Penjara? Coba Pikir Lagi!

0
818

Hari-hari ini mungkin sebagian dari kamu sedang merasa dipenjara karena kamu sangat-sangat dianjurkan untuk tetap berada di rumah agar tidak tertular atau menularkan si korona jahat. Kamu jadi tak bisa kemana-mana, hanya bisa bertegur sapa lewat media sosial, memantau apa yang terjadi nun jauh di sana hanya lewat berita.

“Menyiksa!” mungkin gerutu dari sebagian darimu.

Tapi setidaknya penjara yang sedang kamu rasakan saat ini masih nyaman. Ada kasur empuk, kulkas juga sudah terisi penuh dengan makanan ringan kesukaanmu. Bosan? Kamu bisa menonton serial favoritmu. Kamu juga tidak perlu kipas-kipas kepanasan karena AC mungkin selalu menyala selama 24 jam penuh.

Penjaramu tidak gelap apalagi lembab dan dingin seperti hatiku, ehe.

Penjaramu adalah empat dinding yang mungkin dihiasi dengan wallpaper cantik pilihan Ibumu. Aromanya harum, rasanya nyaman, apalagi kalau di dalamnya semua anggota keluarga utuh berkumpul menjadi satu, kesempurnaan yang layak disyukuri!

Jika memang begitu gambarannya, hidup kamu termasuk sangat mewah.

Kepanikan akan wabah ini membuat kamu bergegas memasok semua bahan makanan ke lumbung pendingin bernama kulkas. Kamu merasa takut. Kamu merasa tidak pasti. Kamu merasa khawatir. Kamu berusaha melakukan apapun yang bisa kamu lakukan, dengan harapan, kamu akan bisa melewati semua ini. Kamu mengunci dirimu di dalam bilik yang lalu kini kamu sebut penjara.

Lalu kamu mungkin terheran-heran dengan mereka yang masih keluar rumah.

“Apakah mereka sadar dengan pilihan mereka?”

“Apakah mereka tidak takut tertular atau menularkan penyakit kepada sesama?”

“Kan sudah ada himbauan, kenapa sih mereka tetap ngeyel?”

Perasaan pertama yang mungkin muncul adalah perasaan khawatir. Kamu khawatir jika mereka tidak berdiam di rumah maka penyebaran virus akan semakin tidak bisa dibendung. Perasaan kedua mungkin kamu heran, “Kok bisa ya mereka berani keluar rumah dan berjubel dengan orang lain di tengah kerumunan?”

Baca juga: Kita Yang Tak Mampu Membayangkan Masa Depan

Mungkin berbeda denganmu yang merasakan pandemi ini sebagai ketakutan luar biasa mengerikan, mungkin buat mereka yang terpaksa harus bekerja, yang hidup di ambang ketidaksejahteraan, yang hidup di dalam kemiskinan, pandemi mungkin hanyalah ketakutan lain dari banyak ketakutan dan ancaman yang mereka hadapi tiap hari.

Penjara mereka tidak sama denganmu.

Penjara mereka bisa jadi tempat yang lembab, tak berlistrik, dan mungkin beralas tanah.

Dan jika mereka keluar dari penjara fisik mereka, mereka masih berada di dalam sebuah penjara.

Penjara yang meski tak kasat mata, namun membelenggu sedemikian rupa.

Ketika mendengar wabah ini mungkin mereka hanya menganggapnya sebagai berita sekilas saja, sebagai sebuah hal sepele karena keseharian mereka sudah terasa amat begitu berat. Atau mungkin ada, dan mungkin banyak yang tidak tahu kalau saat ini kita sedang melawan patogen yang sudah menjadi pandemi karena mereka tidak terpapar dengan arus informasi dan berita.

Ada perjuangan dan pertempuran lain yang harus mereka hadapi mau tidak mau, karena jika tidak, mereka akan dikalahkan. Bukan karena korona tapi karena kelaparan.

Orang-orang seperti mereka lah yang seharusnya menjadi salah satu pertimbangan utama dari setiap kebijakan. Dalam kondisi ini, jika kita menekan pemerintah untuk menghentikan segala aktivitas, mungkin itu sama saja dengan menyuruh orang-orang yang harus hidup dan berjuang di jalan setiap harinya untuk mati kelaparan.

Baca juga: Tidak Semuanya Tentang Kamu

Karena kenyataan yang kita miliki masih jauh dari cantik, data dari Oxfam menunjukkan dalam dua dekade terakhir, kesenjangan kesejahteraan di Indonesia bertumbuh lebih cepat dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara. Dan saat ini, Indonesia menduduki posisi keenam sebagai negara dengan ketimpangan kekayaan terbesar di dunia.

Ketika hari ini kamu tidak bisa bersendau gurau makan di kedai kopi favoritmu, tidak bisa ke sekolah atau kuliah, tidak bisa keluar kota untuk berlibur, di luar sana ada yang bahkan sulit hanya untuk sekadar makan, putus sekolah karena tak ada biaya, hidup di daerah yang tak tertembus sinar matahari, dan bahkan belum pernah mendengar deburan ombak.

Setelah ini semua berlalu, semoga kita semakin terbuka untuk membenahi yang tak terlihat namun nyata. Dan semoga dalam perjuangan untuk menembus badai ini kita tidak mengorbankan mereka yang paling rentan. (Ber)