Yang Harus Kita Tata Kembali Setelah Badai Ini

0
606

Selain cicilan rumah, biaya sekolah anak, atau rumah tangga yang diambang keretakkan, ada hal besar yang harusnya kita tangkap di situasi serba panik ini. Ah, begini saja, saya mulai dengan beberapa curhatan yang beredar di lingkar sosial media saya selama masa social distancing dan work from home ini.

Jadi selama bekerja dari rumah (kost), saya mencoba memperhatikan keluh kesah sesama netizen dari layar gawai saya. Ternyata menarik juga untuk dibahas soal reaksi warga net ini terkait dengan anjuran presiden agar bekerja sementara dari rumah. Ada yang mengeluh karena kantornya tetap beroperasi seperti biasa, ada yang kegirangan karena merasa lebih banyak waktu dengan keluarga, ada yang cemas-cemas gemas karena terjebak di tempat kostnya (…ehm), bahkan ada juga yang penuh rasa percaya diri menampik fakta bahwa wabah Korona sudah semakin menggila (Nah yang terakhir ini semoga sedikit dan semakin sehat jalan pikirannya).

Baca juga: Saling Menjaga, Kita Pasti Bisa

Tapi apa yang menarik sih sebenarnya? Situasi panik begini kok malah dibilang menarik? Eits sebentar, yang panik itu bukan anda saja, saya juga panik lho gaes. Tapi memang ada hal yang sangat menarik perhatian saya dan hal tersebut justru di luar konteks kesehatan yang menjadi isu utama.

Persoalan yang menarik perhatian saya adalah soal betapa buruknya sistem jaminan sosial yang kita miliki. Bayangkan disaat-saat kritis seperti ini, saat kita semua harusnya bisa fokus menjaga kesehatan dan melakukan upaya pencegahan semaksimal mungkin, kita justru dibebani oleh persoalan isi perut, ya sebab walau bagaimanapun persoalan mengisi perut itu sama erat kaitannya dengan persoalan kesehatan dan harapan hidup seseorang.

Mari kita ingat kembali rancangan PBB soal konsep keberlanjutan, di dalamnya meliputi dua hal tersebut, kesehatan dan perekonomian. Dua hal ini memang tidak bisa dilepaskan lagi dari kerangka peradaban manusia modern. Dua hal yang sama-sama menopang peradaban yang maha canggih ini. Nah untuk persoalan ekonomi, yang terkait dengan upaya kita mencari nafkah agar dapur tetap ngebul sebenarnya sudah lama mengidap penyakit, bahkan jauh sebelum virus Korona muncul. Penyakit itu bernama krisis, yang muncul tenggelam silih berganti di tiap masanya.

Baca juga: Kita Yang Bingung Di Tengah Badai

Jadi saya pikir setelah kita menyelesaikan PR kita soal wabah, rasanya masih ada hal yang jauh lebih mendasar yang harus kita perbaiki, yang tidak kalah mendesak dengan persoalan kesehatan. Kita harus mulai memikirkan pola perekonomian yang lebih sehat dan menyehatkan, lebih sustain kalau dalam bahasa kerennya. Sebuah pola perekonomian yang tidak hanya menopang tapi juga memuliakan kehidupan yang ada di permukaan bumi ini.

Kenapa kita harus segera memperbaiki ini semua? Ya jelas karena situasi yang kacau belakangan ini tidak akan terjadi apabila kita telah berdamai dengan “kehidupan”. Di mana kita tak lagi dihantui oleh ancaman kemiskinan dan kita sepenuhnya telah bersinergi dengan segala bentuk kehidupan. Di saat seperti itu sepertinya kita akan lebih mudah membangun solidaritas dalam menghadapi permasalahan seperti wabah virus Korona ini. Saat itu kita telah terbiasa memaklumi situasi, lebih tenang, dan yang paling penting tak lagi ketakutan kalau-kalau besok tak bisa makan. (Ignavus Canis)