Bersama Meski Berjarak

0
813

Hari-hari yang mencekam harus kita lalui. Bagai melalui terowongan gelap, belum terlihat cahaya terang di ujung sana. Namun kegelapan ini tak selalu terasa hitam pekat. Kadang semburat cahaya senter, lilin dan pelita masih terlihat. Pertanda kita tak sepenuhnya menyerah pada kegelapan.

Saat tulisan ini dibuat menjelang akhir Maret, kasus positif Covid-19 telah menjadi 1285 kasus, dengan 114 orang yang meninggal. Hanya dalam waktu 25 hari sejak Presiden Jokowi mengumumkan dua kasus pertama Covid-19 di Indonesia, lonjakan warga yang terinfeksi sangatlah besar. Dan yang paling menyedihkan, fatality rate, alias tingkat kematian akibat Covid-19 mencapai 8.8 persen, yang tertinggi di dunia.

Jumlah yang terinfeksi positif Covid-19 bisa jadi lebih besar, karena virus ini seringkali tak cukup jelas memperlihatkan pertandanya. Namun yang pasti, Jakarta telah menjadi kawasan merah dengan sejumlah noktah merah lainnya yang semakin menyebar di sejumlah propinsi di Indonesia. Suatu kondisi yang mendorong pemerintah untuk melaksanakan karantina wilayah.

Kondisi ini telah membawa sejumlah konsekuensi besar. Pemerintah telah meminta pelajar dan mahasiswa untuk belajar dari rumah, yang tentu merepotkan bagi sekolah dan murid-murid yang tak siap dengan fasilitas maupun kemampuan belajar daring.

Anjuran pemerintah untuk mengurung diri, dan ditegaskan oleh Gubernur DKI untuk menutup kantor-kantor, tentu akan menimbulkan kecemasan tersendiri. Panic buying sebelumnya telah terjadi begitu virus ini ditahbiskan sebagai pandemi. Rupiah ambruk, jatuh hingga lebih dari Rp 16 ribu per US dollar. Harga saham juga berguguran. Dan kita yang berada dalam terowongan hanya dapat berdoa semoga terowongan gelap ini tidak terlalu panjang, dan cahaya di ujung terowongan akan segera datang.

Pemerintah sendiri berusaha keras untuk mencari terang. Mencontoh Korea Selatan, Pemerintah mendatangkan alat uji cepat Covid-19. Dengan alat ini pemerintah dapat lebih akurat mendeteksi mereka yang positif tertular, dan mengisolasi mereka. Dengan mengisolasi lebih banyak mereka yang positif tertular, maka penularan dan infeksi Covid-19 dapat lebih dikendalikan. Karena wabah penyakit ini hanya dapat dihentikan jika mereka yang telah tertular tak berinteraksi dengan mereka yang sehat. Itu sebabnya work or study from home,  social distance, dan menghindari kerumunan merupakan upaya penting untuk mencegah penyebaran yang lebih luas dari virus yang mematikan ini.

Dalam kondisi terisolasi semacam ini, hanya dukungan dan solidaritas dari semua pemangku kepentingan yang memungkinkan virus ini tak betah tinggal di Indonesia. Perusahaan besar maupun kecil pasti terpukul oleh kondisi ini dengan dampak yang asimetris. Yang kecil akan klojotan terlebih dulu, yang besar pun akan menderita karena menghadapi banyak hambatan dalam proses produksi dan pemasaran.

Pulangnya pekerja migran harian yang kehilangan penghasilan ke kampung, menjelaskan permasalahan yang kian kompleks dalam penyebaran virus Covid-19. Hal ini mengharuskan terbentuknya kerjasama untuk menciptakan bantal perlindungan atau jaring pengaman bagi masyarakat miskin. Di sini perusahaan-perusahaan besar dapat berperan lebih besar untuk membantu stimulus ekonomi dan jaminan sosial yang telah dipersiapkan pemerintah.

Dalam kondisi semacam itu, sejumlah perusahaan besar ikut menyumbang untuk mengatasi pandemi ini. Datuk Sri Taher menyumbang Rp 52 M, Bakrie Grup dan Adaro Grup masing-masing sebesar Rp 20 M, sementara kelompok bisnis Erick Thohir menyumbang hingga Rp 500 M. Astra Grup menyumbang Rp 63 Miliar dalam bentuk 100 unit Daihatsu, 10 truck Toyota Dyna,  5 Isuzu Elf untuk penyemprotan oleh PMI dan BNPB., serta menyumbang APD, masker,  hand sanitizer dan disinfektan. JAPFA Group memilih menyumbang pasok makanan bergizi bagi frontliner (dokter dan perawat).

Partisipasi dalam upaya mengatasi Covid-19 tak hanya dilakukan perusahaan-perusahaan besar. PT Dan Liris, perusahaan garmen di Solo mulai membuat masker dan  APD (Alat Pelindung Diri, buat tenaga medis). Begitu pula dengan PT Sritex yang biasanya memproduksi pakaian militer untuk impor di Solo kini fokus ke pembuatan masker dan  APD untuk pasar dalam negeri.

Tak hanya perusahaan, sejumlah tokoh pun dapat berperan mengatasi Covid-19 ini Bersama-sama. Najwa Shihab merancancang konser virtual yang didukung sejumlah musisi kondang dan berhasil mengumpulkan dana hingga Rp 9 Miliar. Maia Estianty dan grup Arisan Tempey menggalang dana dan membeli APD untuk didistribusikan ke pelbagai rumah sakit. Perancang papan atas Anne Avanty bahkan mengubah produksi  jahitan busana eksklusifnya untuk memproduksi APD.  Dan masih banyak yang lainnya. Sungguh hanya dengan kebersamaan, terowongan Panjang dan gelap ini dapat dilalui.

 

Dalam kondisi gelap dan tak menentu ini, sesungguhnya ada beberapa hal penting yang perlu di perhatikan:

1) Persiapan Mental. Perubahan langgam kehidupan, bekerja dari rumah, kehilangan mata pencaharian, kian besarnya risiko kerja dan seterusnya, semua menuntut persiapan mental yang baik agar tak terjerumus dalam kegiatan fatalistik. Keseriusan menjaga jarak (physical distancing) hingga rela melakukan isolasi (self isolation) memerlukan kesiapan mental yang baik. Hal semacam ini penting untuk dipahami oleh pemberi kerja.

2) Keamanan finansial. Kondisi keuangan keluarga menjadi masalah pelik dalam pandemi ini. Bagi perusahaan-perusahaan besar, mungkin dalam jangka pendek bukan masalah besar. Berbeda halnya dengan UMKM dan sector informal. Di sini perusahaan besar dapat membantu vendor perusahaan kecil dengan memastikan bayaran yang tepat waktu dan tetap memberikan pekerjaan kepada mereka. Pemerintah sendiri harus bersungguh-sungguh memberikan stimulus bagi perusahaan, UMKM dan sektor informal yang terdampak.

3) Mendukung UMKM dan sektor informal. UMKM dan sektor informal memberikan penghasilan bagi jumlah terbesar penduduk Indonesia. Mereka pula yang paling terpukul dengan rusaknya kegiatan perekonomian akibat Covid-19. Tanpa usaha bersama menyelamatkan kegiatan bisnis mereka, maka malapetaka dan chaos akan terjadi, suatu hal yang tentu perlu dihindari.

 

Pemerintah harus berada di garda depan dengan suntikan stimulus pendanaan maupun regulasi yang mendukung. Hal ini tak akan cukup tanpa dukungan perusahaan-perusahaan besar yang seharusnya memilih untuk mengurangi keuntungan, bahkan merugi di tahun yang sulit ini, dengan berbuat lebih banyak mengatasi dampak ekonomi Covid-19 ini. Hanya dengan cara semacam ini perekonomian masih dapat terjaga, sehingga upaya mencari laba di masa depan masih dimungkinkan.

Meskipun kita masih belum tahu seberapa Panjang dan seberapa gelap terowongan yang harus kita lalui, sector korporasi dapat membantu untuk Bersama-sama menyalakan lilin untuk membimbing kehidupan kembali ke jalan terang. Dan itulah sesungguhnya hakikat dari tanggung jawab sosial perusahaan. Dr. M. Gunawan Alif (Chairman Indonesia CSR Society)