Alasan Mengapa Kamu Harus Peduli Dengan Stunting

0
658

Tulisan ini akan mengulas soal stunting, sebelum kamu beranjak dan memutuskan untuk menyudahi membaca kalimat berikutnya karena merasa masalah ini tidak berhubungan dengan kamu, pertimbangkan sekali lagi keputusanmu. Mungkin kamu merasa kamu sudah tidak anak-anak dan tidak merasa mengalami stunting. Walau demikian, permasalahan stunting masih tetap menjadi ancaman, setidaknya jika kamu berencana untuk memiliki anak, atau jika kamu berencana membangun bisnis kelak di kemudian hari, atau jika kamu menginginkan negeri kita maju dan ingin hidup lebih nyaman kelak di kemudian hari, maka saya rasa kamu harus perhatikan permasalahan ini.

Sedih rasanya saya harus menulis ini satu hari setelah kita merayakan hari anak. Persoalan stunting adalah persoalan serius yang terjadi di lintas kalangan dan mendesak untuk segera ditemukan solusinya. Seserius itu, karena permasalahan stunting berhubungan dengan sumber daya manusia seperti apa yang akan kita miliki kelak. Otomatis berhubungan dengan calon pekerjamu di masa depan kalau kamu memandangnya dalam relasi produksi, atau orang-orang yang bakal mengisi sektor publik ketika kamu sudah tua.

Secara singkat, merujuk pada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), stunting adalah gangguan pertumbuhan sekaligus perkembangan pada anak-anak yang terjadi karena mereka mengalami gizi buruk dalam waktu yang lama.

Baca juga: Lekas Sembuh Bumi (Atau Kita)

Berdasarkan Survei Status Gizi Balita Indonesia pada tahun 2019, dikatakan bahwa 28 dari 100 anak-anak di Indonesia mengalami stunting. Kita patut prihatin, sebab berdasarkan data dari Bank Dunia di tahun 2019, angka ini bukanlah angka yang baik dibandingkan dengan prevalensi dari negara-negara berpenghasilan menengah lain di dunia.

Fakta tidak mengenakkan lainnya soal stunting di Indonesia datang dari Sri Sukotjo, seorang Spesialis Nutrisi dari UNICEF. Melalui acara KompasTalks bekerja sama dengan Tanoto Foundation dengan tajuk “Pentingnya Nutrisi, Stimulasi, Proteksi, dan Evaluasi 1000 Hari Pertama Kehidupan”, ia mengatakan bahwa saat ini di Indonesia terdapat 144 juta anak yang mengalami stunting. Tidak berhenti di situ, stunting menjadi permasalahan di setiap provinsi di semua golongan sosial ekonomi.

Berbicara mengenai stunting bukan hanya menyoal kekurangan gizi, namun juga mencakup persoalan kompleks lain seperti layanan kesehatan, juga kesehatan lingkungan, seperti akses terhadap sanitasi, termasuk di lingkungan dan keluarga seperti apa anak tinggal dan tumbuh. Stunting juga bukan penyakit genetik, maupun penyakit yang bisa dideteksi secara cepat.

Karena kompleksitasnya, seorang ahli gizi, Rita Ramayulis mengatakan perlu terciptanya upaya bersama dalam memutus mata rantai stunting dengan membangun kepedulian yang befokus pada 1.000 hari pertama Kehidupan (HPK). Tambahnya, fase ini merupakan fase penting karena jika seseorang mengalami permasalahan gizi pada usia ini maka kondisinya tidak akan bisa diperbaiki di kemudian hari.

Maka dari itu, untuk memutus stunting perlu dimulai sejak usia remaja, usia pranikah, hingga masa subur seorang wanita. Ini adalah sebab mengapa ditekankan di awal bahwa permasalahan stunting adalah permasalahan penting buat kamu khususnya bagi yang memang berencana memiliki anak. Untuk itu, tidak ada salahnya kamu mulai mengecek kembali pola makanmu, apakah kamu sudah makan makanan yang cukup bergizi atau cuma makan hati saja selama ini? Hehehe.

Menjaga pola makanmu memang perlu, namun itu belum cukup.

Dikatakan jika pola asuh keluarga secara signifikan juga berpengaruh pada tumbuh kembang anak. dr. Soejatmiko, seorang konsultan tumbuh kembang pediatri sosial di Ikatan Dokter Anak Indonesia mengatakan, kalau anak tidak hanya butuh nutrisi, namun juga stimulasi, dan proteksi dari lingkungan tempat ia tinggal.

Baca juga: Mendengar Penyintas Kekerasan Seksual

Anak membutuhkan nutrisi untuk tumbuh kembang otak, anak juga membutuhkan vaksiin sebagai perlindungan diri dari ancaman penyakit. Namun selain dua hal itu, anak juga membutuhkan stimulasi berupa kasih sayang, pengarahan, contoh baik dari orang-orang di sekitar, khususnya orang tua juga.

Tapi sulit rasanya mendidik orang tua, apalagi “menyekolahkannya”? Mungkin kamu juga mulai memaklumi atas sikap orang tuamu yang kamu rasa sering tidak benar saat mendidik atau bersikap di depan kamu karena mereka tidak pernah belajar menjadi orang tua. Lalu bagaimana caranya menjadi orang tua yang baik dan penuh kasih sayang jika saya pun juga masih belajar?

Di sinilah mengapa kolaborasi semua pihak diperlukan, termasuk peran swasta. Salah satunya adalah apa yang dilakukan oleh Tanoto Foundation yang mengambil peran dengan menjalankan berbagai program yang bertujuan untuk mengurangi stunting dengan memperbaiki kualitas pengasuhan dan akses untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang berkualitas.

Di program ini para orang tua dapat belajar mengenai kesehatan anak, gizi, proses awal belajar, dan pengasuhan sehingga mereka bisa memberikan stimulus yang ‘baik’ seperti disebutkan sebelumnya.

Program ini dibagi menjadi empat bagian, pertama adalah memberikan kesempatan bagi orang tua utuk bermain bersama dengan anak. Lalu sesi grup, yang memberikan kesempatan bagi orang tua untuk belajar bagaimana caranya mengasuh anak dengan baik. Setelahnya ada sesi individu, dan terakhir adalah kunjungan rumah yang dilakukan oleh orang terlatih. Program ini telah dilakukan di beberapa kawasan dan nantinya akan dikembangkan di kawasan lain.

Apa yang dilakukan Tanoto Foundation merupakan langkah strategis yang patut dilakukan juga oleh pihak lain, hanya jika kita menginginkan kehidupan kita di masa depan lebih baik atau setidaknya jika kita berencana untuk memiliki keturunan. Tidak ada anak yang pantas lahir dalam kondisi, sebab itu memastikan anak mendapat nutrisi yang baik, tumbuh lingkungan yang sehat, serta mendapat cukup kasih sayang merupakan hal dasar yang perlu kita sedikan. (Ber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here