Bekerja Sama Dengan Alam

0
1041

Setiap kali bumi menunjukkan aktivitas tak biasa, menimbulkan efek samping yang berlapis banyak, kebanyakan bersifat destruktif tentu saja, dan karena itu kita sering kali melabelinya sebagai bencana, alih-alih mengintrospeksi apa yang telah kita lakukan terhadap bumi, kita malah berkata, “Get well soon, Planet Earth!

Apa? Saya gak salah dengar?

Padahal sudah jelas, yang bikin bumi banyak sakit itu ya manusia. Secara tidak sadar mungkin kita lebih sering menyakiti bumi ketimbang menyakiti diri sendiri dengan, misal, memenuhi otak dengan berbagai ekspektasi, hmm.

Kita sering koar-koar, mengeluh telah menjadi korban dari sebuah hubungan yang toxic dengan orang-orang di sekitar kita. Bersamaan dengan itu, tanpa sadar kita juga menjadi sebuah racun dalam sebuah rantai hubungan kompleks yang dampaknya sering tak dibayar secara kontan, yaitu dengan alam.

Loh, kok bisa?

Bisa, dan bisanya itu pakai sangat! Dengan alam khususnya, mentang-mentang ia tak punya suara, kita lalu dengan seenaknya bertingkah sembrono, bahkan ngelunjak. Kita ambil jauh lebih banyak dari apa yang ia tawarkan. Beda dengan manusia yang bisa menggunakan jasa pengacara ketika merasa dicurangi, alam kan tidak. Itu seolah jadi pembenar lalu kita eksploitasi habis-habisan potensi yang ia punya.

Baca juga: Saling Menjaga, Kita Pasti Bisa

Mungkin karena itu alam jadi kesal dan mendatangkan bencana bisa jadi ekspresi alam untuk mengatakan bahwa ia jengah dengan kita semua. Seperti halnya ketika kita merasakan racun dalam tubuh kita, kita pasti ingin lekas-lekas membuangnya.

Tapi bagaimana kalau kita adalah racunnya? Bagi sebuah rumah yang tak ada gantinya. Siapkah kita dibuang?

Saya sih tidak, dan tidak akan pernah bisa.

Oleh karena itu kita perlu membangun sebuah kerja sama! Jangan cuma jadi parasit kita harus mengupayakan kerja sama ala-ala simbiosis mutualisme. Saling menguntungkan.

Apa yang dilakukan oleh JAPFA dan warga Desa Gebang layaknya perlu dicontoh.

Desa Gebang merupakan sebuah desa di Lampung, tepatnya di sebelah timur Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran. Menghadap ke Teluk Lampung, desa ini menempati kawasan seluas 3,500 hektar dengan luas daratan 1,198.96 hektar dan kawasan mangrove yang didominasi oleh mangrove Bakau Minyak (Rhizopora Apiculata) seluas 88,73 hektar.

Mulanya mereka hanya menganggap bakau cuma sebagai pohon penghasil kayu untuk pondasi rumah mereka. Seiring peningkatan alih fungsi kawasan pesisir Lampung menjadi daerah pemukiman, tambak udang, dan tempat wisata, kawasan mangrove pun kian berkurang.

Melihat kondisi ini mulanya warga Desa Gebang masih bergeming. Namun ketika hasil tangkapan ikan berkurang drastis mereka mulai risau. Ikan dan tangkapan laut merupakan sumber pangan dan mata pencaharian bagi warga Desa Gebang. Warga Desa Gebang mulai merasa ada yang tidak beres.

Baca juga: Kita Yang Bingung Di Tengah Badai

Melihat ini, JAPFA, salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang agri-food terbesar di Indonesia, sejak 2017, berkomitmen untuk mengupayakan pemulihkan kawasan mangrove di Desa Gebang. Upaya pertama yang dilakukan JAPFA adalah menanam 2000 bibit bakau.

Tidak berhenti di situ, di tahun berikutnya JAPFA menjalin kerja sama dengan banyak unit Pemerintah Daerah dan warga Desa Gebang untuk membangun wisata bahari berbasis mangrove.

Di tahun 2018, JAPFA kembali menanam 9000 bibit bakau dan menebar 1500 ekor bibit banyak jenis ikan seperti Gabus Laut, Kakap Putih, dan Bawal Bintang. JAPFA juga membantu pembangunan infrastruktur kawasan wisata.

Bahkan JAPFA menyediakan demplot pembibitan bakau sehingga warga tidak perlu bersusah mendatangkan bibit dari luar daerah jika bibit yang sudah ada mati dan terbawa arus.

Semua kegiatan ini dilakukan bersama dan melibatkan warga Desa Gebang. Karena pada akhirnya mereka yang bertanggung jawab untuk membuat upaya awal JAPFA berkelanjutan.

Hingga akhirnya, pada 22 November 2019, JAPFA dan warga Desa Gebang sepakat untuk menjadikan kawasan ekosistem mangrove di Desa Gebang sebagai Kawasan Ekowisata.

Tantangan tentu saja ada, meski demikian itikad baik pasti akan selalu punya jalan.

Kerja sama JAPFA, warga Desa Gebang, Pemda, dan tentu saja alam telah membuahkan hasil. Kawasan mangrove di Desa Gebang terus menerus membaik, ikan-ikan mulai nampak mengeremuni akar-akar bakau, kegiatan pengambilan terumbu karang pun sudah dihentikan, setiap hari mereka kedatangan pengunjung.

Semua senang.

Apa yang dilakukan JAPFA dan Desa Gebang sepatutnya menjadi sebuah kisah manis bagaimana hubungan harmonis dengan alam tak akan merugikan dan membantu kita terus hidup dalam sebuah keberlanjutan yang menguntungkan.

Semoga lekas ditiru banyak pihak. (Ber)