Saat Yang Tepat Mendobrak Sekat

0
740

Kalau ada persoalan yang paling tak pandang bulu, baik bulu kaki, atau bulu hidung, hal tersebut ya Covid-19. Wabah yang sedang melanda dunia dengan begitu dahsyatnya, bagai bala kiriman pasukan iblis yang selalu dikhawatirkan oleh tokoh-tokoh jagoan di film kolosal.

Saking ganasnya, virus dengan nama lain yang terlalu keren bila disematkan pada penyakit yang mematikan ini perlahan mulai memukul salah satu pilar utama peradaban manusia. Ya benar, pilar tersebut adalah perekonomian. Pilar yang bahkan oleh beberapa pihak dianggap sebagai poros keberlanjutan peradaban manusia kini sedang berada di hadapan jurang krisis.

Baca juga: Penjara? Coba Pikir Lagi!

Memang kita sudah cukup paham soal bagaimana potensi krisis itu memang laten, seperti yang pernah dikisahkan seorang sarjana berjanggut di abad 19 lalu. Tapi toh pada akhirnya kita tidak pernah siap menghadapi krisis, apalagi di tengah situasi yang cukup simalakama macam sekarang.

Tapi mari kita kesampingkan dulu perdebatan panjang musabab krisis ekonomi yang tak kunjung usai itu. Mari kita geser perhatian pada yang justru paling rentan terhantam bahkan jauh sebelum krisis itu sendiri dimulai.

Mereka adalah kelompok yang menjadi penopang tapi sekaligus sasaran empuk krisis ekonomi. Mereka yang selama ini berada di dasar piramida kelas, yang secara harafiah harus berupaya “mati-matian” saat kita bicara soal bertahan hidup.

Saya rasa saat ini  adalah saat yang tepat untuk kita memikirkan sekaligus bertindak sebagai suatu kesatuan, toh kita sudah lama terpisah satu dengan lainnya, sekat-sekat sosial yang tak nampak tapi kokohnya melebihi tembok megah di Tiongkok sana, nampaknya harus mulai kita kikis dari detik ini.

Baca juga: Kita Yang Tak Mampu Membayangkan Masa Depan

Kalau anda bingung mencari alasan yang tepat untuk ikut berperan serta, cukup ingatkan diri anda soal makna kemanusiaan, itu saja rasanya sudah cukup sebagai modal buat anda mau terlibat mengikis sekat sosial yang sombongnya tidak kalah menyebalkan dengan situasi belakangan ini.

Kita sudah sama-sama tahu saat ini pemerintah di berbagai negara sangat kewalahan mengatasi lonjakan penularan wabah, rasanya kita tak bisa hanya tinggal diam dan menunggu bola menghampiri kaki. Saat-saat kritis macam ini peran warga menjadi begitu penting, ini juga saat tepat menjalin kembali tali silaturahmi dan rantai solidaritas. Tentu semua hal tadi harus dilakukan dengan tetap menyesuaikan dengan situasi sekarang.

Kita mungkin sedang mengurung diri dan membatasi pergerakan sementara, tapi jangan lupa, genggaman tangan kita sudah bisa membawa pergi kemanapun. Inilah saatnya menggunakan teknologi untuk menyelamatkan kehidupan. Sudah banyak inisiasi yang dilakukan untuk mengajak bersolidaritas bahu-membahu menolong sesama warga yang tak seberuntung kita yang bisa kerja dari rumah, atau bisa tetap hidup tanpa harus bekerja sekalipun. Teknologi yang telah memungkinkan itu semua, jadi mari manfaatkan semaksimal mungkin.

Peran kita saat ini akan jadi pelajaran dan sejarah di masa depan, jadi cetaklah sejarah yang gemilang. Sejarah tanpa perang, pertumpahan darah, dan perselisihan. Kita cetak sejarah baru, sejarah umat manusia yang memanusiakan kehidupan dan menghidupkan kemanusiaan. (Ignavus Canis)