Agar Citarum Kembali Harum

0
549

Indonesia adalah rumah bagi banyak sungai. Setidaknya kita punya 5.590 sungai utama dan 65.017 anak sungai yang mengalir jauh ke berbagai penjuru nusantara. Selain itu, sungai adalah rumah dan sumber kehidupan bagi banyak orang, juga beraneka ekosistem di sekitarnya. Selama ini banyak masyarakat di Indonesia yang bermukim di atas air dan menggantungkan hidupnya pada air. Itu semua dapat terjadi karena mereka menjaga keseimbangan dan kelestarian alam sungai. Jika itu tidak dilakukan, maka kita hanya akan menyakiti satu sama lain, jelas hubungan yang tidak sehat kan? Sungai dapat menjadi sumber bencana sebagaimana kita juga bisa jadi sumber malapetaka bagi kehidupan di dalamnya.

Sungai Citarum mungkin adalah satu sungai yang pernah mengalami keduanya, menjadi kawan yang penuh kasih bagi manusia yang bermukim di sekitarnya, hingga menjadi “lawan” yang penuh dengan amarah. Sama halnya dengan manusia di sekitarnya, Citarum mungkin pernah membuat mereka tersenyum riang, namun Citarum juga pernah menjadi hantu banjir di kala musim penghujan tiba. Jadi siapa yang berulah?

Citarum, dulu dan kini

Sungai Citarum merupakan sungai terpanjang di Jawa Barat dengan panjang 297 kilometer. Keberadaannya tidak terlepas dari perjalanan peradaban tatar Sunda. Oleh karenanya Citarum kaya dengan nilai historis, ekonomi, dan sosial. Sudah sejak dahulu, para penduduk berlayar mengarungi Citarum menggunakan sampan dan perahu kecil, untuk sekadar perjalanan atau mencari penghasilan. Melimpahnya debit air juga menjadikan Citarum sebagai pemasok air minum bahnkan untuk sebagian penduduk di Jakarta hingga Bekasi.

Tapi sayang oh sayang, itu dulu.

Sungai Citarum yang dulu pernah menjadi saksi mula peradaban Sunda kini memiliki julukan baru yang tidak begitu enak untuk didengar. Sejak tahun 2007, Citarum menjadi salah satu sungai yang masuk kategori sungai dengan tingkat pencemaran tinggi di dunia. Ulah siapa? Ya jelas manusia.

Baca juga: Berdaya Lewat Ekonomi Bottom-Up

Bukan ikan lagi yang akan kita temui di Citarum, namun hanya lautan sampah yang bau dan beracun, hingga bangkai hewan ternak yang mengapung di atasnya.

Tidak bisa lebih buruk

Sejak tahun 1970-an, kawasan Sungai Citarum menjadi kawasan industri. Banyak pabrik yang mulai dibangun di sana dan saat ini tercatat sudah ada 500 pabrik yang mengepung Sungai Citarum. Limbah pabrik yang dibuang tanpa pengolahan oleh sejumlah pabrik tak bertanggung jawab telah merusak ekosistem alami Sungai Citarum. Ini belum ditambah dengan penggundulan hutan yang dilakukan secara masif di wilayah hulu sungai. Tidak berhenti di situ, dilansir dari The Guardian, 6000 penduduk di dekat bantaran Sungai Citarum menghasilkan 10 ton sampah setiap harinya. Ya, bisa diperkirakan ini semua akan dibuang ke Sungai Citarum.

Akibat itu semua, berdasarkan data dari Badan Riset Kelautan dan Perikanan, sudah ada 14 jenis ikan asli Sungai Citarum yang punah dalam kurun 40 tahun hingga tahun 2007. Mereka tidak bisa beradaptasi dengan air yang semakin tercemar limbah. Kondisi tersebut sama seperti menyuruh manusia untuk berlama-lama bernapas di jalan raya di tengah kepungan polusi kendaraan.

Baca Juga: Soal Limbah Di Tengah Wabah

Dilansir dari situs citarum.org, daya pasokan air dari Sungai Citarum kini juga telah mengalami penurunan. Sungai Citarum kini juga menyebabkan banjir saat hujan dan mengalami kekeringan saat musim kemarau. Karena perbuatan yang tak bertanggung jawab itu, Sungai Citarum tak lebih dari sebuah tempat sampah yang panjang. Padahal ada sekitar 15 juta orang yang tinggal di sekitarnya dan bergantung padanya.

Agar Citarum harum kembali

Kabar gembira, ternyata kita tidak tinggal diam, guys. Pada tahun 2018, Presiden mengeluarkan Perpres No. 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum. Perpres inilah yang kemudian melahirkan sebuah program bernama Citarum Harum. Program ini bertujuan untuk merevitalisasi sungai dan digagas langsung oleh pemerintah pusat melalui Kementeriaan Koordinator Bidang Kemaritiman. Program ini memiliki tiga belas program rencana aksi, yang bertujuan mulai dari memulihkan kondisi, bagaimana mengedukasi masyarakat sekitar, hingga bagaimana nantinya Sungai Citarum dapat dijadikan sebagai objek pariwisata. Dalam kurun waktu dua tahun, sudah banyak yang dilakukan program ini, seperti pembersihan Nol Kilometer Citarum hingga pembentukan satgas dari hulu ke hilir oleh Kodam III Siliwangi. Dalam kurun waktu 7 tahun, Presiden Jokowi menargetkan air Sungai Citarum dapat diminum oleh masyarakat. Soalnya, ternyata air dari sungai ini menjadi sumber dari 80% kebutuhan air minum penduduk Jawa Barat. Apakah kamu salah satunya?

Tentu, lagi-lagi, program ini tidak akan berhasil kalau tidak ada partisipasi dan kerja sama dari penduduk sekitar. Jadi, kalau kamu salah satu warga Jawa Barat, ayo kita saling mengingatkan dan mengedukasi, karena sesuai dengan kalimat leluhur urang Sunda, “Hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke,” yang berarti ada dahulu ada sekarang, tak ada dahulu tak ada pula sekarang. (Ber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here