Kita Yang Tak Mampu Membayangkan Masa Depan

0
878

Hari ini peradaban menemui ujian musiman yang datang tanpa peringatan, apa lagi terjadwal. Ujian yang berhasil menyisihkan sebagian orang-orang yang dikisahkan di buku sejarah. Ya ujian tersebut bernama pandemi, wabah yang menyapu banyak nyawa dan mengancam segala aspek kehidupan manusia.

Sejarah soal pandemi telah dipelajari secara komprehensif, lengkap dengan metodologi dan riset-riset yang luar biasa mumpuni. Tapi segala upaya berabad itu seperti kembali dimentahkan hanya dalam hitungan bulan saja. Kita ternyata kembali gagal memetakan ancaman atas kehidupan umat manusia, jurnal-jurnal ilmiah hanya seperti pemanis di ujung piring peradaban. Sekedar menghiasi dan belum tentu bisa kita konsumsi.

Dunia pendidikan sekali lagi direndahkan serendah-rendahnya, ilmuwan dengan rentetan gelar di belakang namanya hanya mampu menopang rahang yang menganga karena heran menghadapi kenyataan bahwa mereka kecolongan untuk kesekian kalinya.

Baca juga: Tidak Semuanya Tentang Kamu

Tentu segala upaya yang telah dilakukan tidak serta merta sia-sia, tidak sebab ilmu pengetahuan tak pernah menghendaki kesia-siaan. Kita telah mengupayakan segala kemampuan dan kecerdasan untuk menguliti segala misteri dibalik ancaman terhadap kehidupan. Peradaban ini telah berupaya sekuat tenaga untuk menjadi murid yang baik bagi kehidupan dan hal itu baiknya tetap dirawat.

Lalu apa yang sebenarnya membuat kita sering kali meleset dalam memperhitungkan bahaya dan ancaman itu? Mungkin, ya mungkin, kita manusia tidak benar-benar pernah secara jelas melihat ancaman atau krisis sebagai sesuatu yang menakutkan. Manusia memang selalu dibayangi ketakutan di dalam benaknya, tapi jangan lupa, manusia memiliki sebuah kondisi yang mengendap bersama rasa takut, yakni penyangkalan terhadap ketakutan itu sendiri.

Penyangkalan terhadap rasa takut ini memang beberapa kali melahirkan kegemilangan dalam sejarah peradaban manusia. Manusia telah mampu melampaui apa yang sebelumnya hanya mampu dibayangkan dengan menyangkal ketakutannya. Kita merakit sebuah sistem yang mandraguna, yang kita asumsikan akan merangkai masa depan peradaban yang adiluhung. Tapi apa yang sebenarnya yang kita bayangkan soal masa depan sepertinya tak pernah benar-benar sejalan dengan kehidupan yang kita upayakan. Kehidupan yang terhampar setidaknya sejak manusia mampu mencatatnya.

Ini seperti ironi yang kita nikmati sepanjang zaman, penyangkalan kita terhadap rasa takut dan kemampuan kita mengimajinasikan masa depan sepertinya selalu berpunggungan. Kemampuan kita mengimajinasikan masa depan sampai saat ini tak pernah memperhitungkan krisis secara serius. Malapetaka bernama krisis itu lahir bukan tanpa sebab, alih-alih mengantisipasi kita kerap menganggap bahwa krisis harus dihadapi bukan dihindari.

Baca juga: Semoga Bukan Cuma Diingat

Contoh yang paling nyata dari perilaku konyol kita dalam menghadapi krisis adalah keterputusan kita dengan alam. Ilmu pengetahuan telah mengajarkan bahwa manusia selamanya akan tergantung dengan alam. Kemandirian kita terbatas pada sumber daya terbatas yang mampu menggerakkan roda kehidupan. Tapi apa langkah yang kita ambil? Ya kita menganggap itu sebuah tantangan yang perlu ditaklukkan. Watak dominasi memang melekat dan kadang memimpin langkah peradaban, tapi toh kita masih punya bekal etika dan moral, yang seharusnya jadi ambang batas bagi perilaku kita.

Keterputusan kita dengan alam jadi bukti betapa arogannya manusia dan sekali lagi jadi bukti bahwa kita memang benar-benar belum atau bahkan tidak mampu membayangkan masa depan, yang malah kerap tertukar dengan malapetaka. (Ignavus Canis)