Semoga Bukan Cuma Diingat

0
859

Di tengah situasi yang mencekam ini, kita mau tidak mau harus mengurangi pergerakan di luar dan menghindari bersinggungan dengan banyak orang. Situasi ini tentu dapat membuat bosan banyak orang, ya kecuali manusia mageran macam saya ini (introvert bersatu, gak perlu ketemuaaan!!!) hehehe.

Nah dari kegabutan yang sebenarnya gak gabut-gabut banget (lha wong himbauannya kerja dari rumah toh) banyak orang yang kelihatannya justru larut dalam lamunan yang mendalam dan mencoba merefleksi makna hidup mereka masing-masing. Kontemplasi lah istilah kerennya. Saya bisa punya penilaian semacam itu tentu bukan tanpa sebab. Sebagai seorang pemantau taimlain kambuhan saya jadi punya indera untuk menganalisa pemikiran sobat-sobat netisyen dari apa yang mereka unggah.

Baca juga: Manusia Melawan Pandemi

Sebenarnya ada bermacam jenis unggahan yang di unggah ke sosial media belakangan ini, tapi kita pakai metode clustering saja mengikuti metode yang dilakukan dalam memetakan persebaran virus koronceu. Saya bagi menjadi tiga cluster utama, cuek, panik, dan yang terakhir ini yang akan saya bahas, cluster itu adalah mereka yang mengunggah konten positif, yak anda tidak salah baca kok.

Saya jelaskan dulu ya, sebab makna positif ini sendiri kan subjektif, jadi ya ini suka-suka saya lah, hahaha. Yang saya maksud konten positif itu, ya kira-kira yang isinya terkait pesan-pesan yang menggugah bagi yang melihatnya atau mungkin bagi yang mengunggahnya juga. Pesan ini banyak jenisnya, ada yang mengajak bersolidaritas kepada rekan-rekan medis yang sedang berjuang di garis depan dalam mengatasi wabah, ada ajakan menggalang bantuan di berbagai isu terkait wabah ini, dan ada juga yang justru merefleksikan kehidupannya sendiri. Nah ini yang lebih spesifik ingin saya bahas.

Jadi sepertinya momen social distancing dengan mengurung diri di rumah ternyata banyak menggugah perasaan banyak kawan di sosial media. Mereka bercerita banyak hal, soal kegelisahan, kekhawatiran, dan bahkan soal bagaimana mereka memaknai hidup selama ini.

Banyak dari mereka menyatakan selama ini telah lupa pada apa yang menjadi esensi kehidupan, larut dalam rutinitas dan desakan-desakan ekonomi. Mereka seperti tak lagi punya porsi bagi yang hakiki. Ya setelah merenungi dan mengkaji, banyak kawan yang mulai menyimpulkan, nyatanya tugas utama mereka justru merawat kehidupan itu sendiri. Tentu bukan hal yang mudah dilaksanakan, bahkan cenderung lebih mudah dilupakan.

Baca juga: Kita Yang Bingung Di Tengah Badai

Ujian wabah global ini di lain sisi justru menggali kembali rasa kemanusiaan banyak orang. Selayaknya menusia, mereka bercermin pada apa yang telah mereka lakukan selama ini. Bumi ini sudah hampir tamat riwayatnya karena tingkah kita, bahkan ada yang sesumbar kalau ini karma atau tulah dari perbuatan manusia.

Tapi ada yang penting untuk digarisbawahi. Semoga ingatan itu selalu terawat, sebagai bekal menata kehidupan. Kehidupan yang bersinergi dengan seluruh alam ini. (Ignavus Canis)