Virus Corona, Perubahan Iklim, dan Hubungannya

0
7759

Penemuan virus baru bernama 2019-nCoV atau Corona Virus telah menimbulkan kepanikan luar biasa di berbagai belahan dunia. Pasalnya, virus yang pertama kali muncul di daerah Wuhan, China ini  menyebar dengan sangat cepat dan sudah menjangkit sekitar 8000 orang di belasan negara, setidaknya 700 orang lebih di antaranya telah meninggal dunia.

Virus corona merupakan virus yang menginfeksi saluran pernapasan seperti hidung, sinus, dan tenggorokan. Hingga saat ini belum banyak informasi yang diketahui tentang 2019-nCoV. Semuanya masih sebatas dugaan. Semua orang menjadi resah karena gejalanya yang mirip sekali dengan flu. Hanya saja flu yang sangat parah.

Kepanikan semakin memuncak karena, saat ini, virus ini belum memiliki vaksin penangkal. Berbagai macam teori konspirasi pun menyeruak, misalnya, dikatakan bahwa virus ini merupakan senjata rahasia yang memang akan digunakan dalam perang, dan lain sebagainya, dan lain seterusnya.

Masyarakat menjadi semakin panik. Segala informasi pun ditelan. Tak ada lagi penyaringan. Namun jika Anda berkenan untuk mengalihkan fokus Anda sejenak dari jenis informasi berbau konspirasi itu, percayakah Anda jika — bisa jadi — penemuan berbagai macam penyakit baru berkelindan dengan perubahan iklim? Asumsi ini tentu hanya akan menarik minat mereka yang tidak menganggap pemanasan global hanya sebatas konspirasi belaka, tentu saja.

 Isu pemanasan global bisa jadi merupakan sebuah permasalahan yang dianggap klise oleh sebagian orang. Bahkan mungkin sebagian besar dari kita tidak akan terkejut dan panik mengetahui kemungkinan bahaya besar yang sudah siap mengepung kita, mulai dari mencairnya es, kepunahan binatang, dan munculnya penyakit baru, diikuti dengan menurunnya daya tahun tubuh kita dalam menghadapinya karena perubahan cuaca pula yang menyebabkannya.

Perihal informasi terkait sumber infeksi virus corona memang belum lah jelas. Akan tetapi, kemungkinan memburuknya penyebaran virus yang ditenggarai karena pengaruh musim perlu menjadi catatan tersendiri. Di daerah dingin, penyebaran flu menjadi sangat cepat karena cuaca dingin dan buruknya ventilasi udara. Logikanya, cuaca hangat seharusnya dapat menghambat laju penyebaran virus. Sayangnya, tidak demikian. Penelitian-penelitian terbaru tidak mendukung logika di atas.

Plot twist, para ahli mengatakan bahwa perubahan iklim menjadi kambing hitam yang justru memperburuk pandemi. Perubahan iklim telah memengaruhi bagaimana virus, seperti influensa bahkan HIV, berkembang dan menyebar. Telah dibuktikan pula bahwa beberapa jenis flu yang hanya bisa menjangkit saat musim dingin kini bisa bertahan di cuaca yang lebih hangat.

Ada beberapa jenis virus yang ditemukan di Asia ketika musim panas. Virus-virus ini dibawa oleh burung-burung yang sedang melakukan imigrasi. Namun, ini bukan sepenuhnya salah burung. Perubahan iklim telah mengacaukan rute imigrasi mereka. Berubahnya rute imigrasi ini memungkinkan burung untuk berinteraksi dengan spesies burung lainnya. Interaksi ini yang kemudian menelurkan bukan spesies burung baru, namun jenis influensa baru.

Burung-burung ini yang pada akhirnya menularkan dan membawa virus-virus baru ini ke seluruh dunia. Pengaruh cuaca di berbagai tempat lalu menyebabkan derajat infeksi yang variatif. Bagi para pakar, hingga saat ini memprediksi flu masih menjadi hal yang sulit, mengingat ada banyak faktor yang terkait satu sama lain.

Meskipun kita tahu pasti, bagaimana kita nantinya ketika penyakit baru itu menjangkit dan berubah menjadi sebuah pandemi. Apa yang sudah terjadi mungkin menjadi sebuah cermin ketidakberdayaan manusia dalam menghadapi berbagai bahala apa yang disebabkan karena perbuatan yang sudah manusia tuai.