Perempuan, Terpinggirkan Sepanjang Zaman

0
2245

Waktu itu saya bertemu dengan seorang perempuan. Raut mukanya kusut, terlihat jelas bahwa ia begitu lelah. Bajunya lusuh, rambutnya tidak tertata rapi. Ada beberapa luka memar di kening dan lengannya. Ia duduk di depan saya, pandangan matanya kosong, tidak begitu jelas ekspresi apa yang ia ingin coba tampakkan, tanpa menunggu persetujuan saya apakah saya ingin mendengarkan apa yang ia akan katakan, ia langsung menuturkan beberapa hal kepada saya.

Katanya, karena ia perempuan, ia sudah merasakan kesenjangan semenjak ia lahir.

Karena ia perempuan, ketika ia masih kecil, ia tidak mendapatkan akses pendidikan dan kesehatan yang layak, semudah laki-laki mendapatkannya.

Ketika keluarganya mengalami kesulitan ekonomi, kemungkinan besar anak yang akan terus disekolahkan adalah saudara laki-lakinya, bukan dirinya.

Bukan karena ia bodoh atau bukan karena ia pemalas. Namun karena ia adalah perempuan.

Karena ini, ia sebagai perempuan tidak memiliki banyak keterampilan sebanyak keterampilan yang dimiliki oleh teman dan saudara laki-lakinya.

Belum juga ia beranjak 18 tahun, ia sudah dipaksa untuk menikah. Ia merasakan bahwa ia sudah dianggap sebagai sebuah barang yang dapat dijual apabila ekonomi keluarganya terdesak.

Lalu baru saja ia ketahui bahwa ada 12.000 perempuan di luar sana yang mengalami hal serupa.

Kehidupan rumah tangganya pun tak semanis apa yang ia selalu bayangkan.

Ia dipandang rendah, kekerasan fisik bertubi-tubi ia dapatkan, suaranya dibungkam, bahkan dirinya tidak dianggap sebagai manusia setara seperti suaminya karena ia tidak bekerja.

Ia lalu mencoba untuk mencari pekerjaan jika memang bekerja adalah cara bagi dirinya agar diperlakukan sebagai manusia.

Namun, mendapatkan pekerjaan bukanlah hal yang mudah. Begitu banyak hal yang menghambatnya untuk mendapatkan pekerjaan karena ia adalah perempuan.

Namun ia merasa beruntung karena setidaknya pada akhirnya ia mendapatkan pekerjaan. Ia merasa lebih beruntung karena ia tahu bahwa banyak di luar sana perempuan yang bahkan tidak bisa bekerja.

Perempuan di Arab Saudi misalnya, mereka sangat sulit mendapatkan pekerjaan, terlebih lagi apabila pekerjaannya mengharuskan mereka harus berhubungan dengan laki-laki.

Karena ini, banyak sekali perempuan di sana yang terpaksa harus menganggur. Bahkan jumlahnya jauh lebih banyak dari angka pengangguran laki-laki.

Tidak berhenti di sini, meskipun ia sudah bekerja dengan waktu yang sama dengan laki-laki, ia hanya akan mendapatkan upah sebesar 77% dari penghasilan laki-laki.

Ia juga tidak memiliki hak dan jaminan yang sama dengan apa yang laki-laki dapatkan.

Katanya, ia hanya akan mendapatkan hak bekerja yang sama dengan laki-laki ketika ia tinggal dan bekerja di Belgia, Denmark, Perancis, Latvia, Luxembourg, dan negara sejenisnya.

Ketika laki-laki bahkan mendapatkan upah yang lebih besar darinya, namun karena ia perempuan, banyak pekerjaan melelahkan yang ia lakukan bahkan tidak dianggap sebagai sebuah pekerjaan. Pekerjaan rumah misalnya.

Selepas ia bekerja di siang harinya, ketika ia sampai rumah, ia harus melakukan pekerjaan rumah secara cuma-cuma, tanpa dibayar meskipun itu adalah pekerjaan yang sangat melelahkan.

Apabila pekerjaan rumah tangga yang dilakukan oleh perempuan harus dibayar, maka nilainya bisa mencapai 10 triliun dollar. Tapi hingga saat ini perempuan belum mendapatkan haknya sepersenpun.

Karena ia perempuan, pada akhirnya ia yang akan menjadi korban kesenjangan yang paling parah.

Ia sejenak berhenti melontarkan keluh kesahnya sebelum akhirnya menatap saya dan tersenyum kecil. Ia lalu menunduk sebelum membisikkan sebuah pertanyaan, “Apakah karena saya perempuan, saya berhak menerima ketidakadilan ini? Apakah karena saya perempuan, saya pantas diberlakukan sebagai warga negara kelas kedua?” (Berliyantin)