Akuntabilitas Personal (Self-Accountable) : Sebuah Modal Untuk Tetap Bertahan di Tengah Pandemi

0
1731

Pernahkah anda ada dalam situasi yang tidak sesuai dengan rencana? Atau mengalami hal buruk yang tidak menguntungkan? Kebanyakan dari kita, mengikuti naluri manusia, mudah sekali untuk memposisikan diri sebagai korban. Sekuen lanjutannya mudah untuk ditebak, yaitu menyalahkan orang lain maupun lingkungan sekitar sebagai penyebab masalah. Padahal kenyataannya, tidak semua kejadian di dunia ini diakibatkan oleh lingkaran di luar diri kita sendiri.

Kondisi ‘blaming others’ ini bukanlah hal yang bisa dibenarkan. Seharusnya, jika anda berada dalam kondisi seperti ini, harus mengedepankan sikap yang disebut self-accountable. Self accountable didefinisikan sebagai kondisi saat  kita memilih untuk bertanggung jawab atas segala hal yang terjadi pada diri sendiri, baik itu kejadian yang menyenangkan maupun kejadian buruk. Kondisi ini tidak berarti kita menyalahkan diri sendiri ataupun selalu berupaya mengontrol segala sesuatu. Perlu dipahami terlebih dahulu bahwa kita tidak dapat mengontrol semua hal, tetapi kita selalu bisa memilih bagaimana merespon sesuatu yang sedang terjadi.

Sekuen rasa ini bisa diilustrasikan dengan siklus berikut :

Copyright ©2011 IMPAQ ® Accountability – Based ® Improvement – system

Saat ini, kita semua berada dalam situasi yang sebenarnya tidak menguntungkan. Dari pemilik perusahaan, pengusaha, sampai anak sekolah sekalipun merasakan dampak pandemi. Namun, kita selalu bisa memilih untuk sekadar menjadi korban atau mengambil tanggung jawab untuk menghadapinya. Secara global, sudah banyak keputusan yang diambil untuk menghadapi pandemi ini. Keputusan itu sangat penting, tetapi tidak cukup berarti bila masing-masing individu justru memilih menyepelekannya.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk bisa lebih ‘waras’ berada di tengah kondisi tidak menguntungkan seperti ini :

  1. Recognize

Pertama, sadari dan kenali apa yang sedang terjadi. Lakukan dengan tenang, agar segala fakta yang ditemukan bisa dicerna dengan baik. Informasi bisa ditemukan dengan kerangka 5W1H (why, who, when, where, which, dan how) mengenai pandemi yang sedang terjadi,

  1. Own

Take ownership. Meyakini bahwa saat ini sedang pandemi, menimpa semua orang di dunia, dan saya adalah bagian dari apa yang sedang terjadi.

  1. Forgive

Menerima dan ‘memaafkan’ kondisi serta tidak menyalahkan sekitar. Memahami bahwa menyalahkan sekitar tidak membuat pandemi berakhir,

  1. Self – examine

Periksa dan menyadari kondisi diri sendiri baik fisik, mental, sosial, keuangan maupun spiritual terkait dengan pandemi yang sedang terjadi. Jangan ragu meminta bantuan kepada keluarga atau teman terdekat untuk membantu jika dirasa sulit membaca diri sendiri,

  1. Learn

Dari hasil memeriksa kondisi diri, pelajari hal-hal yang dapat dilakukan untuk dapat bertahan dan menjaga kondisi tersebut agar tetap optimal. Pastikan hal-hal ini adalah sesuatu yang dapat kita kontrol,

  1. Take action

Lakukan hal-hal yang telah dipelajari dengan disiplin.

Memilih dan melakukan self-accountable di tengah pandemi mungkin tidak semudah menuliskannya. Tubuh perlu waktu menyesuaikan diri dengan kondisi dan perlakuan yang baru. Jadi, wajar saja bila pada mulanya kita panik dan bingung, terlebih dengan jam terbang yang masih minim. Sehingga, waktu yang dibutuhkan setiap orang untuk dapat berpindah dari fase satu ke fase yang lain pun tentu berbeda, dan itu sah-sah saja selama tidak terus terjebak pada kepanikan maupun ketakutan akibat pandemi.  Apalagi sampai berbuat hal yang merugikan orang lain yang sama-sama sedang dalam kesulitan.

Bagaimana caranya agar tidak terjebak pada kepanikan? Kembali lagi, kita dapat gunakan langkah-langkah di atas untuk mengenali apa yang membuat panik berlebih, dan apa yang dapat dilakukan untuk mengelolanya. Identifikasi hal apa saja yang membuat panik dan bagian mana yang dapat dikontrol.

Sebagai contoh :

  1. Saya panik ketika mendengar informasi jumlah kasus Covid-19 yang terus meningkat. Penyebaran informasi tersebut tentu tidak dapat kita bendung. Hanya saja, kita dapat memutuskan informasi mana saja dan berapa banyak frekuensi informasi yang hendak kita konsumsi setiap harinya,
  2. Saya panik ketika tidak dapat berinteraksi dengan orang lain. Penyebaran Covid-19 yang cukup cepat membuat kebijakan pembatasan fisik paling gencar dan langsung membatasi banyak pertemuan. Namun tentu saja kita tidak dapat semena-mena mengubah kebijakan tersebut. Bila kita abai ataupun menyepelekan, justru risiko penularan akan semakin besar. Maka, hal pertama yang dapat dilakukan adalah berdamai dengan kebijakan tersebut. Kedua, carilah alternatif lain agar tetap terhubung dengan orang lain.

Apakah suatu hal baru yang kita pelajari dan lakukan ini selalu berhasil?

Tentu saja tidak. Ada kalanya satu solusi berhasil dalam satu kali percobaan, ada kalanya harus mencoba berulang kali, atau bahkan harus mencari solusi lain.

Baca juga: Garasi (Gagasan dan Kolaborasi): Memulai Dengan “Giziku Untuk Anakku”

Apakah strategi yang kita lakukan bisa cocok untuk orang lain.

Belum tentu. Bisa jadi cocok, bisa jadi tidak. Itulah mengapa, penting bagi setiap individu dapat melakukan self-examine/pengecekan mandiri terhadap kondisi masing-masing, sebelum menentukan langkah apa yang akan diambil. Sebab kondisi individu satu dan lain bisa dipastikan tidak ada yang sama/sangatlah beragam.

Mari kita lihat dari sudut pandang teori. Proses belajar ataupun menemukan hal baru bagi orang dewasa digambarkan dalam Adult Learning Cycle di bawah ini :

Siklus ini sangat erat aplikasinya di kondisi pandemi saat ini. Bagaimana dunia meresponnya, memunculkan ragam kondisi yang mendorong individu untuk memperluas zona nyamannya, sekaligus mendorong proses belajar manusia untuk tetap bisa bertahan. Dan sadar tidak sadar, self-accountability kita diuji sebagai salah satu modal dasar untuk memulainya.

Baca juga: Merintis Kemandirian Demi Masyarakat Berdaya

Self accountability tidak hanya perlu dipraktikkan di tengah pandemi ini saja. Pada jangka panjang, ia akan membentuk kita menjadi manusia yang lebih dewasa, sehat secara mental, dan berfikir lebih mindfull.

Beberapa hal ini bisa anda coba untuk membangun self-accountability:

  1. Bangunlah visi jangka panjang, sehingga bila ada hambatan yang terjadi, maka akan lebih mudah dan lebih cepat mencari alternatif lain untuk mencapai visi tersebut,
  2. Pandanglah segala sesuatu tidak hanya dari sudut pandang masalah, tetapi juga melihat peluang yang dapat diambil,
  3. Berani memperluas zona nyaman sehingga tidak terjebak pada satu kondisi dan mampu lebih tanggap dalam menghadapi sesuatu,
  4. Berani mengambil risiko dan tidak takut berbuat kesalahan

Apapun kondisi anda, baik di masa pandemi ataupun tidak pademi, menjadi waras dan bijak menentukan pilihan adalah hal yang sangat penting. Jadi, selamat mencoba! (Umarotun Niswah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here