Pesimis Atau Optimis Di Masa Wabah

0
712

Di saat-saat yang tak menentu, ketika harus terkurung di rumah, sering kita menjadi pesimistis. Namun untunglah di luar sana ada sejumlah orang yang melihat dunia dengan lebih optimis, dan percaya badai pasti berlalu. Sejumlah sahabat mengirimkan pesan-pesan yang menambahkan semangat, yang memperkuat kepercayaan diri, bahwa mengambil sikap optimis adalah pilihan yang paling waras untuk meningkatkan sistem imunitas tubuh, yang sangat penting untuk menolak infeksi Covid-19.

Namun demikian, banyak pula yang melihat cobaan ini dari sisi pesimistis. Bahwa kiamat sudah semakin dekat, bahwa tak ada lagi yang dapat diperbuat. Virus Corona adalah hukuman bagi manusia-manusia yang durjana. Maka mereka pun mencaci-maki apa pun yang telah dilakukan oleh pemerintah. Dan tetap berkumpul di tempat-tempat peribadatan.

Dalam kondisi semacam itu menjadi menarik untuk memerhatikan hasil survey yang dilakukan oleh konsultan manajemen global terkemuka McKinsey. Survey yang dilakukan di pertengahan bulan Maret lalu memperlihatkan pandangan yang berbeda-beda terhadap dampak Corona Virus ini.

Cina yang pertama mengalami gempuran Covid-19 dan yang pertama pula memiliki kasus infeksi terbesar, namun berhasil melaluinya, menjadi negara dengan kepercayaan paling tinggi bahwa perekonomian mereka akan tumbuh kembali selang dua-tiga bulan setelah wabah ini berakhir. Hampir separuh (48 persen) warga Cina yang disurvei merasa optimis bahwa perekonomian mereka akan tumbuh sama atau bahkan lebih baik dibanding pertumbuhan perekonomian mereka sebelum tersebarnya wabah Covid-19.

Amerika Serikat juga masih percaya bahwa perekonomian mereka akan kembali membaik setelah wabah ini mereda. Sebanyak 38 persen  warga Amerika yang disurvei masih percaya bahwa perekonomian mereka akan tumbuh kembali selang dua-tiga bulan setelah wabah ini berakhir. Suatu optimisme yang menjelaskan semangat American Dream, bahwa tak ada yang tak mungkin di negara itu. Namun setelah Amerika Serikat memegang rekor sebagai negara dengan kasus infeksi Covid-19 terbesar di dunia, dan fasilitas kesehatannya ternyata tak siap dengan pandemi ini, mungkin hasil survey ini akan berbeda jika dilakukan di awal bulan April ini.

Hal ini sesungguhnya sudah tercermin dalam pandangan warga Italia, yang di pertengahan Maret telah mengalami serangan wabah Covid-19 yang sangat massif dan memaksa negara itu melakukan lock down. Ketika McKinsey survey dilakukan pada tanggal 21-22 Maret 2020, 36 persen warga yang disurvei merasa pesimis bahwa perekonomian di negara mereka dapat pulih kembali. Menurut mereka Italia pasti akan mengkerut dan terjerumus pada resesi berkepanjangan. Sebanyak 54 persen lainnya merasa tak pasti mengenai prospek pertumbuhan perekonomian di negara itu. Hanya sebanyak 13 persen warga yang disurvei percaya bahwa perekonomian Italia akan tetap tumbuh usai masa-masa penyebaran wabah virus yang sangat menggelisahkan ini.

Baca juga: Melalui Hari-hari Yang Berat

Kembali ke dalam negeri, mengingat tingkat kepercayaan warga sangat penting untuk dikelola, maka pemerintah dan kalangan bisnis harus berhati-hati dalam menyikapinya. Jika sebagian terbesar warga merasa pesimistis, maka mereka akan menahan tingkat konsumsinya. Ini berarti pertumbuhan perekonomian Indonesia yang lebih dari 50 persennya ditopang oleh konsumsi warga akan mandeg.

Kekhawatiran ini juga akan membuat mereka memilih untuk memegang dollar atau emas, tinimbang menyimpan uang mereka di bank, yang tentunya akan ikut mempengaruhi nilai tukar rupiah, yang pada ujungnya akan menyulitkan bagi perusahaan untuk mengembangkan kegiatan bisnis mereka.

Karena itu, di masa-masa sulit semacam ini, perusahaan harus memiliki mindset survival. CEO Unilever, Alan Jope, dalam diskusi yang diprakarsai UN Global Compact mengingatkan tantangan yang dihadapi oleh front-liner tak hanya dihadapi oleh dokter dan paramedis yang berjuang menghadapi pasien-pasien Covid-19, namun juga para pekerja di lapangan, seperpeti pengecer, distributor yang karyawan mereka harus memastikan produk-produk yang diperlukan konsumen tetap tersedia.

Baca juga: Bersama Meski Berjarak

Dalam kondisi semacam itu operasi bisnis zero sum game tak dapat menjadi pilihan. Selama perusahaan masih dapat mengelola cash flow di masa krisis, sesungguhnya hal itu sangat membantu untuk dapat  membuat perusahaan tetap eksis, dan karyawan tetap bekerja dan memperoleh penghasilan. Dengan cara semacam ini optimisme akan lebih terjaga, tinimbang jika mendengar banyaknya pemutusan hubungan kerja.

Dengan kebersamaan di antara segenap pemangku kepentingannya, mungkin salah satu bottom line akan berwarna merah. Namun jika itu terjadi dalam upaya menjaga social bottom line tetap bernyawa, perusahaan Anda akan tetap dikenang dengan sepenuh rasa hormat.

Di sisi yang lain karyawan juga harus memahami kesulitan yang dihadapi perusahaan. Separuh responden yang disurvei McKinsey di India menyatakan tak berkeberatan berkurang pendapatannya di masa krisis ini karena mereka juga telah memutuskan untuk mengurangi konsumsi mereka.

Dengan demikian, satu hal yang harus dipahami, kerugian dalam bisnis masih bisa diperbaiki di tahun-tahun yang akan datang. Namun hilangnya karyawan yang Anda cintai, lebih sulit untuk dapat diganti. Di masa yang sulit seperti inilah  karyawan akan belajar memahami relasinya dengan perusahaan tempat mereka bekerja. Kita harus percaya: Bersama Kita Bisa. Dr. M. Gunawan Alif (Chairman, Indonesia CSR Society)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here