Mendengar Penyintas Kekerasan Seksual

0
395

Bagi kamu yang sedang kecewa dan geram dengan kabar bahwa RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) dikeluarkan dari Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas 2020, mari kita berpelukan dan bergandengan tangan, karena saya merasakan hal yang serupa. Sulit untuk tidak menganggap dicabutnya RUU PKS dari Prolegnas mengartikan bahwa perjuangan untuk memberikan keadilan bagi para penyintas kekerasan seksual serta upaya untuk menghilangkan segala bentuk kekerasan seksual belumlah dianggap sebagai prioritas dan kepentingan mendesak, walau data menunjukkan fakta yang sebaliknya, terlebih lagi di masa pandemi Covid-19 saat ini.

Karena pandemi, kita diimbau untuk tetap di rumah. Beruntungnya jika kamu masih menganggap rumah sebagai tempat untuk pulang dan sumber kenyamanan. Momen ini dapat kamu gunakan untuk berkumpul dan menghabiskan waktu bersama orang terkasih. Namun, beda ceritanya bagi mereka yang menganggap rumah tidak lebih dari sekadar tahanan di mana mereka mendapat kekerasan hingga pelecehan. Pandemi tentu menjadi sebuah momen yang berkali lipat menyeramkan. Dan sayangnya, masih banyak yang mengalami dan merasakannya.

Baca juga: Memulihkan Citarum Harus Dimulai, Sekarang!

Beberapa data menunjukkan bahwa jumlah kekerasan seksual meningkat selama pandemi. Data dari Komnas Perempuan misalnya, data menunjukkan bahwa selama pandemi mereka menerima laporan 319 kekerasan dengan aduan paling banyak adalah soal kekerasan seksual. Meskipun dikatakan perempuan dan anak merupakan subjek terbesar, bukan berarti kekerasan seksual hanya terjadi pada perempuan dan anak. Mungkin banyak yang belum menyadari bahwa kekerasan seksual dapat terjadi pada siapa saja, kepada kamu, teman terdekat kamu, keluarga kamu, orang-orang tersayang kamu, tanpa membedakan gender, usia, bentuk tubuh, bahkan baju apa yang saat itu dipakainya.

Semua orang berisiko menjadi korban kekerasan seksual, lalu pandemi Covid-19 datang, seharusnya ini menjadi momen yang membuat pengesahan RUU PKS tidak bisa lagi ditawar. Dalam pelaporan kasus kekerasan seksual, penyintas sering kali mendapatkan perlakuan yang cenderung diskriminatif, direndahkan, disudutkan, bahkan balik disalahkan. RUU PKS seharusnya bisa hadir sebagai sebuah RUU yang dapat mencegah itu terjadi, tidak hanya berpihak pada penyintas, namun juga memperjuangkan pemulihan hak-hak korban. RUU ini juga menguraikan secara lengkap sembilan jenis kekerasan seksual yang tidak dijelaskan secara rinci dalam RKUHP.

Namun sepertinya kita harus menghela napas dan bersabar entah sampai kapan karena pengesahan RUU PKS masih menjadi sebatas angan.

Seperti yang kita tahu, kekerasan seksual dapat meninggalkan luka yang mendalam hingga trauma berat bagi para penyintas. Membuka diri dan membagikan apa yang telah dialami bukanlah hal yang mudah bagi penyintas kekerasan seksual lakukan. Rasa sulit atau bahkan takut untuk sekadar bercerita dapat menjadi refleksi bahwa ruang yang ramah dan tidak diskriminatif bagi para penyintas belum tersedia.

Disadari atau tidak, kerap kali kita belum bisa menempatkan diri kita sebagai pendengar yang baik padahal seperti yang sudah saya katakan di atas, bercerita bukanlah soal sekadar, bercerita menjadi hal yang sangat sulit bagi para penyintas, namun kerap kali mereka justru mendapatkan respon yang tidak layak. Kita sering abai dan tidak berusaha memosisikan diri sebagai mereka, alih-alih respon yang keluar dari mulut kita justru respon yang bersifat menghakimi dan menyalahkan.

Baca juga: Agar Citarum Kembali Harum

Akan tetapi, memilih respon yang tepat bukanlah perkara mudah bagi sebagian orang. Oleh karena itu, berikut adalah beberapa contoh respon rekomendasi dari RAINN yang dapat kamu ucapkan ketika ada seorang penyintas yang bersedia untuk bercerita.

“Aku percaya dengan apa yang kamu katakan. Pasti membutuhkan keberanian yang besar buat kamu untuk cerita soal ini. Terima kasih telah berbagi denganku.” Sering kali alasan mengapa para penyintas enggan bahkan tidak mau menceritakan apa yang mereka alami karena mereka merasa malu atau bahkan mereka takut orang-orang di sekitarnya tidak percaya dengan apa yang mereka alami dan menganggap mereka mengada-ada. Tugas kita adalah memberikan mereka respon kalau kita percaya dan meyakinkan kepada mereka bahwa kita tidak akan mempermalukan dan menyudutkan mereka.

“Ini bukan salah kamu. Kamu tidak melakukan kesalahan apapun sehingga kamu bisa mengalami ini semua.” Acap kali penyintas kekerasan seksual sering disalahkan atas apa yang terjadi pada diri mereka. Tidak jarang hal ini membuat mereka turut menyalahkan diri mereka dan pada akhirnya memengaruhi kesehatan mental mereka. Kita harus meyakinkan dan mengingatkan mereka bahwa apa yang terjadi pada mereka bukanlah kesalahan mereka.

“Kamu tidak sendirian. Aku peduli sama kamu. Aku di sini dan aku akan mendengarkan atau membantu kamu sebisa mungkin.” Beri tahu kepada para penyintas jika mereka tidak sendiri dalam situasi ini. Beri tahu mereka kalau mereka memiliki teman yang akan membantu dan mendukung mereka.

“Maaf ya, ini semua terjadi sama kamu. Ini seharusnya tidak terjadi pada kamu. Kamu tidak pantas mendapatkan ini.” Pahami bahwa apa yang terjadi pada penyintas bukanlah hal yang mudah dan telah memengaruhi hidup mereka secara drastis. Tunjukkan rasa empatimu dengan mengingatkan mereka bahwa mereka tidak seharusnya layak menerima kekerasan seksual.

“Kamu bukan apa yang sudah terjadi pada diri kamu.” Perasaan trauma yang dialami penyintas sering membuat mereka malu dan tidak percaya diri, bahkan tidak menyukai diri mereka sendiri. Tugas kita adalah mengingatkan mereka bahwa apa yang terjadi pada mereka tidak mendefinisikan siapa mereka dan tidak akan memengaruhi cara pandang kita terhadap mereka.

Ketika para pembuat kebijakan belum memberikan telinga yang menampung perjuangan pemulihan hak penyintas kekerasan seksual, maka ada satu hal yang setidaknya bisa kita lakukan untuk para penyintas, yaitu menjadi pendengar yang baik, menjadi tempat bagi mereka untuk bercerita, memberikan mereka ruang yang nyaman dan aman. (Ber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here