Apa Kabar Produktivitas Penelitian Indonesia?

0
1217

Pernah tidak kalian barang beberapa menit di satu hari merenung dan memikirkan negara, kenapa ya Indonesia rasanya kok gini-gini aja kabar produktivitas penelitian ilmiahnya? Bisa dibilang mungkin ketika pikiran itu muncul saya sedang iri dengan kondisi di negara lain. Emang sih, rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. Atau mungkin saya kurang baca dan tidak tahu banyak pembangunan yang sedang dilakukan negara kita. Kemungkinan besar iya.

Tapi, boleh dong bagi saya untuk tetap punya pikiran demikian ketika mengetahui data dari World Bank yang menunjukkan kalau Pendapatan Nasional Bruto (GNI) per kapita Indonesia dalam dollar Amerika di tahun 1969 gak kalah jauh dengan negara seperti Korea 240, Malaysia 350, bahkan China 110, Indonesia sendiri 70.

Baca juga: Mager Dosa Besar?

Di tahun 2019, kondisinya sudah jauh berbeda. Pada tahun 2019 Korea sudah mencapai 33.720, Malaysia 11.200, China 10.410, dan sedangkan Indonesia hanya di angka 4.050 dan bertengger di peringkat 118.

Jadi, kita sebenarnya sudah ngapain saja? Kok hasilnya gitu-gitu saja? Kok bisa sejauh itu ketinggalannya?

Padahal saya yakin, Indonesia sudah berupaya, pakai banget (walaupun jarang terdengar oleh saya, mungkin karena sayanya saja yang kurang baca, hehe). Tapi, saya percaya negeri kita diisi oleh orang-orang anti-gabut dan mager. Semua orang pekerja keras (setidaknya sebagian besar orang-orang yang saya tahu, sih). Misalnya saja kamu yang kerja di Ibukota, berangkat pagi, pulangnya pagi lagi. Kerja kerasmu sudah tidak diragukan lagi. Tapi, hidup terkadang terasa jauh dari perubahan. Mungkin begitu juga yang dialami oleh Indonesia kita yang tercinta.

Kenapa? KENAPA? Kurang produktif apalagi kita?

Faisal Basri, seorang Ekonom Senior menjelaskan ada dua elemen besar dalam produktivitas, yaitu tenaga kerja dan modal. Kalau boleh saya ibaratkan modal dan tenaga kerja itu bagaikan tungku kayu. Kalau produktivitas meningkat, maka kita membutuhkan bahan bakar lain yang dapat membuat api stabil dan dapat lebih panas. Kita bisa menambahkan bahan lain atau bahkan mengganti kayu, dengan gas misalnya.

Menurut Faisal Basri, untuk mengoptimalkan produktivitas maka tenaga kerja dan modal haruslah diberi sentuhan teknologi. Dari salah satu pemaparannya di video yang diunggah di Youtube dengan judul “Saatnya Bangun Ekonomi dengan Otak, Ga Cuma Otot”, menggunakan data dari Asian Productivity Organization tahun 2019, disimpulkan bahwa kurva produktivitas Indonesia dari tahun 1995 hingga 2017 lebih sering negatif dibandingkan positif.

Kurva positif hanya terjadi di tahun 2000 hingga 2010. Dijelaskan dalam video kalau ini disebabkan karena pada tahun itu produktivitas Indonesia mendapat sentuhan teknologi. Sebelum tahun 2000 mungkin kita bisa memahami kenapa produktivitas Indonesia negatif, yaitu karena Indonesia mengalami krisis moneter pada tahun 1998. Tapi hasil yang ditunjukkan produktivitas Indonesia selama tahun 2010 hingga sekarang meninggalkan pertanyaan besar.

indonesia dan penelitian

Saya lagi-lagi akhirnya cuma bisa bertanya, walau cuma di dalam hati, kok bisa gitu?

Kata Faisal Basri, ini ada hubungannya dengan pemanfaatan teknologi yang jauh dari kata cukup. Indonesia sampai saat ini bisa dibilang masih pelit untuk mengalokasikan uangnya untuk kebutuhan riset dan pengembangan (Research and Development, R&D). Pada tahun 2018, anggaran untuk R&D hanya sebesar 0,2263 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB).

Meski terlihat sedikit, tapi mencapai angka itu adalah hal yang patut disyukuri, lho! Berdasarkan data dari World Bank, tahun 2013 ke belakang bahkan anggaran R&D Indonesia tidak mencapai nol koma, tapi masih nol koma nol.

Saya tahu dibanding-bandingkan itu tidak enak. Tapi ya… kalau dibandingkan dengan negara yang memulai start hampir sama dengan Indonesia, misalnya Republik Korea, pada tahun 2018 mereka menyisihkan anggaran untuk R&D sebesar 4,8101 dari PDB mereka. Padahal jumlah PDB Indonesia dengan Republik Korea saja pasti sudah berbeda.

Beberapa petinggi negara memang pernah ambil sikap perihal hal ini. Dilansir dari detik.com, Jusuf Kalla menyebutkan jika anggaran R&D masih sedikit Karena Indonesia saat ini memiliki kebutuhan nasional yang begitu banyak. Apakah ini berarti, R&D bukanlah kebutuhan?

Sementara itu, dilansir dari detik.com Bambang Brodjonegoro, selaku Menteri Riset, Teknologi dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional menyebutkan ada permasalahan lain. Bambang menyebutkan jika saat ini anggaran R&D Indonesia untuk saat ini lebih banyak berasal dari pemerintah, sebesar 80 persen. Sementara swasta masih sangat sedikit, yaitu hanya sebesar 20%. Lebih lanjut Bambang menjelaskan jika sumber anggaran riset harus lebih banyak dari swasta. Karena, katanya, swastalah yang tahu kebutuhan pasar, dan tahu apa yang masyarakat, kita, butuhkan. Sementara kalau diambil-alih oleh pemerintah, maka anggaran tidak akan efektif dan malah terbentur oleh birokrasi.

Bagaimana menurutmu? Seberapa butuhkah sebenarnya Indonesia akan anggaran R&D? Dan kalau butuh, siapa yang seharusnya menganggarkannya?

Bagaimanapun jawabannya, tiap orang atau pihak sudah pasti memiliki pandangannya masing-masing. Namun satu hal yang pasti adalah Indonesia gak bisa gini-gini saja. Sesuatu harus dilakukan, sesuatu harus diubah. (Ber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here