Mengikuti ISO 26000

0
569

Panduan penting dalam pelaksanaan tanggung jawab sosial diarahkan oleh ISO 26000. ISO sendiri merupakan panduan yang diadopsi dan diikuti oleh banyak perusahaan karena memberikan panduan dan arahan yang dapat meningkatkan kualitas dari kegiatan operasi bisnis mereka.

Berbeda dengan panduan ISO pada umumnya, ISO 26000 membahas mengenai tanggung jawab sosial, tidak menegaskan bahwa panduan itu disusun hanya untuk korporasi. Ia mengarahkan dan memberikan panduan mengenai “tanggung jawab sosial” dan bukan mengenai “tanggung jawab sosial perusahaan.” Hal ini disebabkan karena panduan ISO 26000 dapat dimanfaatkan oleh setiap jenis organisasi, bukan hanya untuk industri atau perusahaan.

Standar ISO 26000 menegaskan bahwa “tanggung jawab sosial,” adalah tanggung jawab dari suatu organisasi terhadap dampak dari keputusan dan aktivitasnya terhadap masyarakat dan lingkungannya melalui perilaku yang terbuka dan etis, yang memberi kontribusi pada pembangunan yang berkelanjutan. Termasuk di sini untuk kesehatan dan kesejahteraan masyarakatnya, dengan mempertimbangkan harapan pemangku kepentingan, mengikuti hukum yang berlaku dan konsisten dengan norma juga perilaku internasional yang terintegrasi dalam organisasi, dan dipraktikkan dalam relasi organisasi.

Salah satu hal yang penting untuk diperhatikan dalam semua aktivitas bisnis dan sosial adalah mengenai pemanfaatan sumberdaya (resources). Sejumlah sumberdaya yang digunakan dan dimanfaatkan oleh perusahaan berdasarkan dari sumber-sumber yang tak terbarukan. Dengan demikian pola-pola pemanfaatan, produksi dan volume konsumsinya harus dapat diubah  sehingga sesuai dengan daya dukung planet bumi. ISO 26000 menegaskan organisasi dapat berbuat banyak dalam hal pemanfaatan sumberdaya yang berkelanjutan dalam pemanfaatan listrik, bahan bakar, bahan mentah, maupun pemanfaatan lahan dan sumberdaya air.

Perubahan harus dilakukan dengan memanfaatkan sumberdaya yang berkelanjutan, seperti penggunaan sumberdaya terbarukan (renewable resources) dengan pemanfaatan teknologi yang inovatif. Efisiensi dapat ditingkatkan untuk memberikan manfaat yang berkelanjutan, misalnya untuk efisiensi energi.

Program efisiensi penggunaan energi harus dilakukan oleh organisasi, untuk mengurangi kebutuhan energi di gedung, transportasi,  proses produksi, dan penggunaan peralatan elektronik. Upaya ini dapat dilakukan seiring dengan pemanfaatan sumberdaya terbarukan seperti pemanfaatan energi matahari, panas bumi, hidroelektrik, energi ombak dan gelombang.

Apa yang dilakukan oleh Unilever menjelaskan upaya serius ke arah itu. Di akhir tahun 2018, perusahaan dua tahun lebih cepat berhasil mengurangi penggunaan air di pabrik hingga 44 persen untuk setiap ton produk yang diproduksi perusahaan. Kondisi ini dapat dicapai meskipun volume produksi perusahaan terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini hanya mungkin terjadi melalui upaya berkesinambungan untuk mengurangi (reduce), melakukan penggunaan ulang (reuse) dan penggunaan kembali (recycle) dari air yang digunakan untuk kegiatan produksi di pabrik. Dengan cara ini Unilever dapat menghemat 22 miliar liter air dibanding yang mereka gunakan di tahun 2008. Suatu penghematan yang signifikan, karena dengan jumlah air sebanyak itu berarti seluruh penduduk bumi dapat menerima hampir tiga liter dari air yang dihemat itu.

Inisiatif penghematan penggunaan air ini dilakukan dengan beragam cara. Mulai dari peningkatan cara memproses dan perbaikan perilaku pemanfaatan air, hingga peningkatan pemanfaatan teknologi pembersihan air yang lebih efisien. Secara regular water scarcity assessment dilakukan bersama pengelola air di tingkat lokal untuk memastikan ketersediaan air. Di sejumlah daerah jika diperlukan, perusahaan akan memanfaatkan air hujan agar tak terbuang sia-sia. Perusahaan mendorong pabrik-pabriknya untuk mengumpulkan dan menggunakan ulang sebanyak mungkin air. Perusahaan juga mendorong penggunaan ulang dan penggunaan kembali air di pabrik sehingga tak ada air yang terbuang ke lingkungan. Efisiensi penggunaan air ini memiliki nilai €105 juta jika dihitung dari tahun 2008.

Dengan mengurangi penggunaan air, memungkinkan pula perusahaan untuk mengurangi penggunaan energi, karena tak perlu lagi memompa air dan untuk pemanasan air agar siap digunakan. Hal ini yang mendorong Unilever untuk mengintegrasikan efisiensi penggunaan air bagi setiap pabrik barunya dengan memanfaatkan teknologi sustainability terkini. Mereka percaya, efisiensi penggunaan air akan  membuat perusahaan mampu bertahan terhadap dampak perubahan iklim, dan membantu perusahaan untuk mempersiapkan bisnis di masa depan ketika sumberdaya alam semakin langka. Dr. M. Gunawan Alif

(Chairman Indonesia CSR Society)