Kita Yang Bingung Di Tengah Badai

0
720

“Aduh gimana ya nasib saya sekarang?”, “Ah masa sih semengerikan itu?”, “Ini pasti ulah golongan yang ingin menguasai dunia”, “Lebih baik pulang kampung aja deh kalau kacau begini”, dan masih ada seabrek pendapat orang yang terdengar membingungkan atau malah absurd di tengah badai yang tengah melanda negeri ini.

Yak, di tengah mewabahnya Covid-19 atau virus Corona yang datang dengan begitu hebat, masyarakat justru dilanda kebingungan yang tidak kalah hebat, alih-alih dengan tenang menghadapi dan membangun solidaritas dalam melawan wabah ini secara sistematis dan efektif. Kepanikan jelas akan dialami oleh siapapun yang dihadapkan pada situsi macam ini. Tapi sepertinya kita harus tetap menjaga kewarasan untuk dapat menghadapinya, sebab kepanikan tanpa nalar jelas hanya akan membahayakan semua pihak.

Baca juga: Yang Lalu Ada dan Berkelanjutan Karena Internet

Tapi yang jadi pertanyaan besar ialah, apakah segala kebingungan ini muncul tanpa sebab? Tentu aneh bila kita berkesimpulan seperti itu. Kalau kalian gak terlalu malas untuk menarik mundur ingatan, tentu kalian akan menemukan catatan-catatan soal kenapa kebingungan itu muncul. Tentu kita sudah tidak perlu lagi membahas soal kegagapan pemerintah terkait penanggulangan wabah ini, lha wong dari hari pertama virus ini merebak di Wuhan sana, pemerintah kita anteng-anteng saja dan bahkan ngguyon terkait virus tersebut.

Yang terjadi sekarang justru berasal dari masyarakat sendiri, munculnya narasi-narasi gaib soal Corona, panic buying, sampai emosi dan amarah yang agak kurang jelas juntrungannya, yang tanpa dasar, apa lagi data. Kenapa sih yang muncul justru reaksi macam ini? Saya juga bingung, toh saya juga sedang dalam situasi social distancing dan bekerja dari rumah dalam upaya mengurangi risiko penularan virus.

Baca juga: Lelucon Yang Sama Sekali Tidak Lucu

Tapi di tengah situsi serba tidak menentu ini saya jadi punya kesempatan untuk merenung, kenapa saya kok masih sen…., eh maksudnya saya merenung soal kebingungan masyarakat ini.

Saya jadi berpikir, mungkin ini semua terjadi mungkin karena kita memang sudah mulai kehilangan rasa percaya satu sama lain. Toh saat ini kata sosial akan lebih sering terdengar bersanding dengan kata media ketimbang dengan imbuhan -isme. Dua hal yang jelas berbeda makna dan tujuannya. Sulit rasanya membangun kepercayaan satu sama lain apalagi menyambung rantai solidaritas atara kita yang kini sudah jelas tersekat dalam ruang-ruang yang dilabeli seolah-olah “privat” itu.

Dan hari ini kita seperti tengah ditampar oleh tingkah kita sendiri, disaat kita harus memiliki kepercayaan dan membangun solidaritas satu sama lain, disaat negara abai pada apa yang diamanatkan kepadanya, kita hanya bisa tenggelam di tengah kubangan kebingungan. Kita tak tahu harus percaya pada apa dan siapa.

Mungkin kita ita tak pernah butuh komando atau perintah, yang kita butuhkan hanyalah kemanusiaan dan persaudaraan. Sebab saya rasa hanya dengan bermodal itu saja, rasanya kita sudah dapat menyelamatkan peradaban, setidaknya sampai besok atau seratus tahun ke depan. (Ignavus Canis)