Transformasi Program Pengembangan Masyarakat: Sebuah Insight untuk Antisipasi Masa Paska Pandemi

0
1019
Mitra Program di Deli Serdang

Covid-19 mengakibatkan dampak yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya pada seluruh sektor kehidupan, program pengembangan masyarakat tak terkecuali. Dalam sektor Pendidikan, misalnya. Sejak WHO (World Health Organisation) resmi mengumumkan Covid-19 sebagai pandemik global pada bulan Maret lalu, telah ada 180 negara yang menerapkan kebijakan tutup sekolah. Akibatnya, lebih dari 1.2 milyar anak dan remaja di seluruh dunia terdampak langsung (UNESCO, Juni 2020). Dengan ditutupnya sekolah, terjadi ketidaksetaraan dalam pendidikan yang dilatar belakangi beberapa hal:

  1. Tidak meratanya kemampuan guru dan siswa dalam melakukan pembelajaran jarak jauh, 2. Ketersediaan infrastruktur pembelajaran digital yang tak sama di setiap daerah,
  2. Kurangnya kemampuan sekolah dalam menjaga kesehatan fisik dan mental siswa selama masa pandemi

Lalu bagaimana dengan kondisi Indonesia? Tercatat ada lebih dari 80 juta anak di Indonesia yang terdampak kebijakan pemerintah untuk menutup sekolah, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), serta pelayanan kesehatan (Kompas, Juni 2020). Selain itu, kondisi geografis Indonesia yang beragam, memberikan tantangan yang lebih besar dari segi kesiapan pembelajaran digital selama masa pandemi. Alhasil, kualitas pembelajaran semakin tidak merata.

Mari sekarang kita lihat dari sektor kesehatan. Masa pandemi ini menunjukkan secara nyata pentingnya investasi yang serius dalam bidang kesehatan. Betapa fasilitas kesehatan diperlukan, serta pentingnya para pekerja di bidang kesehatan. Selain itu, kolaborasi berbagai pihak dalam upaya meningkatkan pelayanan kesehatan selama masa pandemi ini menjadi sebuah pembelajaran tak ternilai. Kita menyaksikan bagaimana komunitas, civil society, sektor privat, bahkan perorangan dapat bahu membahu berkontribusi membantu para tenaga medis untuk menyediakan pelayanan terbaik serta membantu meringankan pekerjaan mereka.

Baca juga: Akuntabilitas Personal (Self-Accountable) : Sebuah Modal Untuk Tetap Bertahan di Tengah Pandemi

Meski dampak langsung dari penyebaran virus Covid-19 sudah jelas dirasakan banyak pihak, dampak jangka panjang pandemi ini masih menyimpan banyak ketidakpastian. Oleh karena itu, kemampuan mengantisipasi perubahan sekali lagi terbukti menjadi skill yang sangat diperlukan untuk dapat bertahan dan merespon situasi ini dengan baik.

Sebagai pelaku program pengembangan masyarakat, misalnya. Selama pandemi mobilitas menjadi sangat terbatas; bukan tidak ada sama-sekali. Terbatasnya pertemuan tatap muka, jadwal terbang pesawat serta alat transportasi lain, menambah peliknya mobilitas para pelaku pekerjaan ini untuk sekadar memberikan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Belum lagi, secara tiba-tiba kita harus membiasakan diri dengan bekerja secara jarak jauh dengan teknologi yang saat itu belum terlalu kita kenal dan kuasai. Namun sebagai manusia, tak salah jika dikatakan bahwa sifat alami kita adalah beradaptasi. Menyesuaikan perilaku dan mengubahnya sesuai dengan situasi dan kondisi. Ruang lingkup pekerjaan di bidang pemberdayaan masyarakat juga terdorong dan wajib ikut beradaptasi.

Berikut beberapa hal yang sekiranya perlu diperhatikan oleh para pekerja di bidang ini dalam melakukan program paska pandemi :

  1. Pengambilan Keputusan yang Berdasarkan Data

Situasi pandemi telah menunjukkan betapa perubahan yang terjadi bersifat tidak dapat diprediksi secara absolut. Namun demikian, data yang ada dapat membantu kita menyiapkan keputusan kebijakan yang paling mendekati tepat. Social Distancing sebagai upaya “menurunkan” kurva prevalensi yang dikomparasikan dengan kemampuan tenaga medis, adalah salah satu contoh pengambilan keputusan berdasarkan data.

Dalam program pengembangan masyarakat dimana assessment secara langsung ke daerah menjadi tidak mungkin dilakukan, sehingga kemampuan melakukan remote assessment menjadi sangat penting. Studi literatur dan desk research misalnya, menjadi salah satu solusi untuk mendapatkan data guna membantu organisasi/ perusahaan mengambil keputusan. Di situasi ini pun, para pemimpin juga dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan data yang ada baik secara global maupun kondisi mikro di setiap daerah.

2. Antisipasi Alternatif dan Solusi

Data yang telah terkumpul dan dianalisis, akan membantu proses penyusunan alternatif yang bisa diambil. Para pemimpin perlu memperhitungkan berbagai macam kemungkinan yang terjadi, sehingga alternatif perlu dibuat lebih dari satu. Alternatif ini juga perlu mengantisipasi penundaan pelaksanaan program, modifikasi pendekatan, atau bahkan keputusan untuk menghentikan program sama-sekali jika memang hasil analisa dan kondisi mengharuskan demikian. Satu yang paling utama, dalam kondisi pandemi ini kita diajarkan untuk mengedepankan kesehatan dan keselamatan sebagai prioritas utama, termasuk dalam membuat alternatif dan solusi

3. Kembali Fokus pada Model yang Berbasis Masyarakat (Kolaborasi dan Kemitraan)

Sebagai sebuah pandemi global, kita telah menyaksikan sendiri bagaimana kolaborasi berbagai pihak dalam komunitas berdampak baik bagi upaya penekanan penyebaran virus Covid-19. Selain itu, pandemi juga menunjukkan bahwa tindakan komunal (bukan individual) adalah salah satu solusi yang paling bisa menekan penyebaran virus ini. Dengan demikian, setelah pandemi ini berakhir, para pelaku pengembangan masyarakat harus tetap menekankan pada komunitas betapa pentingnya kekuatan koordinasi dan kemitraan dalam tubuh masyarakat. Lagi lagi kita ditunjukkan bahwa masyarakat adalah aktor kunci yang dapat menyelesaikan permasalahan mereka dengan kekuatan kolaborasi antar-individu dalam komunitas itu sendiri.

4. Berfokus pada Pemberian Layanan yang Berkelanjutan

Sulitnya mobilitas selama masa pandemi adalah tantangan terhadap supply chain. Akibatnya, distribusi barang ke masyarakat ikut menjadi terhambat. Karena itu penting untuk menggunakan bahan/ sumber materi yang dihasilkan secara lokal. dengan kata lain, memperpendek jalur distribusi dari sumber material kepada konsumen, sehingga masyarakat tidak perlu mengalami kesulitan  yang disebabkan mobilitas.

5. Investasi Infrastruktur Teknologi Digital serta Kemampuan Menggunakan Teknologi

Dalam situasi mobilitas yang sangat terbatas, teknologi adalah solusi yang dapat melipat jarak dan perbedaan waktu sehingga manusia tetap dapat terhubung. Namun perlu disadari kesiapan fasilitas dan kemampuan individu satu dengan yang lain berbeda. Belum lagi mempertimbangkan kondisi geografis Indonesia serta ketidakmerataan infrastruktur internet, listrik, serta fasilitas lain yang mendukung proses digital terjadi. Oleh karena itu, investasi kesiapan infrastruktur dan kapasitas manusia terhadap teknologi digital perlu disiapkan secara lebih serius. Baik itu bagi para penerima manfaat di lapangan, maupun para pelaku program.

Baca juga: Garasi (Gagasan dan Kolaborasi): Memulai Dengan “Giziku Untuk Anakku”

Situasi pandemi telah memaksa kita semua untuk berpikir di luar kebiasaan sebagai respon untuk dapat beradaptasi. Maka, paska pandemi, tuntutan kita untuk berpikir kreatif akan semakin diperlukan karena segala sesuatu telah berubah. Program pendampingan sudah saatnya menggunakan kombinasi antara pendekatan tradisional, serta juga bisa memanfaatkan teknologi yang ada untuk kemudahan melakukan program.

7. Protokol Kesehatan dan Keselamatan dalam Setiap Tahapan Program

Kebiasaan hidup bersih dan sehat memegang peranan kunci dalam menekan penularan dan penyebaran Covid-19 selama masa pandemi. Kita tak akan pernah tahu apakah virus ini akan kembali lagi atau bertransformasi ke bentuk lain, serta virus lain yang akan muncul di masa depan. Karenanya, para pelaku program pengembangan masyarakat harus memperhatikan aspek protokol kesehatan dan keselamatan dalam desain dan pelaksanaan program pendampingannya. Selain itu, masyarakat penerima manfaat juga perlu diedukasi mengenai protokol ini. Rencanakanlah protokol kesehatan, terapkan, sebarkan informasinya, ajarkan pihak lain yang mungkin belum mengetahui lebih dalam, kemudian perbaharui terus sesuai dengan perkembangan kondisi. Terakhir, jadikan protokol hidup bersih dan sehat ini menjadi kebiasaan baik di kantor maupun di lapangan, bahkan setelah masa pandemi Covid-19 ini telah berakhir.

Insight ini kami dapatkan dari pembelajaran melakukan program pendampingan masyarakat selama masa pandemi. Praktiknya tidak semudah menuliskannya, namun yakin bahwa ini bisa diwujudkan. Semoga insight ini dapat bermanfaat dan membantu para pengelola program maupun community worker dalam mengantisipasi perubahan setelah pandemi ini berakhir. Segera. (Cahya Wulandari)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here