Bahagia Tidak Perlu Menunggu

0
1223

Pernahkah kamu termenung dan bertanya pada dirimu sendiri, apa itu bahagia? Tiap-tiap orang pasti memiliki definisi bahagia mereka masing-masing. Bagi saya, pertanyaan itu bukan pertanyaan mudah! Butuh waktu yang cukup lama bagi saya untuk benar-benar mengetahui makna dari menjadi bahagia. Sampai sekarang pun sepertinya saya belum tahu? Kamu sudah?

Saya bertanya pada banyak orang dan kebanyakan dari mereka menjawab jika mereka merasa bahagia kalau mereka bisa mencapai atau mendapatkan apa yang mereka inginkan. Contohnya, teman saya akan merasa bahagia jika ia dapat diterima di tempat kerja impiannya, atau ia mendapatkan beasiswa di luar negeri di sekolah yang sudah lama ia dambakan.

Pekerjaan Impian

Mungkin mereka merasa bahagia karena merasa kerja keras mereka terbayar. Lalu, apakah usaha pencapaian tujuan yang dilakukan selain bukan dengan kerja keras (ya, kalau di game misalnya dengan cheating) akan mengurangi rasa bahagia mereka?

Bagaimanapun itu, saya tidak terlalu nyaman menggantungkan kebahagiaan saya kepada pencapaian tujuan-tujuan itu. (Bukan berarti definisi mereka salah, lho!) Tapi bahagia seperti itu bagi saya berarti, pertama, kebahagiaan harus dicapai dengan penderitaan terlebih dahulu. Kedua, berapa lama kebahagiaan itu dapat bertahan sebelum tujuan baru muncul lagi (lagi pula mana pernah kita sebagai manusia berhenti ingin dan berharap?), yang artinya kita harus bersiap-siap untuk menyongsong penderitaan baru. Ketiga, terlalu berorientasi pada tujuan di masa depan (belum lagi segala cemas dan kegelisahan yang menyertainya) membuat kita tidak fokus di masa sekarang. Kita jadi tidak bisa hadir di masa saat ini.

Padahal di artikel sebelumnya, berdasarkan konsultasi saya dengan Kak Sus, untuk hidup tenang dan bahagia, maka setidaknya saya harus hadir di masa saat ini.

Tapi apakah artinya saya tidak bisa merencanakan apa-apa, dan hidup benar-benar tanpa tujuan?

Saya akhirnya kembali berkonsultasi lagi.

Kak Sus langsung menjawab, tidak. Ada cara untuk tetap fokus di masa sekarang dengan tetap memiliki tujuan.

Baca juga: Ini Salah Satu Sumber Rasa Tidak Bahagiamu

Jika beberapa waktu lalu Kak Sus menjelaskan kepada saya melalui pendapat Eckhart Tolle di buku Power of Now, kali ini ia menggunakan analogi yang dibuat oleh Tal Ben-Shahar.

Tal Ben-Shahar menggunakan analogi seorang pendaki gunung. Bagi seorang pendaki gunung, kebahagiaan tidak terletak ketika ia sudah berhasil mencapai puncak gunung, bukan juga ketika ia berputar-putar di kaki gunung tanpa tujuan yang jelas.

Pendaki gunung tidak akan merasa puas ketika ia dapat mencapai puncak gunung tapi dengan helikopter atau bukan dengan jerih payahnya. Sebab itu, menurut Tal Ben-Shahar, kebahagiaan seorang pendaki gunung justru terletak di usaha pendakiannya.

Pendaki

Proses mendaki ini adalah proses di mana para pendaki hadir dan fokus dengan apa yang saat itu ia harus hadapi, dan dari sanalah mereka mendapatkan kebahagiaan.

Begitu katanya. Kalau bisa saya simplifikasi sih pada intinya, yang terpenting, kita harus menikmati prosesnya.

Tidak mudah memang, namun buat apa menggadaikan kebahagiaan untuk sesuatu yang belum pasti akan terjadi di masa depan?

Masa-masa sulit seperti saat ini (baca: pandemi, hehe) dapat menjadi ilustrasi paling riil. Berbulan-bulan pandemi ada di tengah-tengah kita, dan kita rupanya masih berharap kebahagiaan dapat diraih hanya setelah pandemi usai, sayangnya itu membuat kita menjadi hanya terpaku pada kegelisahan, kesedihan, dan akhirnya mengurangi produktivitas kita.

Ini bukan masa yang mudah, kita semua tahu. Setiap orang membutuhkan waktu untuk memproses perubahan yang terjadi. Setiap orang membutuhkan waktu untuk merasakan semua rasa yang tidak bisa dielakkan. Tapi, tidak ada salahnya untuk mencoba fokus dengan apa yang ada di piring kita saat ini, apa boleh buat pandemi adalah kenyataan kita. Tidak ada cara lain untuk belajar menerimanya, dan berusaha hidup berdampingan dengannya.

Jika tetap menggantukan kebahagiaan pada berakhirnya pandemi, mau sampai kapan kita menunggu untuk bahagia? (Ber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here