Semangat Yang Dipantik Berbuah Praktik Baik

0
493

Merujuk pada prinsip pengembangan masyarakat yakni partisipatif dan berkelanjutan, penting sekali untuk memahami bahwasanya pekerja komunitas hanya menjadi pemantik dalam proses pengembangan masyarakat. Pekerja komunitas bukan superhero yang akan, atau bisa menyelesaikan semua permasalahan yang ada di wilayah sasaran program. Justru, peran aktif yang lebih dominan harus dilakukan oleh masyarakat/kelompok sasaran untuk menumbuhkan rasa memiliki/sense of belonging atas program tersebut.

Gagas Inspirasi Nusantara dalam program-program pengembangan masyarakat yang dikelolanya, mendapatkan catatan-catatan menarik terkait praktik baik, dimana program dijalankan dengan kesadaran dari masyarakat sasaran. Dimulai dari prosesnya, Gagas Inspirasi Nusantara merekrut, melatih dan menempatkan pekerja komunitas yang disebut fasilitator untuk mendampingi program tersebut. Pada program pendampingan sekolah dasar, fasilitator program bertugas untuk mendampingi para pihak di  sekolah dasar dalam penerapan dan pembiasaan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat). Sedangkan, pada program pendampingan kader posyandu, fasilitator program bertugas untuk meningkatkan kapasitas kader posyandu untuk optimalisasi peran kader posyandu dan pelayanan hari buka posyandu.

Baca juga: Alasan Mengapa Kamu Harus Peduli Dengan Stunting

Pada praktik lapangannya, fasilitator sebagai pekerja komunitas yang diutus mendampingi sasaran program, bertugas untuk menstimulus aktor-aktor agar dapat aktif dalam program. Di sekolah dasar, proses ini melibatkan kepala sekolah, guru, dan siswa dalam menjalankan program yang sesuai dengan kebutuhan sekolah. Tidak menutup kemungkinan adanya keterlibatan pihak luar seperti komunitas, orang tua, bahkan stakeholder lain seperti kepala desa maupun dinas kesehatan. Kolaborasi para pihak dalam pelaksanaan program menunjukkan perubahan perilaku dan pembiasaan PHBS di lingkungan sekolah. Seperti, kepala sekolah membuat kebijakan hari makan bekal bersama setiap minggunya. Dalam kegiatan tersebut, guru membantu proses penyampaian informasi kepada siswa yang ditunjuk sebagai duta program. Para duta program ini akan bertugas dalam patroli pemeriksaan bekal yang sesuai dengan kaidah gizi seimbang. Beriringan dengannya, guru juga mengedukasi siswa lain dan orang tua mengenai gizi seimbang. Kebijakan dan strategi ini bertujuan untuk mendukung pembiasaan PHBS di sekolah pada salah satu poin program yaitu konsumsi makanan sehat.

Selain itu, ada edukasi terkait PHBS yang dilakukan oleh guru kepada duta program, yang nantinya para duta program ini akan melakukan peer education kepada sebayanya. Praktik baik penerapan PHBS lainnya seperti melakukan senam bersama secara rutin, melakukan operasi semut untuk menjaga kebersihan lingkungan sekolah dan pembiasaan cuci tangan pakai sabun sebelum makan atau setelah beraktivitas. Di beberapa daerah sasaran program, terdapat sekolah yang melibatkan warga sekitar sekolah dan pemerintahan setempat untuk dapat mendukung penerapan PHBS. Pelibatan tersebut berupa penertiban pedagang sekitar sekolah dan membuat aturan untuk mengurangi penggunaan sampah plastik.  Kolaborasi dilakukan guna mendukung ekosistem sekolah yang saling berkesinambungan dalam pembiasaan penerapan PHBS.

Pada program pendampingan kader posyandu, para kader diberikan pelatihan-pelatihan mengenai administrasi posyandu, pelayanan 5 meja, cara melakukan penyuluhan, gizi seimbang dan kesehatan ibu dan anak. Perubahan yang nampak seragam terjadi di seluruh wilayah program adalah terorganisirnya sistem layanan 5 meja pada hari buka posyandu.

Sebelum diberikan pendampingan, kader hanya mengenal meja penimbangan dan meja untuk mendapatkan makanan tambahan. Namun, saat ini sudah menerapkan sistem 5 meja mulai dari pendaftaran, pengukuran dan penimbangan, pencatatan, penyuluhan dan pelayanan kesehatan (oleh petugas kesehatan). Praktik baik lainnya adalah makanan tambahan yang awalnya berupa makanan instan seperti snack atau susu kental manis. Kini, dibuat menjadi makanan olahan yang bergizi seperti pudding buah, bubur kacang hijau, sup sayur, nugget pisang kelor dan lainnya. Selain hal itu, para kader sudah mulai percaya diri untuk melakukan penyuluhan individu atau kelompok pada peserta posyandu. Pesan-pesan yang disampaikan berisi mengenai status gizi dan kesehatan ibu dan anak.

Baca juga: Agar Citarum Kembali Harum

Praktik baik yang terjadi pada kedua program tersebut, tidak serta merta terjadi, pencapaian tersebut didukung oleh beberapa hal, yakni:

  1. Fasilitator program memetakan potensi dan kebutuhan kelompok sasaran program.

Proses pemetaan potensi dan kebutuhan yang dilakukan dengan melakukan penyesuaian dalam proses pembelajaran pada setiap kelompok sasaran. Bentuk penyesuaian seperti waktu pelaksanaan pendampingan atau pelatihan, modifikasi media pembelajaran saat pelatihan dan cara penyampaian materi kepada kelompok sasaran program sehingga strategi yang diambil dapat menjawab kebutuhan masyarakat

  1. Semangat belajar dan kemauan berubah dari kelompok sasaran.

Semangat dan kemauan ini terlihat dari antusiasme mereka dalam keterlibatan program. Seperti, para guru yang berkenan untuk menambah waktu pembelajaran diluar waktu KBM (kegiatan belajar mengajar) kepada para duta program agar mengerti dan dapat menerapkan PHBS. Pada program posyandu, para kader posyandu dengan sukarela meluangkan waktu ditengah kesibukan sebagai pekerja/ibu rumah tangga untuk tetap terlibat dalam pelatihan atau pendampingan program.

  1. Dukungan dari pihak lain diperlukan untuk memperluas jejaring dan memperkuat sistem yang sudah dibangun oleh kelompok sasaran program.

Dukungan yang berasal dari lokal aktor diharapkan menjadi modal untuk kelompok sasaran program agar tetap melakukan praktik baik secara berkelanjutan.

Harapan terjadinya praktik baik yang berkesinambungan bisa terwujud jika semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program memiliki tujuan dan semangat yang sama. Mengingat kembali, bahwa community development merupakan proses yang panjang dan dinamis maka seorang pekerja komunitas harus mampu menjaga semangat dan antusias para pihak agar tetap konsisten melakukan praktik baik. Sejatinya, proses panjang ini akan berbuah manis jika para pihak saling mendukung dan belajar dari satu sama lain. (Sari Lestari)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here