Tidak Semuanya Tentang Kamu

0
740

Untuk menekan laju penyebaran virus korona yang sangat sangat sangat cepat, banyak pihak lalu menyarankan kita untuk berada di dalam rumah saja, membatasi kegiatan di luar rumah semaksimal mungkin, setidaknya untuk dua minggu. Mungkin ini pertama kalinya dalam sejarah kita bisa menjadi seorang pahlawan dan menyelematkan umat manusia dengan tidak melakukan apa-apa!

 

Ini adalah saat yang sangat tepat bagi mereka yang hobi gak ngapa-ngapain untuk bersinar dengan melakukan yang selama ini mereka lakukan; tidak melakukan apa-apa! Udah dikasih panggung gitu tapi kok ya tetap gak dimanfaatkan dengan baik? Kapan lagi orang-orang akan berterima kasih sama kamu atas jasamu yang tidak melakukan apa-apa itu?

 

Tidak jarang saya mendengar atau membaca beberapa orang mengeluh kesal dan gemes sama orang yang masih ngeyel dengan mereka yang masih saja tidak mematuhi anjuran untuk berada di dalam rumah.

 

Ya, saya paham sih, mungkin diam terus-menerus di rumah selama beberapa hari bisa menjadi sebuah tantangan luar biasa bagi sebagian orang. Apalagi bagi mereka yang memang suka melakukan kegiatan di luar rumah atau mendapatkan energi justru dengan bertemu orang banyak secara langsung.

 

Baca juga: Semoga Bukan Cuma Diingat

 

Tapi gini, kadang hidup itu semuanya tidak tentang kamu. Hidup itu tidak semuanya tentang memenuhi keinginan dan kebutuhan kamu. Ada bagian dari hidup kita yang tidak lepas dengan keberadaan orang lain, kalau tidak demikian ya imbasnya hidup kita lah yang nantinya akan terancam. Ada bagian dari hidup kita yang mewajibkan kita untuk mengalah dan menghargai.

 

“Ya tapi saya sehat kok dan tidak merasakan gejala apapun, jadi saya tak mungkin menularkan apapun ke orang lain, kan?” mungkin itu bantahanmu. Tapi tunggu dulu, justru orang-orang yang sebenarnya sudah terinfeksi namun tidak memiliki gejala apapun itu yang menjadi sumber masalah saat ini.

 

Bagaimana bisa?

 

Bill Gates menjelaskan bahwa ada bukti yang sangat kuat jika virus korona dapat ditularkan oleh mereka yang sakit ringan atau bahkan tidak menunjukkan gejala sekalipun. Karenanya, penanganan virus korona akan menjadi lebih sulit dibandingkan dengan SARS dan MERS yang penyebarannya kurang efisien dan hanya oleh orang-orang yang memiliki gejala.

 

Michael Osterholm, Direktur Center for Infectious Disease Research and Policy di University of Minnesota menambahkan bahwa orang-orang dengan infeksi tanpa gejala inilah yang memicu pandemi dan akan membuatnya sulit untuk dikendalikan.

 

Kalau pernyataan dari dua pakar tadi masih terlihat abstrak, Profesor Hugh Montgomery telah menjelaskan ilustrasinya kenapa mereka yang tidak menunjukkan gejala menjadi sangat berbahaya bagi orang lain.

 

Begini, virus korona itu berbeda sekali dengan flu biasanya. Kalau kamu punya flu kamu bakal menularkan flu-mu itu kepada, rata-ratanya, 1.3 hingga 1.4 orang. Mereka akan memberikan flu-nya kepada orang lain untuk kedua kalinya. Dan ketika infeksi itu pindah untuk ke-sepuluh kalinya, kamu akan bertanggung jawab atas 14 orang yang kini terkena flu.

 

Sayangnya, virus korona ini sangat mudah menular. Misal kamu punya virus ini, kamu setidaknya akan menularkannya pada 3 orang sekaligus.

 

Mungkin kamu bisa saja berpikir, 1.4 dan 3 itu kan tidak jauh berbeda? Ya, gak salah. Tapi kalau masing-masing orang yang sudah kamu tulari itu masing-masing menyebarkan pada tiga orang lain, dan orang yang sudah tertular terus menerus menginfeksi orang lain dan ini terjadi hingga sepuluh kali, Profesor Hugh Montgomery mengatakan kamu akan bertanggung jawab menulari 59,000 orang.

 

Mungkin kamu sedang memiliki pertahanan tubuh yang baik sehingga kamu tidak merasa apa-apa, tapi kamu berpotensi menulari mereka yang sudah rentan dan tidak memiliki imun baik.

 

Baca juga: Manusia Melawan Pandemi

 

Jadi, kalau tidak ada hal yang penting-penting banget, tetap di rumah ya. Kamu bisa membantu banyak orang, terutama tenaga medis yang saat ini sedang berjuang mati-matian. Tetap di rumah agar beban kerja mereka yang sudah berat tidak tambah berat.

 

Ketika ini sudah berakhir, semoga kita dapat sadar kalau semua hal itu tidak melulu tentang kita, kalau dunia itu tidak berputar dengan kita sebagai orbitnya.

 

Semoga kita tetap ingat untuk menjadi manusia yang tidak hanya memikirkan diri sendiri namun juga orang lain. Semoga kita selalu ingat untuk menjadi manusia yang welas asih tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga kepada yang lain. Tidak hanya manusia ya, hewan dan lingkungan juga! (Ber)