Selalu Ada Cara

0
451

Kapan terakhir kali kamu makan di restoran? Atau sekadar makan bakso di pinggir jalan? Ingatkah kamu terakhir kali kamu makan cilok yang di jual di dekat stasuin KRL? Sepertinya sudah lama sekali ya? Sayangnya, untuk saat ini kita belum bisa menikmati itu lagi karena anjuran untuk tetap di rumah dan membatasi interaksi dengan orang-orang kelihatannya belum kunjung menemui penghujung.

Imbas pandemi ini mungkin hanya menyebabkan rindu bagi para pembeli. Rindu ingin segera kembali menikmati suasana makan di luar rumah. Rasa rindu memang sudah menyiksa bagimu, tapi imbas pandemi ini bisa dirasakan dalam derajat yang jauh lebih menyiksa bagi para penjual, penjaja makanan, atau pengusaha kuliner berskala kecil lainnya. Terlebih lagi bagi para penjual yang menggantungkan omsetnya dari jumlah pelanggan harian yang makan di tempat.

Beberapa UMKM juga sangat menggantungkan pendapatan harian. Pendapatan perhari yang digunakan sebagai modal esok hari. Kalau hari ini tidak dapat pendapatan yang cukup, mereka terancam tidak bisa memutar uangnya untuk dijadikan modal esok harinya.

Tapi tenang, ini bukan saatnya kita untuk berputus asa. Pasti ada cara untuk mensiasati situasi ini.

Dilansir dari entrepreneur.com, Mark J. Kohler membagikan beberapa saran yang dapat diterapkan supaya UMKM tetap menghasilkan di tengah masa-masa sulit seperti ini.

Pengembangan produk berbasis teknologi

Masa-masa seperti ini merupakan waktu yang tepat bagi sebuah perusahaan bersama dengan pekerjanya untuk melakukan penelitian, melihat celah apa yang bisa dikembangkan dari usaha mereka. Teknologi salah satunya. Pernahkah kamu mendengar istilah “teknologi sebagai perpanjangan tangan manusia”?

Penerapan teknologi ini sudah mulai banyak diterapkan oleh pelaku UMKM. Salah satu contohnya adalah gerai Wingz o Wingz yang ada di Bandung yang sudah mulai memanfaatkan transaksi lewat aplikasi ojek online.

Dilansir dari CNBC Indonesia, Muhammad Muhlis, selaku Manager Pemasaran Wingz O Wingz menjelaskan bahwa pembatasan sosial memberikan dampak terhadap omset gerai. Ia mengatakan bahwa transaksi makan di tempat menurun menjadi lima persen saja.

Akan tetapi, pembatasan sosial justru dijadikan sebagai peluang oleh Muhlis. Ia kini memaksimalkan transaksi pemesanan melalui aplikasi ojek online dengan membatasi kunjungan pelanggan dan lebih mengutamakan layanan take away atau dibungkus.

Langkah ini merupakan salah satu langkah yang diambil Muhlis supaya Wingz O Wingz dapat bertahan di tengah pandemi. Langkah ini tentu tidak akan berjalan dengan mulus tanpa pihak-pihak yang terus menerus mengembangkan aplikasi agar konsumen digital yang terpapar dengan gerai-gerai seperti Wingz O Wingz terus meningkat.

Cermati kebijakan terkait Covid-19

Di saat seperti ini, semua orang jelas sedang parno. Tiba-tiba kita semua jadi orang yang sangat peduli dengan kebersihan dan kesehatan. Cuci tangan yang dulu hampir tak pernah dilakukan, sekarang menjadi kegiatan yang rutin kita lakukan. Ada bermacam protokol atau tahap-tahap yang harus dilaksanakan bahkan untuk sekedar masuk rumah sendiri. Meskipun membutuhkan waktu yang lama dan kadang tidak jarang kita merasa repot, tapi itu membuat kita setidaknya lebih tenang.

Tapi hal ini justru berimbas positif bagi pelaku UMKM apabila menerapkan protokol-protokol di atas. Terutama yang berhubungan dengan kebersihan dan kesehatan dari para pekerjanya. Tentu ini akan membuat rasa was-was konsumen berkurang!

Baca juga: Pandemi, Energi, dan Pembaharuan Cakrawala Pemikiran

Dalam salah satu liputan CNN Indonesia, kita dapat melihat penerapan langkah ini oleh seorang bernama Edwin Sugiarto, pengelola restoran Ayam Bakar Primarasa di Kota Surabaya. Ada banyak pertimbangan yang ia ambil terkait dengan keberlangsungan bisnisnya. Mulai dari menutup layanan makan di tempat hingga menutup total gerai yang ia miliki. Namun Edwin memilih untu tetap beroperasi supaya karyawannya dapat tetap menerima gaji utuh tiap bulannya.

Pilihan ini datang dengan sebuah konsekuensi besar tentunya. Pilihan Edwin untuk menjalankan bisnis seperti semula dibarengi dengan usahanya menjaga mutu dan kebersihan dari makanan yang dijajakan. Ia meningkatkan standar kebersihan di gerai dan melakukan prosedur pengecekan kesehatan bagi karyawannya.

Gaya pemasaran baru

Dalam situasi pandemi seperti ini, pemasaran menjadi salah satu kunci aspek penting yang perlu diperhatikan. Sesuai dengan tujuan pemasaran yang tidak hanya berusaha mendapatkan keuntungan namun juga kepercayaan dari pelanggan, masa-masa seperti ini adalah tantangan bagi pelaku UMKM untuk terus giat menciptakan bentuk-bentuk pemasaran yang kreatif dan efektif kepada para pelanggan.

Internet datang dengan berbagai kemudahan dan manfaatnya. Ada banyak aplikasi atau kanal yang memungkinkan para pengusaha untuk memasarkan dagangannya dengan gratis. Bagi kamu yang sudah terbiasa menggunakan aplikasi ojek online, tentu kamu sudah familier dengan kolom-kolom pencarian yang mengelompokkan gerai-gerai. Salah satu kolom biasanya mengelompokkan gerai-gerai yang berlokasi di dekatmu.

Jujur deh, kamu sering sekali melihat kategori ini, sebagai panduan dalam memesan makanan dengan ongkos kirim lebih murah? Hehe, sama kok kalau urusan yang ini.

Baca juga: Yang Mana Dulu

Nah hal ini juga sangat membantu bagi para pelaku UMKM. Karena dengan metode ini gerai yang berlokasi dekat dari konsumen memiliki kemungkinan mendapatkan eksposur yang lebih banyak. Disebut juga dalam liputan CNN Indonesia, setelah memanfaatkan layanan pemesanan online omset usaha ayam bakar milik Edwin dapat meningkat 20 persen!

Perbaiki rencana strategi bisnis

Bagi kamu pelaku UMKM yang belum sempat merancang rencana strategis bisnismu, pun yang sudah, ini adalah waktu yang tepat untuk kembali melihat, memikirkan, atau jika perlu memodifikasi rencana strategis yang sudah kamu buat. Ini adalah masa yang tepat untuk kembali melihat apakah rencana yang sudah dibuat masih berpotensi menghasilkan keuntungan dan dapat bertahan setidaknya untuk satu tahun ini. Mungkin kamu dapat mengingat kata-kata dari Alan Lakein “Ketika kita gagal berencana itu sama saja kita berencana untuk gagal”. Ya walau sebenarnya apabila rencana yang satu gagal, yang perlu diingat adalah bahwa jumlah angka itu tidak terbatas.

Yakinlah semua ini pasti berlalu. Mungkin tidak akan sekejap berubah menjadi mudah, namun semoga ada kekuatan lagi di setiap akhir lelah. Yok, bisa yokkkkk. (Ber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here