Saling Menjaga, Kita Pasti Bisa

0
726

Virus Korona telah menjadi sebuah pandemi dan tengah menyelimuti bumi, banyak atau mungkin semua dari kita yang menganggap ini serius mulai cemas, mulai khawatir, dan rasa takut pun kadang tak terbendung.

Rasa takut yang kadang membeludak tak jarang mengantarkan kita pada keputusan yang tak logis dan tak rasional. Mungkin sering kita menemukan diri kita menelan segala informasi yang terkait dengan virus yang berplat Covid-19 secara mentah-mentah. Mengikuti anjuran mulai yang berdasar hingga yang tak masuk di akal. Aku paham, kita sedang panik, kita tidak tahu menahu apa yang sedang kita hadapi dan bahkan tak yakin apakah ini semua bisa diatasi?

Baca juga: Kita Yang Bingung Di Tengah Badai

Tapi yang jelas kita semua sedang berusaha. Kita berusaha semaksimal mungkin. Kita berusaha dengan memberikan upaya terbaik kita. Meskipun terkadang hasilnya tak langsung nampak, meski terkadang yang kita lihat hanya kurva dengan arti negatif yang terus melonjak, tapi aku percaya tak ada pihak yang secara sengaja membiarkan kondisi semakin buruk. Semua orang sedang berusaha.

Terlebih lagi tenaga medis yang meletakkan nyawa mereka di garis depan sebagai taruhannya. Terima kasih yang tak terhingga kepada mereka, untuk rasa cemas yang harus ditebas, untuk rasa takut yang harus dihilangkan, untuk rasa kantuk dan lelah yang harus dikalahkan.

Dan teruntuk kamu yang sedang membaca ini, terima kasih juga karena setidaknya sudah berusaha untuk memulai kembali pola hidup yang sehat, makan makanan yang bergizi, menjaga diri kamu, mengasihani tubuhmu, dan menjaga lingkungamu.

Karena hingga vaksin bisa berhasil ditemukan untuk waktu yang tak tahu berapa lama lagi, hanya kamu dan seluruh bagian yang ada di tubuhmu yang bisa menjaga kamu. Kekebalanmu. Kamu ternyata tidak pernah sendirian, kan? Atau setidaknya, tidak pernah benar-benar berjuang sendirian, hehe.

Baca juga: Yang Lalu Ada dan Berkelanjutan Karena Internet

Pandemi ini seharusnya pula sudah bisa menyadarkan kamu kalau kita rentan dan jauh teramat rentan jika kita tidak saling menjaga. Hanya membutuhkan angka tiga digit untuk membuat seantero negeri gusar dan panik. Kesehatan kita bergantung pada orang lain, lingkungan kita, dan segala-galanya yang eksistensinya bersinggungan dengan kehidupan kita.

Mungkin ini saatnya kita mulai mengurangi ketergantungan kepada pembuat kebijakan untuk menangani wabah ini. Berbagai peraturan pun kebijakan yang sudah dibuat terkait pandemi tak jarang mandeg dan menjadi cuma karena penerapannya yang tak jarang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Kita harus mengakui, kita kewalahan, kita kecolongan.

Pandemi ini menjadi sebuah cermin besar yang merefleksikan sistem pelayanan kesehatan masyarakat dan segala infrastruktur yang menopangnya, yang ternyata masih banyak kurang. Jauh dari kata cukup, apa lagi sempurna. Banyak orang yang seharusnya menjadi kelompok paling rentan namun justru terpinggirkan karena peraturan yang terkadang malah tak tepat sasaran.

Agaknya tak perlu menunggu arahan jika dirasa tak bisa diandalkan, mungkin kita bisa memulai dengan diri kita sendiri, menengok kembali apa yang bisa kita beri. Kita harus sadar kita harus mulai menjaga satu sama lain, menjaga tak hanya yang kita kasihi namun juga mereka yang sangat perlu diberi.

Hari ini kamu mungkin sedang duduk di kursi, jemarimu dengan ringan menggerakkan mouse komputermu sembari tangan yang satu meraih cemilan favoritmu. Beruntungnya, kantormu membolehkan kamu untuk bekerja di rumah. Kamu bisa bernapas lega karena bisa mengurangi interaksi dengan orang banyak.

Ketika jam makan siang tiba, kamu tidak perlu berpikir karena kamu sudah membeli cadangan makanan untuk setidaknya tiga hari ke depan. Kulkasmu sudah penuh. Persediaan sabun untuk cuci tangan juga sudah aman. Kalau harus keluar kamu juga punya cadangan masker yang lumayan.

 Tidak ada pikiran.

Kamu membeli itu semua persediaan itu karena kamu merasa takut. Tapi.. rasa takutmu hanya sekali. Tidak dua kali, karena kamu punya pilihan untuk kerja di rumah. Tidak tiga kali, karena kamu punya uang untuk membeli cadangan makanan. Tidak empat kali, karena hidup kamu besok tidak ditentukan dengan perjuanganmu hari ini. Tapi akan tetap ada mereka yang kepalang terjerembab, tak pernah punya pilihan. Mungkin aku atau kamu harus memulainya sekarang. Kita pikirkan dan cari caranya bersama. Kita harus berbagi, kita harus saling menjaga, dan percaya.. this too shall pass. (Ber)