Indonesia Cukup Air, Tapi . . .

0
1019

Secara statistik, sumber daya air di Indonesia mewakili hampir 6% dari keseluruhan sumber daya air di dunia, atau sekitar 21% dari total sumber daya air di kawasan Asia-Pasifik, atau lebih dari 2 triliun meter kubik air per tahunnya. Dengan fakta ini, Indonesia seharusnya bukanlah negara yang kekurangan air, namun….

Musim kemarau seharusnya telah berlalu, namun BMKG memprediksi kemarau masih akan tetap tinggal hingga bulan November. Kekeringan memang merupakan fenomena alam namun bukan berarti semua variabel penyebab hanya datang dari alam. Manusia turut mengambil peran di dalamnya.

Semenjak industrialisasi, pertambahan pertumbuhan populasi, perluasan usaha pertanian, hingga industri telah menyebabkan peningkatan penggunaan air. Namun sayangnya meningkatnya kebutuhan penggunaan tidak dibarengi dengan perbaikan pengelolaan air dan lingkungan.

Bahkan banyak daerah di dunia yang mememiliki kebutuhan air lebih besar daripada sumber mata air yang tersedia. Dengan kata lain, banyak dari mereka menderita karena kekeringan dan kelangkaan sumber mata air.

Pertumbuhan dan perkembangan peradaban tidak hanya menyebabkan melambungnya kebutuhan akan air namun sekaligus menyebabkan peningkatan emisi gas rumah kaca, yang pada akhirnya akan berdampak pada perubahan pola curah hujan.

Secara bersamaan, peningkatan kebutuhan akan air, buruknya pengelolaan air, perubahan iklim dan emisi karbon dioksida yang disebabkan oleh aktivitas manusia juga semakin memengaruhi siklus musim kemarau. Ini berarti, musim kemarau akan semakin sulit diprediksi dan masa kemarau yang lebih lama.

Kekeringan menimbulkan banyak permasalahan, salah satunya adalah krsis air yang melanda banyak negara gersang dan tidak memiliki cadangan air yang banyak, tak terkecuali Indonesia.

Secara statistik, sumber daya air di Indonesia mewakili hampir 6% dari keseluruhan sumber daya air di dunia, atau sekitar 21% dari total sumber daya air di kawasan Asia-Pasifik, atau lebih dari 2 triliun meter kubik air per tahunnya. Dengan fakta ini, Indonesia seharusnya bukanlah negara yang kekurangan air. Namun sebanyak 266,7 juta penduduk Indonesia saat ini mengalami krisis air.

Krisis air ini dapat bersumber dari berbagai cabang, mulai dari banyaknya sampah yang dibuang ke sungai. Kini, sekitar 60 persen sungai di Indonesia sudah tercemar oleh limbah mulai dari limbah organik hingga bakteri. Hal ini menyebabkan sumber air semakin sulit didapatkan.

Sebagian masyarakat Indonesia kemudian beralih dan bergantung pada Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang justru pada akhirnya memperburuk kondisi. Kurangnya kepercayaan publik akan kemampuan pemerintah dalam menyediakan air bersih berdampak positif pada semakin pesatnya perkambangan industri AMDK di Indonesia. Padahal proses produksi air dalam kemasan justru membutuhkan banyak air dan memberikan dampak yang tidak terlalu ramah bagi lingkungan pula.

Perubahan iklim, meningkatnya kebutuhan akan air baik dari penduduk maupun sektor pertanian hingga industri, hingga meningkatnya populasi di berbagai daerah menjadi variabel pemercepat krisis air di Indonesia.

Seiring dengan jumlah populasi penduduk Indonesia yang semakin meningkat dan pertumbuhan perekonomian yang kini sedang terus dipacu, perbaikan pengelolaan dan infrastruktur air menjadi variabel penting dalam keberhasilan ekonomi di masa depan. Permasalahan krisis air harus mendapatkan perhatian luar biasa dari pemerintah dan hanya bisa diselesaikan secara lintas sektoral mengingat dampaknya yang struktural. (Berliyan)