Anak Muda dan Pertanian

0
514

Jika Anda datang ke sejumlah warung di pedesaan, Anda akan menemukan produk atau merek yang tak Anda kenal. Produk minuman, misalnya, terlihat sangat menggoda, dengan warnanya yang merah atau kuning cerah. Dan penduduk desa dengan penuh gairah membelinya, tak peduli dengan kualitas atau jenis pewarna yang digunakan oleh produk itu.

Kampung dan pedesaan telah menjadi pasar yang penting bagi banyak produk dan merek yang dijual di pasar. Meskipun distribusinya cukup merepotkan, namun dengan kian menjamurnya pengecer modern semacam IndoMaret dan AlfaMart yang melengkapi pasar-pasar becek tradisional, maka penduduk desa pun memperoleh banyak pilihan produk sesuai dengan uang yang tersedia di dompet mereka.

Di sini tanggung jawab perusahaan diuji. Perusahaan yang bertanggung jawab hanya akan memproduksi produk-produk yang berkualitas, yang tak akan mencederai konsumennya. Meskipun dalam kenyataannya, memanfaatkan ketidaktahuan konsumen, sejumlah produk dijual ke pedesaan dengan kualitas yang meragukan, dan jika dikonsumsi dalam jangka panjang akan dapat berpengaruh pada kesehatan.

Bahkan produk-produk yang berkualitas pun membawa permasalahan tersendiri dalam bentuk kemasan plastik yang kemudian menjadi tumpukan sampah. Karena kemudahan dan kenyamanan, penduduk desa cenderung menggunakan pembungkus plastik, tinimbang menggunakan pembungkus daun yang dulu sering mereka pergunakan. Akibatnya, tumpukan sampah plastik tersebar dimana-mana.

Permasalahan lain juga terjadi dalam pengolahan sawah. Hampir tak ada lagi anak-anak muda yang tertarik untuk mengolah sawah. Anak-anak muda ini lebih tertarik bekerja sebagai buruh di pabrik-pabrik dan memperoleh gaji bulanan, meski terbatas hanya sebesar Upah Minimum Regional (UMR).

Akibatnya hanya orang-orang tua yang akan terlihat bekerja di sawah. Keterbatasan fisik membuat mereka tak bisa optimal lagi mengelola sawah, dan lebih banyak berharap pada tebaran pupuk kimia dan herbisida yang mereka siramkan di sawah dalam upaya dan harapan dapat meningkatkan panen.

Baca juga: Pesimis Atau Optimis di Masa Wabah

Dalam kenyataannya panen tidak juga membaik, karena tanah semakin keras dan membatu akibat masukan bahan-bahan kimia yang berlebihan. Padi dan palawija yang sarat dengan residu pestisida itu kemudian terhidang di meja-meja makan di rumah-rumah di desa dan perkotaan. Dan bukannya tak membawa akibat, kita tahu bagaimana penyakit kanker terus meningkat dari waktu ke waktu, di desa dan di kota.

Sejumlah keluarga yang memahami bahhwa kesehatan harus dimulai dari makanan yang mereka telan, mulai beralih ke makanan organik yang terbebas dari masukan zat-zat kimia. Konsumen yang peduli dengan makanan yang sehat ini, seiring dengan pertumbuhan perekonomian dan pemahaman yang kian baik terhadap kesehatan, terus semakin membesar. Akibatnya, karena produksi yang terbatas, harga bahan pangan organik ini cenderung lebih mahal. Sekilo-gram beras organik, misalnya, dapat mencapai Rp 36 ribu. Sementara beras non-organik hanya maksimum Rp 12  ribu dalam jumlah yang sama.

Memahami masyarakat memerlukan pangan yang sehat dan terbebas dari asupan bahan-bahan kimia yang berlebihan, pengelola Rumah Pilla di Raja Galuh, Majalengka, mencoba menggerakkan petani untuk bertanam padi secara organik. Pengelola Rumah Pilla pun mengundang sejumlah pakar dan petani organik yang telah sukses untuk berbagi tata-cara mengolah sawah secara organik.

Namun pelatihan ini ternyata tak cukup menggerakkan petani untuk mencoba bertanam padi secara organik. Alasannya, mengolah sawah secara organik memerlukan kerja yang kompleks, mulai dari membajak sawah, menyemai bibit, menyiapkan pupuk organik, hingga pembuatan pestisida organik.

Hanya Andi Setiawan yang dengan gigih mencoba untuk mengerjakan sawah secara organik. Anak muda lulusan SMK Pertanian Mertoyudan dengan teguh meniatkan untuk mengerjakan sawahnya secara organik penuh. Bujangan asal Magelang berusia 22 tahun itu, bekerja bahu membahu dengan Agun, migran asal Puwokerto untuk memastikan pengolahan sawah berlangsung secara organik penuh.

Sebelum mulai menanam padi secara organik, Andi terlebih dahulu menanam lahan persawahannya dengan kacang tanah. Tanaman ini akan membantu meningkatkan unsur hara tanah, yang sebelumnya sangat buruk karena penanaman padi sebanyak tiga kali dalam setahun selama bertahun-tahun. Lahan pun menjadi panas dan mengeras karena timbunan pupuk kimia dan semprotan herbisida yang tak putus-putus.

Tanaman kacang cukup memberikan panen yang baik, meskipun ada yang buruk karena memperoleh siraman air yang terlalu banyak. Selain itu, pasca panen kacang tanah juga memerlukan cukup banyak tenaga pekerja. Namun yang paling penting, upaya untuk meningkatkan kandungan hara sawah telah berlangsung.

Baca juga: Melalui Hari-hari Yang Berat

Kondisi ini membuat Andi semakin bersemangat untuk memulai menanam padi secara organik. Ia menjalankan semua arahan dalam pertanian organik secara optimal. Kekhawatirannya adalah pada serangan hama padi, karena hanya lahannya sendiri yang tak disemprot dengan pestisida, namun hanya menggunakan pencegah hama alami.

Kerja kerasnya, dengan dibantu Agun, ternyata memberikan hasil yang sepadan. Lahan persawahan yang dikerjakannya dapat menghasilkan panen sebanyak 1,2 ton padi organik. Hasil ini merupakan suatu pencapaian tersendiri, karena di tahun-tahun sebelumnya, lahan persawahan ini hanya menghasilkan sekitar 800 kwintal gabah.

Dengan tersedianya padi organik itu, maka Rumah Pilla dapat menyediakan makanan kampung yang lezat, sekaligus sehat. Yang lebih penting lagi, Andi Setiawan dapat menjadi contoh bagaimana seorang anak muda mau berkubang lumpur untuk bekerja di sawah dan menghasilkan produk pertanian yang berkualitas dan sehat. Karena itu tak perlu heran jika banyak ibu-ibu di seputaran Rumah Pilla yang menyayanginya. Mungkin ia sudah memenuhi kriteria untuk dijadikan menantu. Dr. M. Gunawan Alif (Chaiman, Indonesia CSR Society)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here