Tanggung Jawab Sosial

0
1109

Di bale-bale, di sebuah rumah kampung di Dukuh Panyingkiran, Desa Raja Galuh Lor, Majalengka,  yang merupakan properti The Pilla, sejumlah petani duduk meriung. Hari Minggu itu, Mang Ucu dan seorang temannya datang untuk berbagi dan berdiskusi tentang pertanian yang peduli lingkungan.

Mang Ucu adalah sarjana ITB, yang cukup lama berkecimpung di industri dirgantara. Namun di peralihan milenium ketiga, garis nasib membawanya kembali ke kampung dan menemukan kenyataan bahwa banyak petani telah berbuat zolim pada lahan pertaniannya. Maka pagi hari itu, dari Banjaran, Ciamis, ia meluncur ke lereng Gunung Ciremai menuju Dukuh Panyingkiran untuk berdiskusi agar petani tidak terus berbuat zolim.

“Racun dibilang sebagai obat,” begitu ia mencontohkan penggunaan herbisida yang disemprotkan secara berlebihan oleh petani. “Padinya tidak bertambah baik, malah kupu-kupu, belalang, kodok dan cacing yang pada mati semua,” tuturnya dengan gemas.

Menurutnya, semuanya itu membuat ekosistem rusak, malah hama semakin berkembang biak dan semakin resisten terhadap racun pembunuh hama. Padahal hama ulat dan sejenisnya memiliki predator alami, yang kini semuanya mati atau menghindar dari daerah pertanian yang sering disemprot oleh racun kimia itu.

Kondisi ini diperparah dengan penggunaan pupuk kimia yang berlebihan, sehingga tanah yang seharusnya subur menjadi kian mengeras, kalau tak dapat dikatakan membatu. Akibatnya panen padi tidak menjadi lebih baik namun terus mengecil. Dan petani terus memperbesar dosis penggunaan pupuk dan racun kimia untuk disebar di lahan pertanian mereka, dengan harapan panen akan menjadi lebih baik. “Maka yang tertawa senang adalah produsen pupuk dan herbisida,” kata Mang Ucu sebal. “Sementara petaninya tetap saja memble, kalo enggak ya makin miskin, karena padinya makin blangsak.”

Diskusi dengan para petani itu berlangsung seru karena tuan rumah, pemilik The Pilla, yang mengundang Mang Ucu telah memastikan bahwa diskusi harus berjalan dua arah, agar petani dapat merasakan bahwa pendapatnya juga didengar.

Diskusi menjadi lebih seru ketika perbincangan kemudian masuk ke upaya  pertanian organik. Maklum, mengubah kebiasaan yang telah dilakukan selama puluhan tahun, yang telah menjadi belief, tentu bukan perkara yang mudah. Para petani menyadari repotnya upaya organik ini, karena mereka harus menyiapkan pupuk sendiri, menyiapkan pengusir hama alami, dan yang paling mereka kuatirkan: “Bagaimana jika hasil panennya jauh menyusut?”

Mang Ucu memang menjelaskan, di tahap-tahap awal peralihan ke pertanian organik hasil panen sangat mungkin akan menyusut, karena sawah secara berangsur harus meningkatkan kesuburannya tanpa masukan pupuk kimia maupun herbisida dari pabrik, namun hanya dengan menggunakan pupuk dan herbisida alami. “Tapi jangan lupa,” pesan Mang Ucu. “Kalau beras biasa dijual 10 ribu rupiah per kilogram, beras organik dapat dijual dua hingga enam kali lipatnya.”

Dan diskusi terus berlangsung dengan sengit. Serunya diskusi terlihat dari antusiasme petani yang bertahan bertukar pikiran di bale-bale hingga sore. The Pilla, sebuah rumah penginapan pertanian terpadu, berhasil menjadi fasilitator pertemuan ini. Pemiliknya ingin mendorong para petani beralih ke pertanian organik yang lebih ramah lingkungan, dan jika dikelola dan dipasarkan dengan baik, diharapkan dapat memberikan penghasilan yang juga lebih baik bagi petani.

Norma semacam ini sesungguhnya seiring dengan prinsip panduan OECD dan ISO 26000. Panduan OECD mengarahkan tentang hak asasi; hubungan industri dan karyawan; lingkungan; penolakan sogokan; minat konsumen; sains dan teknologi; persaingan; dan perpajakan. Sedang ISO 260000 mengarahkan pengelolaan organisasi; hak asasi; karyawan; lingkungan; pengelolaan bisnis yang adil; permasalahan konsumen; dan penyertaan serta pengembangan komunitas.

ISO 26000 tidak secara eksplisit menyebut sebagai suatu panduan tanggung jawab sosial perusahaan, namun sebagai panduan tanggung jawab sosial, baik bagi bisnis maupun organisasi lainnya, agar mereka memiliki tanggung jawab sosial dalam menjalankan kegiatannya.

Apa yang dilakukan pemilik The Pilla dengan melibatkan petani untuk meningkatkan kualitas pertanian dan kesejahteraan mereka, sesungguhnya menjelaskan bahwa pemahaman terhadap tanggung jawab sosial dapat dilakukan oleh setiap organisasi, tanpa harus menunggu organisasi itu harus menjadi besar terlebih dahulu.

Kalau kita mau membuka diri, tanggung jawab sosial sesungguhnya melekat pada diri kita masing-masing. Jika kita mau memahami hal itu sebagai suatu mandat yang harus kita jalankan, maka banyak permasalahan sosial dan lingkungan di negara ini akan dapat kita bereskan. Begitu bukan? Dr. M. Gunawan Alif

(Chairman Indonesia CSR Society)