungan keberlanjutan pada modal. Itu bisa menjadi cerita yang berbeda. Mau tidak mau, mereka harus mulai belajar berkompromi.

Dilema Pekerja

Bagi yang bersedia berkompromi, mereka akan bertahan. Tapi ada juga yang kemudian hengkang. Dan ini jumlahnya tidak sedikit.

Lalu bagaimana seorang atasan harus menyikapi hal ini? Bagi atasan yang peduli dan menganggap pekerja adalah aset berharga, pasti akan mencari cara bagaimana membuat para pekerja mereka tetap tinggal, di samping terus berusaha memfasilitasi lingkungan kerja yang kondusif dan nyaman, sehingga para pekerja tidak berhenti bekerja.

Kira & Van Eijnatten (2008) dalam penelitiannya berjudul Human and Social Sustainability in Work Organizations mengatakan jika perusahaan harus benar-benar memahami para pekerja sebagai makhluk utuh, dan di satu sisi mengeksplorasi seluruh aspek yang dapat dikembangkan dan diubah dari mereka.

Dengan kata lain, daripada mencari apa yang memotivasi atau menyemangati para pekerja, Kira & Einjnatten menyarankan nutuk menawarkan sebuah pengalaman bekerja yang dapat berguna bagi perkembangan personal mereka, dan menjaga kualitas yang telah diberikan oleh pekerja.

Baca juga: Selayaknya Kerja, Sistem Kerja Haruslah Layak

Para pekerja sosial telah menggunakan waktu dan tenaga mereka untuk melayani kemanusiaan, maka memberikan lingkungan kerja yang dapat berguna bagi perkembangan mereka, saya rasa, bukanlah hal yang berlebihan. (Ber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here