Berdaya Lewat Ekonomi Bottom-Up

0
597

Pernah gak kamu berpikir sejenak sebelum membeli barang, kira-kira akan pergi kemana uang kamu setelah itu? Akankah uang itu akan berguna bagi banyak orang dan menjelma sebagai sebuah manfaat baru atau… uang-uang itu akan jatuh di tangan segelintir orang yang tak bertanggung jawab, yang hanya peduli pada keuntungan? Atau kamu bahkan tidak memikirkan sampai sejauh itu karena hal tersebut adalah kebutuhan pokokmu?

Kalau kamu yang terakhir, coba pikirkan kembali sejenak. Uang yang kamu miliki saat ini bisa menentukan banyak hal dan membawa perubahan yang memberi dampak positif bagi orang-orang di sekitar kamu. Caranya adalah dengan membeli barang dari usaha-usaha kecil yang ada di sekitar kamu, atau jika kamu punya uang lebih kamu bisa berinvestasi di usaha-usaha kecil menengah yang selama ini memenuhi kebutuhan harianmu. Dengan begitu uang kamu akan jauh lebih bermanfaat ketimbang kamu membelanjakannya untuk barang-barang branded dari perusahaan-perusahaan besar yang sudah mapan, terlebih lagi di masa-masa sulit akibat pandemi seperti saat ini.

Kok bisa gitu? Jadi begini..

Dalam skala negara, keberadaan modal menjadi permasalahan yang menghambat pertumbuhan ekonomi terutama di negara berkembang. Makanya gak heran kalau negara berkembang sangat getol melakukan apapun untuk menarik investor masuk ke negaranya. Kayak negaranya siapa hayo? Hehehe. Meski demikian, Gardiner Morse melalui tulisannya di Harvard Business Review mengatakan bahwa itu bukan masalah utamanya. Masalah sebenarnya adalah kemana modal itu nantinya akan dialokasikan.

Morse bilang, jika diberikan kepada pengusaha, modal ini akan menciptakan lapangan pekerjaan baru, meningkatkan ekonomi, dan tentunya memperbaiki pemerintahan. Beda ceritanya kalau modal itu diberikan kepada pihak-pihak di pemerintahan apa lagi yang tidak bertanggung jawab. Dengan memberikan modal kepada para pengusaha, terutama pengusaha kecil, mereka dapat mengikutsertakan masyarakat untuk turut membangun ekonomi.

Itu dapat dilakukan dengan cara perniagaan. Namun bukan perniagaan biasa. Ada tiga hal yang harus diperhatikan untuk mengikutsertakan masyarakat di dunia berkembang saat berniaga, kata Morse. Pertama, jangan hanya menjual. Lebih dari itu, Morse menganjurkan pengusaha untuk membuat pabrik yang dapat membuka lapangan kerja baru dan memproduksi barang-barang yang dapat berguna sebagai penunjang produktivitas. Kedua, bekerja sama dengan usaha kecil menengah. Ketiga adalah dengan melakukan pembelian.

Saatnya berandai..

Melihat penjelasan Morse, tidak ada salahnya kalau kita berandai dan bermain peran. Dalam konteks ini kita bisa berandai menjadi investor atau perusahaan yang ingin berinvestasi, mengingat usaha-usaha kecil menengah di sekitar kita yang saat ini sedang terkena krisis akibat pandemi, adalah masyarakat di negara berkembang yang perlu didorong, sedangkan oknum atau pengusaha yang hanya memikirkan keuntungan, merupakan pihak-pihak yang cenderung tidak bertanggung jawab.

Dengan peran baru kita saat ini, maka menjadi jelas apa yang sebaiknya kita lakukan, yaitu menguatkan perniagaan dengan membeli produk-produk UKM lokal atau berinvestasi untuk mengembangkan usaha mereka. Dengan begitu uang kita, setidaknya, berputar di tempat yang tidak jauh-jauh amat, bahkan lebih baik lagi uang-uang kita berputar di usaha-usaha yang memenuhi kebutuhan kita sehari-hari yang saat ini sedang terkena krisis.

Lalu apa untungnya buat saya?

 “Tapi kan, ada pilihan brand lain dari perusahaan besar yang mutunya lebih terjamin? Gak hanya itu, brand-brand itu juga instagram-able,” atau “Kalau kita investasi kan pengennya cepat dapat untung dan modal balik, kenapa kita harus berinvestasi kepada UKM yang sedang krisis dan belum tentu menjanjikan?”

Mungkin itu adalah dua dari sekian banyak pertanyaan yang saat ini ada di kepala kamu. Tapi tunggu dulu, broouw.

Sebagaimana kita ketahui bersama, dalam berbisnis, keuntungan itu seperti roda. Melalui keuntungan, kita menarik investor untuk bergabung, dengan keuntungan pula kita dapat melebarkan bisnis kita. Kalau meminjam argumen dari Adam Smith dan para pengikutnya, ia mengatakan bahwa dalam kondisi tertentu pemaksimalan keuntungan dapat mengarah kepada pencapaian common social good.

Oleh sebab itu, Morse memberikan pandangan menarik, yaitu mengapa keuntungan tidak dijadikan sebagai sarana dan menjadikan kebaikan bersama sebagai tujuan?

Meletakkan kerangka bisnis seperti itu adalah hal yang sangat logis untuk dilakukan saat ini. Dengan membeli dan berinvestasi di UKM sekitar kita, kita akan membantu mereka bangkit kembali dari krisis pandemi. Tidak hanya itu, ketika kita berniaga dengan UKM di sekitar kita, akan lebih mudah bagi kita untuk mengawasi bagaimana mereka mengelola bisnis, hingga bagaimana tanggung jawab mereka terhadap lingkungan. Dengan “keajaiban” alam yang terjadi akhir-akhir ini, tentu kita tidak mau toh uang kita menjadi bahan bakar perusahaan yang hanya merusak lingkungan? Logisnya sih pasti tidak mau. Saya percaya, masyarakat juga semakin cerdas dan bijak dalam memilih suatu produk sehingga besar kemungkinan mereka akan memilih produk yang memperhatikan aspek lingkungan.

Oleh karena itu aspek keberlanjutan saat ini sudah menjadi faktor wajib yang harus kita semua perhatikan saat berinvestasi atau membangun sebuah bisnis. Tidak hanya dapat keuntungan, kita juga bisa mencapai kebaikan bersama. Everybody happy!  (Ber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here