Pelukan Dalam Dukungan

0
693

Bayangkan kamu harus jogging di atas batu kerikil tapi tidak diberi sepatu lari alias kamu harus bertelanjang kaki. Atau bayangkan kamu harus mengangkat panci panas tanpa menggunakan kain. Atau bayangkan nih kamu harus berkemah di puncak gunung tapi tidak boleh bawa dan pakai baju hangat. Kalau saya jadi kamu, saya sudah menyerah dan memilih untuk tidak melakukannya. Menurut saya, itu sama saja dengan menyiksa diri sendiri.

Tapi bagaimana jika sekarang kondisinya seorang dokter atau tenaga kesehatan yang harus menyelamatkan pasien dari penyakit menular tapi tidak dibekali dengan alat pelindung diri yang lengkap dan layak. Kalau kamu jadi mereka, apakah kamu ingin tetap bekerja? Apakah kamu berani merelakan dirimu untuk menyelamatkan nyawa dari orang yang bahkan tidak kamu kenal?

Berat bagi saya untuk membayangkan berada di posisi macam itu.

Tentu ini juga bukan hal yang mudah bagi mereka. Pasti sulit. Bahkan mungkin sulit sekali. Dengan risiko pekerjaan yang tidak rendah, mereka juga harus merasakan cemas luar biasa karena mereka tidak dilengkapi dengan alat pelindung diri.

Ibaratnya mau perang tapi tidak ada senjata. Babak belur sudah pasti jadi jaminan.

Sayangnya ini yang sedang dialami oleh banyak tenaga medis di tengah pandemi virus korona. Tidak hanya tenaga medis di Indonesia yang kekurangan alat pelindung diri untuk menangani pasien Covid-19, ini juga menimpa tenaga medis di banyak negara yang mengalami hal serupa.

Baca juga: Kitalah Sang Garda Depan

Semuanya kewalahan. Persiapannya sangat jauh dari kata cukup. Mungkin juga tidak ada yang menyangka bumi akan mengalami pandemi setelah pandemi terakhirnya di tahun 2009 lalu.

Kenapa pandemi bisa kembali terjadi, apakah itu berhubungan dengan aktivitas kita sehari-hari? Mungkin perlu pembahasan dan pendalaman bacaan tersendiri untuk menjawab pertanyaan itu. Namun, ibarat sudah kepalang basah tidak ada lagi yang bisa kita upayakan selain upaya terbaik. Memberikan tenaga medis dengan alat pelindung diri terbaik bisa menjadi salah satu upaya yang bisa kita usahakan.

Alat pelindung diri nilainya gak bisa disamakan dengan kurs mata uang karena dengannya tenaga medis menyelamatkan nyawa. Pengadaan dan penyediaan alat pelindung diri sudah sewajarnya menjadi sebuah kewajiban.

Tapi pengadaan alat pelindung diri yang keberadaannya makin langka ini bukan permasalahan yang sederhana.

Jadi gini, tidak semua negara memproduksi alat pelindung diri atau APD yang diperuntukkan untuk profesi-profesi tertentu. Ada beberapa negara yang harus impor dan tentu saja ada negara yang menjadi pengekspor. Ketika semua negara terserang pandemi, mau tidak mau negara pengekspor harus menghentikan aktivitas ekspor mereka guna memenuhi kebutuhan APD di negaranya. Kelangkaan pun akan terjadi di negara pengimpor APD, hanya jika mereka mulai bergerak untuk memproduksi APD mereka sendiri.

Permasalahan tidak hanya berhenti di sana, lho. Saat ini semua orang panik, semua orang ingin sehat dan terhindar dari jangkauan virus korona. Ini yang menyebabkan tak sedikit orang mengeluarkan upaya ekstra seperti membeli dan menggunakan APD yang akan lebih berguna jika dipakai oleh tenaga medis.

Tapi ya namanya panik. Mau dikata apa lagi?

Saat ini kita rasanya seperti seekor semut yang sedang terjerat jaring laba-laba. Tidak bisa bergerak banyak. Terbelit oleh keadaan. Kendati demikian, ketika semut tersebut menggoyangkan kaki kecilnya yang merekat dengan jaring, goyangan kakinya dapat menggerakkan seluruh jaring yang menjerat tubuhnya.

Baca juga: Bukan Segala-galanya

Sama halnya dengan semut, meski rumit tapi bukan berarti usaha kita akan menjadi sia-sia.

WHO telah menetapkan kelangkaan APD menjadi sebuah ancaman yang mendesak dan hanya kerja sama serta solidaritas global yang bisa menjadi titik keluar. Pun jika mewujudkan solidaritas global bukan porsi kita, sebagai masyarakat sipil kita masih tetap bisa mengulurkan bantuan.

Kita bisa membantu tenaga medis dengan berpartisipasi dalam banyak aksi, penggalangan dana misalnya. Sudah banyak masyarakat sipil yang mulai bergerak untuk mengatasi kelangkaan APD dengan mengumpulkan donasi hingga mendorong produksi. Jika itu belum bisa kamu lakukan, kamu bisa berdiam di rumah untuk menekan jumlah penyebaran dan berdoa kepada Tuhan.

Kendati jarak harus kita jaga bahkan lebarkan, penyediaan alat pelindung diri yang layak bagi tenaga medis dapat menjadi bentuk lain dari pelukan semangat serta dukungan.

Bersama kita pasti bisa melewatinya. (Ber)