Inovasi Tangani Situasi

0
516

Di film-film sains, biasanya sebuah malapetaka atau bencana terjadi ketika orang-orang tidak percaya dan tetap ngeyel dengan peringatan yang diberikan oleh para ilmuwan. Untungnya dan leganya, masih banyak kok orang yang mendengarkan dan mempercayai para ilmuwan dan hasil riset berbasis data. Bukti kecilnya, sekarang kita masih patuh menaati anjuran untuk tinggal di rumah karena kita percaya ini akan mengurangi laju penyebaran virus. Banyak negara-negara mulai mengerahkan dan mendorong para ilmuwan terbaiknya untuk mengmbangkan vaksin Covid-19. Inovasi-inovasi teknologi juga mulai digalakkan untuk membantu mencegah penyebaran hingga penanganan para pasien terinfeksi Covid-19.

Indonesia tidak kalah juga, dong!

Pada tanggal 3 Mei 2020 lalu, Menteri Riset dan Teknologi atau Kepala Badan Riset dan Inovasi (BRIN), Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoto baru saja menjelaskan update terkini mengenai apa saja kemajuan yang telah dicapai oleh Tim Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 Indonesia.

Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 Indonesia ini merupakan inisitiaif Kemenristek/BRIN yang bertujuan untuk membantu percepatan penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia. Konsorsium ini melibatkan banyak pihak, mulai dari lembaga penelitian, perguruan tinggi, penelitian dan pengembangan Kementerian Kesehatan, BUMN, sektor swasta, hingga berbagai start-up di bidang kesehatan.

Nah, dalam laporannya kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Prof. Bambang menyampaikan kalau saat ini ada beberapa hasil dari riset yang telah mereka lakukan. Tentu ini bisa jadi asupan kabar baik untuk kita semua!

Baca juga: Rebahlah, Kamu Terlihat Lelah

Mereka mengelompokkan inovasi teknologi yang mereka kembangkan menjadi empat kelompok besar, yaitu Pencegahan, Skrining dan Diagnostik, Alat Kesehatan dan Pendukungnya, dan Terapi.

Inovasi Skrining dan Diagnostik

Dari kelompok skrining dan diagnostik, tim konsorsium telah melakukan pengembangan test kit yang dibagi menjadi dua grup, yaitu test kit tidak berbasis CPR dan test kit berbasis CPR yang diberi nama TFRIC-19, BioCov 19.

Test kit yang akan selesai diproduksi dalam waktu paling dekat adalah Rapid Diagnostic Test (RDT). Test kit tidak berbasis CPR ini akan digunakan untuk mendeteksi virus melalui antibodi IgG dan IgM yang ada di dalam darah kita. Dilansir dari situs Ristek-BRIN, 10,000 test kit akan siap meluncur paling lambat pada tanggal 8 Mei 2020.

Inovasi Alat Kesehatan dan Pendukungnya

Dari kelompok Alat Kesehatan dan Pendukungnya, saat ini sudah ada empat inovasi teknologi yang tengah digarap, mulai dari ventilator hingga robot.

  1. Inovasi pertama adalah ventilator, saat ini ada 27 ventilator yang sedang dikembangkan oleh BPPT, ITB Salman, UI, UGM, ITS, dan Universitas Telkom.
  2. Kedua adalah Mobile Laboratory BSL (Bio Safety Level)-2 produksi BPPT yang bertujuan untuk mempermudah masyarakat untuk mengakses hasil pemeriksaan. Dengan Mobile Lab BSL-2 ini, nantinya hasil tes dapat dilihat 10-15 menit setelah pelaksanaan tes.
  3. Produk inovasi ketiga adalah Powered Air Purifying yang berfungsi sebagai alat bantu pernapasan lewat udara yang sudah bersih. Inovasi ini sedang dalam proses uji Badan Fasilitas Kesehatan.
  4. Yang keempat adalah Robot Raisa. Kalau sudah jadi, robot ini akan difungsikan untuk membantu tenaga medis melayani pasien, seperti mengantarkan obat dan makanan.

Inovasi Terapi

Kelompok inovasi teknologi terapi bertugas untuk melakukan pengembangan dan pengujian suplemen, obat herbal, hingga terapi untuk proses penyembuhan pasien. Hingga saat ini ada beberapa pengembangan yang telah dan sedang dilakukan.

Baca juga: Jangan Memaksa, Istirahat dan Bicarakan

Pertama adalah uji suplemen dan obat herbal tradisional komersial. Kamu pasti sudah sering mendapatkan iklan produk kesehatan dengan kandungan herbal yang dapat mencegah infeksi Covid-19. Supaya kamu tidak termakan iklan, saat ini tim konsorsium sedang menguji seluruh obat herbal komersial di Indonesia. Pengujian suplemen akan dilakukan dalam tiga tahap, yaitu Systematic Review, Studi Bioinformatika, dan Uji Klinis.

Yang kedua adalah pelaksanaan Multicenter Clinical Trial. Dalam program Multicenter Clinical Trial, akan ada beberapa obat seperti Avigan, Chloroquine Phospate, Pil Kina, Tamiflu, Ivemercitin, maupun terapi Convalescence Plasma yang akan diuji coba. Dalam program ini pula, tim juga sedang melakukan pengembangan vaksin Covid-19 sehingga diharapkan Indonesia dapat memproduksi vaksin secara mandiri.

Ada sebuah harapan yang kembali terpantik ketika saya membuat tulisan ini, ada sebuah perasaan yang mencoba membisikkan, tidak apa berharap kita akan segera pulih dan menjadi lebih baik. Akhir-akhir ini menjadi bulan-bulan penuh perjuangan, tapi saya tidak melihat satu pun di antara kita yang menyerah dan tunduk pada keadaan. Semoga harapan tak pernah hilang dari setiap doa yang kita panjatkan dan usaha yang kita upayakan. (Ber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here