Merintis Kemandirian demi Masyarakat Berdaya

0
844

The story is the Land, and the Land is the story, the story holds the people, and the people live inside the story, the story lives inside the people, and the Land lives inside the people also.  It goes all ways to hold the Land.

(Turner, 2010:45)

 

Bagi masyarakat, cerita terkait spiritualitas, gagasan tanah kelahiran dan kemanusiaan, kaitannya sangat esensial dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-harinya. Seperti kata pepatah pula, dimana bumi dipijak, disitulah langit dijunjung. Fakta ini menjadi satu catatan penting bagi para pekerja komunitas/community worker, bahwa faktor lokalitas daerah adalah hal yang sangat perlu dipertimbangkan dalam melaksanakan pemberdayaan masyarakat.

Tidak sedikit ditemukan program-program sosial yang tidak dilanjutkan oleh masyarakat lokal. Berbagai faktor mulai dari dana, konteks program, hingga yang paling mendasar adalah kepemilikan program. Sederhana, namun penting. Meskipun program community development yang datang menjawab permasalahan di tengah masyarakat, jika community worker tidak berhasil untuk tumbuh rasa kepemilikannya, maka tidak perlu berharap praktik baik yang sudah ada akan berlanjut. Definisi keberlanjutan bukan hanya sekedar tercapainya tujuan program, namun memastikan keberadaan sumber daya lainnya masih dapat diakses di masa depan.

Keberlanjutan program baru bisa berjalan jika masyarakat sudah mandiri dan percaya bahwa mereka juga berdaya. Intervensi program yang dilakukan sebelumnya, harus mampu menekankan masyarakat lokal sebagai unit tindakan dan mencoba menggabungkan bantuan dari pihak luar melalui usaha lokal yang terorganisir (Ross dan Lappin). Masyarakat lokal diposisikan sebagai subjek, yang kemudian dipertemukan dengan gambaran kebutuhan, masalah, maupun potensi dari daerah dan masyarakatnya. Instrumen perubahan dititikberatkan pada masyarakat lokal, sebagai bentuk kepemimpinan lokal daerah. Di titik keberlanjutan inilah, artinya kita sudah merintis kemandirian masyarakat tersebut sebagai komunitas yang berdaya, dan menyadari potensinya.

Salah satu penanda efektifitas program adalah tingginya partisipasi anggota dari komunitas serta peningkatan kapabilitas komunitas dan sikap ke arah yang lebih baik. Proses awal program berjalan, ketika menentuan kebutuhan dalam program. Ada dua cara yang bisa dilakukan, pertama, dengan keyakinan bahwa komunitas itu memenuhi kebutuhan mereka, dan kedua adalah komunitas harus dapat mendefinisikan kebutuhan mereka sendiri daripada didefinisikan oleh orang lain. Kebutuhan berkaitan erat dengan proses asesmen, dimana permasalahan, potensi, dan juga ha-hal esensial bagi lokasi tersebut dipetakan dan ditemukan. Hasil asesmen bertujuan agar perancangan program yang nantinya sesuai dengan kebutuhan, dan bukan hanya keinginan masyarakat, atau pihak tertentu. Setelah mendapatkan gambaran dan data dari hasil asesmen, selanjutnya dibuat suatu desain program intervensi, implementasi program, monitoring evaluasi program dan terminasi program. Proses dari hulu ke hilir, yang di setiap prosesnya selalu disertai dengan konteks dan konten masyarakat sebagai subjek program.

Baca juga: Garasi (Gagasan dan Kolaborasi): Memulai Dengan “Giziku Untuk Anakku”

Jika prosesnya sudah berjalan dengan baik, tantangan berikutnya adalah saat pendamping program pergi dari komunitas. Perasaan kehilangan masyarakat sering diartikan sebagai nostalgia untuk suatu cita-cita yang tidak pernah benar-benar ada, dan akhirnya muncul sebagai impian bersama. Sehingga sejak awal program berjalan, penting sekali untuk memupuk rasa kepemilikan yang kuat terhadap program pengembangan masyarakat yang dijalani bersama.

Sumber : Dok. PPSB Lampung Selatan, 2019

Salah satu strategi yang bisa dilakukan adalah dengan selalu melibatkan masyarakat dalam aktivitas. Proses pelibatan ini jadi jalan untuk mengakomodir keinginan masyarakat sambil membukakan jalan bagi community worker untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat. Sebab jika masyarakat sudah percaya dan menjadi bagian dari program, maka proses perubahan akan lebih mudah terjadi dan berkelanjutan.

Kebanyakan masyarakat lokal memang perlu merasakan terlebih dahulu manfaat program sebelum bisa melangkah ke tahapan keberlanjutan. Jika masyarakat sudah merasa program memiliki manfaat, mereka tidak segan untuk mempertahankan bahkan meningkatkan praktik baik tersebut. Sebagai contoh, pada pendampingan Posyandu Sehat dan Berdaya di lingkungan Posyandu Siring Babaran, Kecamatan Katibung, Kabupaten Lampung Selatan. Pendampingan posyandu ini dilakukan selama 6 bulan oleh Gagas Inspirasi Nusantara dengan fokus pada pelibatan kader dalam kegiatan Posyandu. Agar program bisa terus berjalan meski pendampingan nanti selesai, perlahan namun pasti, pendampingan melibatkan kader, puskesmas dan pemerintah desa untuk bersama memperbaiki ekosistem posyandu demi tercapainya balita yang lebih sehat di masa depan. Salah satu perubahan yang tercapai adalah adanya kebun gizi di lingkungan gedung Posyandu. Bibit tanaman berasal dari lingkungan rumah kader dan ibu balita yang secara gotong royong menyumbang dengan sedikit bantuan dari luar  sebagai pemantik. Setelah beberapa bulan program pendampingan selesai, kebun tersebut menjadi warisan yang masih dijaga dan berkembang menjadi lebih baik untuk memenuhi gizi makanan tambahan balita di Posyandu tersebut.

Baca juga: Stakeholder: Teman Tumbuh Masyarakat

Inisiatif dan kemauan melanjutkan program ini hadir karena masyarakat merasakan adanya manfaat pendampingan Posyandu. Penambahan ilmu tentang ibu dan bayi, penambahan skill teknis dan administratif, serta tentunya penjagaan terhadap perkembangan kesehatan bayi dan balita. Kebermanfaatan mereka ungkapkan dengan aksi yang masih berlanjut sampai sekarang dengan menanam dan menuai panen kembali secara mandiri.

Berangkat dari hal tersebut maka pemberdayaan masyarakat bisa terjadi dengan adanya pemantik dari luar komunitas yang berkolaborasi dengan aktor lokal dalam memenuhi kebutuhan masyarakat itu sendiri. Proses pembangunan supporting sistem ini menjadi wadah saling mengenal dengan pihak luar dan menemukan peluang kolaborasi untuk menguatkan ikatan antar masyarakat. Perlu disadari dengan cara ini, komunitas diperkuat dan modal sosial ditingkatkan. Pendamping masyarakat bisa mengambil setiap kesempatan untuk saling memperkenalkan satu sama lain, menciptakan ruang bagi orang untuk berbicara, mencoba membuat kegiatan kelompok yang bertujuan meningkatkan rasa kebersamaan dan menumbuhkan rasa saling membutuhkan dalam lingkaran komunitas tersebut. Harapannya supporting sistem yang dibangun dari awal program community development dapat membantu menciptakan modal sosial dan memperkuat ikatan komunitas dengan cara yang memungkinkan pengembangan komunitas lebih jauh berdaya di masa depan. (Rima Sumayyah Ahmad, Project Officer PT Gagas Inspirasi Nusantara)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here