Memulihkan Citarum Harus Dimulai, Sekarang!

0
500

Ada seorang teman yang bercerita mengenai pengalamannya memancing di sungai Citarum yang konon merupakan salah satu sungai termahsyur pada zamannya. Satu kali pancing, ia mendapat bungkus plastik makanan. Dua kali pancing, ia mendapat sampah plastik botol. Untuk yang ketiga kalinya, yang terpancing adalah amarahnya. Hehe.

Kesal sudah pasti, tapi lebih dari itu ia juga heran. Kenapa air sungai yang bukan lagi cokelat tapi menghitam, kadang merah, bahkan terkadang biru seperti warna air laut, kan itu sama seperti mencuri identitas air laut? Warna air sungai Citarum bahkan terkadang tak bisa diidentifikasi karena permukaannya tertutup oleh tumpukan sampah. Kenapa? Kok bisa? Begitu tanya teman saya.

Kalau kamu bertemu dengan teman saya, pasti kamu sudah geregetan untuk memberitahu dia kalau perubahan warna di sungai Citarum disebabkan karena limbah industri dan timbunan sampah yang tersebar di sekitar sungai. Kamu akan terheran-heran sambil memandang teman saya, “Begitu saja kok tidak tahu?”

Baca juga: Agar Citarum Kembali Harum

Mungkin teman saya memang betul-betul tidak tahu, atau mungkin sebenarnya dia sangat tahu betul dan karena itu dia heran. Meski kita semua tahu akibat buruk yang ditimbulkan dari mengalirkan limbah industri tanpa proses pengolahan, mengapa kita tetap melakukannya? Mengapa kita tidak mencegahnya? Mengapa kita tidak melakukan sesuatu? Bau tidak sedap sungai Citarum yang mengusik hidung seharusnya bisa membuat kita berhenti menutup mata.

“Tapi, tapi.. tidak semudah itu!” Celetuk seseorang di belakang teman saya. Ia memakai baju yang cukup rapi meskipun tidak formal. Mukanya lesu, sepertinya ia baru saja pulang kerja. Ia menghampiri kami dan bercerita. Sebagai seseorang yang bermukim di sekitar sungai Citarum, tentu ia tidak suka dengan keadaan ini. Tercemarnya sungai Citarum telah mengganggu pemandangan matanya bahkan kesehatan masyarakat sekitar sangat dipertaruhkan. Namun permasalahan ini bukan persoalan sepele.

Saat ini ada banyak masyarakat di sekitar sungai yang hidup atas upah yang mereka dapat dari bekerja di pabrik-pabrik yang sayangnya secara perlahan telah menghancurkan tempat tinggal mereka. Menutup pabrik-pabrik itu lalu bukanlah menjadi alasan paling bijak mengingat ada ribuan orang yang menggantungkan kebutuhan hidupnya dengan bekerja di sana.

Menurut data dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, ada sekitar 2.800 pabrik di sekitar sungai Citarum. Yang menjadi masalah adalah mereka belum memiliki instalasi pengelolaan air limbah (IPAL) yang baik. Ini menyebabkan sebanyak 280 ribu ton limbah cair masuk ke sungai Citarum. Jumlah ini belum dengan 1.500 ton sampah domestik rumah tangga yang terbuang bebas ke sungai. Limbah tidak hanya mencemari lingkungan namun juga makhluk hidup yang tinggal di dalamnya, ikan-ikan misalnya. Mengonsumsi ikan-ikan tersebut dapat berbahaya bagi kesehatan. Untung teman saya tadi gagal mendapat ikan!

Sejak tahun 2017, melalui program Citarum Harum, pemerintah dan TNI sudah berusaha merevitalisasi sungai Citarum, salah satunya adalah dengan menertibkan pabrik-pabrik yang selama ini menjadi penyumbang limbah untuk sungai Citarum. Mulanya berupa teguran. Satgas Citarum Harum sudah menempuh upaya persuasif hingga preventif tapi tidak sedikit pabrik-pabrik yang masih bebal. Mereka membuang limbah saat malam hari ketika warga terlelap atau ketika tidak ada orang yang berlalu lalang di sekitar tempat pembuangan limbah.

Untung saja anggota Satgas Citarum Harum mendapati mereka melakukan itu saat patroli malam. Mau tidak mau akhirnya mereka harus menutup saluran pembuangan limbah dengan melakukan pengecoran sebagai upaya lokalisir. Kata mereka cara ini efektif karena dengan menutup saluran pembuangan limbah, secara otomatis pabrik-pabrik tidak bisa melakukan produksi. Upaya lokalisir ini akan dihentikan jika pabrik-pabrik itu memiliki IPAL yang baik dan dapat menghasilkan air limbah yang sesuai dengan baku mutu.

Untuk sekarang pengecoran menjadi sebuah upaya yang mungkin dibilang efektif, namun itu saja tidak cukup. Permasalahan sungai Citarum tidak hanya sekadar limbah cair yang dihasilkan oleh pabrik namun lebih banyak dan rumit dari itu. Sudah banyak tahun Citarum tercemar, penyebab dan konsekuensi yang berhubungan dengan pencemaran saat ini pasti sudah berakar.

Baca juga: Berdaya Lewat Ekonomi Bottom-Up

Oleh karena itu, solusi yang dibutuhkan tidak bisa hanya bersifat reaksioner dan represif, namun juga preventif. Gagasan ini mungkin akan terdengar klise di telinga kamu, tapi tidak ada cara lain selain mengupayakannya bersama-sama. Semua orang harus terlibat aktif, memulai dari diri sendiri, namun juga harus didampingi lewat edukasi.

Tapi bagaimana caranya kontribusi kita tidak berhenti di tatanan teori? Di lain waktu saya akan ceritakan kisah perjuangan teman saya yang bergelut dengan problematika sungai Citarum di hari-harinya.

Yang perlu kita semua sadari dan ingat saat ini adalah, Citarum mengalir hingga 297 kilometer panjangnya, sungai ini telah menopang kehidupan 27 orang yang hidup di Jawa Barat dan DKI Jakarta, sebagian bahkan bergantung dengannya. Meski langkah kita tidak akan membawa perubahan secara instan, tapi perubahan yang hanya bisa dicapai dalam jangka panjangpun tak akan terwujud bila tidak dimulai-mulai.

Kata-katanya agak rumit ya? Intinya, mulai sekarang. (Ber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here