Jangan Menangis Sayang

0
928

Ketika hatimu patah karena si dia, dan pandanganmu mulai buram karena genangan air di kelopak matamu, tanganmu bakal secara otomatis mencari sesuatu untuk menyekanya, yaitu tisu. Namun seperti hatimu yang baru saja patah karena dia, ada pohon-pohon yang juga patah karena ditebang untuk menjadi tisumu itu.

Jika ada kalanya kamu sedang bersedih dan harus menggunakan tisu-tisu untuk menyeka air matamu, coba kamu keluar rumah, perhatikan pohon-pohon di luar sana yang harus kehilangan hidupnya untuk menyeka segala galau dan gundahmu itu.

Keberadaannya yang sangat mudah kita temukan, menjadikan tisu sebagai barang yang terasa begitu sepele. Tidak begitu penting. Mungkin kalau tisu bisa mengutarakan perasaan, dia akan merasa tak berguna, persis kamu yang merasa disia-siakan dia.

Huhuhuhu.

Sebagaimana kertas lainnya, tisu dibuat dari bubur kayu. Banyak pohon yang — lagi-lagi — harus ditebang untuk menjadi barang yang kita anggap sepele.

Memang banyak perusahaan menggunakan tisu daur ulang sebagai salah satu varian produk mereka. Supaya terlihat sebagai perusahaan ramah lingkungan, ceritanya. Namun sayangnya tisu daur ulang menghasilkan tisu yang lebih kasar.

Tapi, berapa banyak sih orang yang secara sadar mau membeli dan memakai tisu kasar?

Semakin fresh pohon yang digunakan, semakin lembut tisu yang dihasilkan.

Dr. William Yu, pendiri World Green Organization menjelaskan bahwa setidaknya kita membutuhkan 17 pohon dan 20.000 galon air untuk membuat satu ton tisu-tisu yang lembut itu. Meski terasa banyak ya satu ton itu tapi jumlah itu sama sekali tidak sebanding dengan kebutuhan manusia-manusia bumi akan tisu!

Satu negara saja, Hongkong misalnya, membutuhkan 668 ton tisu tiap harinya! Itu artinya sekitar 11.300 pohon harus ditebang dan 13 juta galon air dibutuhkan untuk memproduksi tisu sebanyak itu.

Gila ya?

Belum lagi, proses produksi tisu menghasilkan emisi karbon tertinggi dibandingkan dengan proses produksi produk kertas lain.

Rasanya aku tidak perlu kembali menjelaskan apa jadinya nanti ketika emisi karbon semakin tinggi, bumi semakin gundul, dan air semakin langka. Kamu pasti sudah tahu dan hafal betul akan dampaknya.

Benar, cuaca akan semakin tidak karu-karuan, tidak bisa diprediksi, ozon makin menipis, es di kutub mencair, iklim pun berubah, udara semakin panas secara global, banyak satwa tidak bisa beradaptasi dan punah, hilangnya ekosistem, hilangnya sumber pangan, kelaparan, kekeringan, penyakit baru bermunculan, dan seterusnya, pokoknya menderita puool!

Sayangku, berapa banyak lembar tisu yang kamu gunakan untuk menyeka tangismu ketika kamu sedih di sore hari itu? Lima lembar? Sepuluh lembar? Atau bahkan kamu sudah menghabiskan beberapa pak tisu sekaligus? Maaf ya untuk rasa sedihmu itu. Maaf pula untuk rasa sakit yang hinggap di hatimu.

Aku tidak bermaksud menyalahkan segala rasa sedih yang kamu rasakan yang — pada akhirnya — menyebabkan bulir-bulir air mata itu jatuh dari pelupuk matamu. Aku tahu, kadang kamu pun bahkan tidak ingin merasakan itu semua, my love.

Aku juga tidak bermaksud menganggap rasa sedihmu tidak sepenting pohon yang sudah ditebang untuk membuat tisu, aku hanya berharap, mungkin kita bisa sama-sama mencoba mengurangi konsumsi tisu kita, atau mungkin kita bersama-sama harus adaptasi dengan rasa kasar tisu daur ulang, atau…kita bisa bersama-sama mencoba sedikit lebih bahagia.

Semangat, sayangku.