Yang Lalu Ada dan Berkelanjutan Karena Internet

0
554

Baru saja WHO menetapkan Coronavirus sebagai sebuah pandemi global. Meningkatnya penyebaran virus bernomor seri COVID-19 ini sudah banyak memengaruhi bermacam aspek di keseharian kita. Tak sedikit daerah di berbagai negara bahkan berhenti melakukan rutinitas mereka. Anak-anak sekolah diliburkan, tempat wisata ditutup, dan tentu saja banyak perusahaan yang menghimbau pegawainya untuk tetap…. bekerja tentu saja! Hehe.

Tapi setidaknya mereka bisa bekerja di rumah alias kerja remote. Mereka bisa sedikit bernapas lega karena mereka bisa mengurangi kontak dengan orang-orang asing. Kalau di remot ada infrared yang membuat kamu tidak perlu menggunakan jempol untuk mengubah channel televisi atau menurunkan suhu AC tapi cukup dengan satu kali tekan saja. Kini ada internet yang juga dapat berfungsi sebagai infrared di “remot” yang memungkinkan kita dapat bekerja, dan mengatur pekerjaan kita dari jarak jauh. Kita tidak melulu harus hadir secara fisik untuk mengerjakan pekerjaan dan menjadi produktif.

Baca juga: Lelucon Yang Sama Sekali Tidak Lucu

Jika kita mau, internet justru membuat kita menjadi lebih produktif kok asal kalau kamu gak mager. Semua itu serba pilihan, ges.  Kerja remote merupakan satu dari banyak, banyak, banyak, dan banyak sekali perubahan yang terjadi akibat kehadiran infrastruktur internet. Di sisi seberang, adanya internet dan teknologi juga memungkinkan terciptanya bentuk-bentuk demand pekerjaan baru. Atau bahkan peluang bisnis baru, seperti merebaknya pegusaha-pengusaha online shopping.

Hal ini sepertinya mustahil dibayangkan bisa terjadi puluhan atau ratusan tahun lalu kalau tidak ada internet. Dengan internet kini seseorang bahkan bisa memiliki usaha meski ia tak memiliki toko, bahkan ketika ia tidak memiliki barang. Tidak hanya itu, kehadiran internet dan teknologi memungkinkan banyak hal lain, terciptnya kebutuhan-kebutuhan yang bahkan sebelumnya tak pernah terpikirkan, pekerjaan-pekerjaan baru yang sebelumnya tidak terbayangkan. Pekerjaan jadi Mimin misalnya. Memang bakal ada pekerjaan itu kalau gak ada media sosial? Dan kalau gak ada internet, memang bakal ada yang namanya media sosial?

Gak. Gak bisa. Gak kebayang.

Banyak pintu yang tadinya tidak bisa dibuka kini terbuka lebar. Bahkan banyak bermunculan pintu yang langsung sudah terbuka tanpa harus dibuka, eh, maksudnya, ya, intinya begitu lah.

Namun bukan sebuah kehaluan kalau ada yang mengatakan bahwa internet dan segala teman-teman teknologinya itu, alih-alih memberdayakan ekonomi justru mempertajam jurang kesenjangan ekonomi. Teknologi, internet salah satunya sering dianggap sebagai kambing hitam. Jika ada hal buruk terjadi ya pasti salah internet. Bukan orang yang menggunakannya.

Bagi saya, internet merupakan sebatas sarana yang netral. Berakibat buruk atau baik ya itu tergantung siapa yang menggunakannya. Jika seharusnya dapat memberdayakan namun nyatanya tidak demikian, bisa saja orang yang belum terkena percikan dampak baik internet memang karena mereka belum terpapar. Pemerataan lalu menjadi soal dan jelas bukan soal yang mudah. Dalam menjawab soal ini, banyak yang gagal dan harus melakukan remidial.

Ya terlepas dari sukses atau gagalnya itu memang menjadi tanggung jawab banyak pihak. Karena pasti berkaitan dengan infrastruktur, kesiapan, sumber daya, penyuluhan, sosialisasi, dan banyak macam kegiatan lain.

Bakal terdengar sedikit egois memang, tapi ya jalan untuk menjadi sama, dalam artian ikut menjadi pemain yang sama-sama punya tenaga dan berdaya bersama-sama ya berarti mau tidak mau harus punya fasilitas yang sama.

Baca juga: Virus Corona, Perubahan Iklim, dan Hubungannya

Pun hal ini juga sudah diamanatkan oleh Tujuan Pembangunan Berkelanjutan nomor 9, “Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.” Oleh karena itu, internet tidak boleh diskriminatif. Internet itu harusnya membebaskan. Bebas menjadi kata sifat yang harus lekat dengan internet, tidak boleh tidak.

Internet telah memungkinkan banyaknya inovasi timbul. Banyak yang lalu terpantik untuk mengembangkan bahkan menciptakan. Ide-ide baru itu pun kemudian dikonversikan menjadi startup-startup berbasis digital. Dengan ini dukungan lalu seharusnya tidak hanya sebatas pemerataan infrastruktur internet.

Bagi saya ide juga merupakan infrastruktur tak berwujud yang harus disokong sebelum ia memiliki wujud nyatanya. Dari banyaknya berita yang tidak mengenakkan akhir-akhir ini, setidaknya ada hembusan semilir oksigen yang sedikit banyak bisa membuat paru-paru lega, khususnya bagi mereka yang gemar membuat inovasi dan mencipta.

Pemerintah Indonesia sepertinya cukup serius mendukung akselerasi perkembangan bisnis berbasis internet. Melalui badan usahanya yang berplat merah, Telkom, tidak tanggung-tanggung mereka menggelontorkan dana hingga Rp7 triliun untuk danai startup-startup. Langkah ini mendapatkan dua jempol dari saya.

Setidaknya kita sudah harus mulai menyadari bahwa bisnis dan ekonomi berkelanjutan tidak melulu soal keuntungan, namun juga bagaimana ia dapat terus relevan dengan perkembangan zaman. (Berliyan)