Keberlanjutan Para Pejuang Keberlanjutan

0
315

Sebagai pekerja sosial tentu meningkatnya kualitas dan kesejahteraan hajat serta hidup adalah hal yang paling didambakan, termasuk oleh pekerja sosial yang berfokus pada upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Bagi mereka, tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan di tahun 2030 lebih penting dari apapun.

Saking pentingnya, ini membuat mereka rela untuk mengupayakan banyak hal, bahkan bersusah payah pun jadi hal yang lumrah. Para pejuang keberlanjutan ini nampaknya paham betul betapa pentingnya cita-cita yang mereka bawa untuk keberlangsungan hidup manusia, dan mengapa itu semua perlu diketahui dan menjadi perhatian lebih banyak orang.

Baca juga: Selayaknya Kerja, Sistem Kerja Haruslah Layak

Teman saya adalah salah satu dari mereka. Ia adalah pejuang keberlanjutan, seorang pekerja sosial yang mengupayakan agar akses pendidikan lebih merata khususnya bagi anak-anak di pedesaan.

Ia habiskan banyak waktunya (bahkan tak jarang di akhir pekan) untuk berpikir; bagaimana cara yang paling tepat untuk mengupayakan perubahan? Memperjuangkan isu-isu pembangunan itu sudah jelas bukanlah perkara mudah.

Otak harus diputar berkali-kali supaya masyarakat luas – setidaknya – mau mengetahui dan mempelajari isu dan semangat yang diperjuangkan. Hanya menyasar di tahap kesadaran saja, katanya, luar biasa susah, apalagi membuat masyarakat luas bergerak? Alhasil, malam pun bagi dia tak lagi ada bedanya dengan siang. Ia gelontorkan segenap waktu, tenaga, dan pikiran untuk nama kemanusiaan, katanya.

Terkadang saya jadi dibuat heran, lupakah dia kalau dia juga manusia yang pantas untuk dijaga dan diperhatikan, meski oleh dirinya sendiri, karena tidak jarang saya dapat kabar kalau dia jatuh sakit, mulai dari sekadar migrain hingga demam tipus. Sudah pasti biangnya adalah pekerjaan!

Baca juga: Lelah Yang Menyadarkan

Saya percaya ada banyak orang baik di dunia, sebab itu saya yakin orang seperti teman saya ini jumlahnya banyak. Tapi satu pertanyaan buat teman saya atau mereka, apakah mereka memperhatikan keberlanjutan (setidaknya saja) diri mereka sendiri ketika mereka mengupayakan keberlanjutan kehidupan yang di luar dirinya?

pekerja sosial
Beban Kerja Sosial

Meski mengatasnamakan kemanusiaan, tapi tetap saja yang namanya bekerja di sebuah perusahaan, untuk dapat bertahan pekerja harus memenuhi target agar dapur perusahaan tetap mengepul, dan agar senyum, hati, dan perasaan si pemilik modal dapat dijaga.

Padahal bagi teman saya, progres dari sebuah perjuangan tidak bisa terlihat dalam waktu semalam, dia sudah sangat paham jika proses tersebut membutuhkan waktu lama. Setidaknya itu bagi dirinya. Namun para pemilik modal terakadang tak bisa menunggu lama, tak sedikit juga yang tidak paham bahwa apa yang sedang diperjuangkan merupakan permasalahan mengakar yang sudah menjalar bertahun-tahun lamanya.

Teman saya terkadang hanya bisa menghela napas panjang.

Di saat yang bersamaan pekerjaan mereka dipengaruhi oleh banyak faktor yang selalu bergerak secara dinamis tak ada presedennya. Mereka adalah garda terdepan perubahan, sekaligus salah satu sektor paling rentan. Karenanya, bagi teman saya, mengupayakan keberlanjutan bersamaan dengan hanya berusaha bertahan terkadang bukanlah perkara mudah.

Baca juga: Kerja dan Kebermaknaan

Terlebih lagi di situasi serba tidak menguntungkan seperti saat ini, tidak sedikit para pekerja sosial justru dipaksa dan ditekan untuk bekerja tanpa dukungan yang memadai, tidak sedikit yang harus mempertaruhkan nyawa.

Sebelum ada pagebluk, menjadi pejuang keberlanjutan bagi teman saya sudah terasa seperti jalan dengan kaki terseok. Kini, ia seperti menjadi orang yang dipaksa untuk berlari, meski masih dengan kaki yang terseok dan jauh dari pulih.

Bagi saya ini terasa seperti sebuah ironi, dengan bekerja dengan pola demikian berarti teman saya seperti sedang mengkhianati perjuangannya sendiri. (Ber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here