Menuju Indonesia Yang Terbarukan

0
1512

Kita semua tumbuh bersama dengan kisah-kisah tentang kekayaan yang dimiliki Indonesia. Tanah kita subur dan menghasilkan panen-panen yang melimpah, sedang bumi kita menghasilkan bermacam mineral dan sumber energi. Ironisnya, kekayaan tersebut berdampingan dengan ancaman eksploitasi yang tak mengenal batas. Berbeda dengan potensi pertanian yang dapat disesuaikan dengan kondisi alam, kekayaan yang terkandung di dalam bumi hanya dapat dipulihkan kembali setelah jutaan tahun.

Sebagai gambaran, Indonesia memilik cadangan minyak sekitar 3,7 miliar barrel yang cukup untuk 11-12 tahun ke depan. Perhitungan ini dengan asumsi produksi 700.000-800.000 barrel per hari. Namun konsumsi minyak Indonesia saat ini sekitar 1,5 juta barrel per hari. Dengan asumsi pertumbuhan konsumsi minyak 6 persen per tahun, pada 2025 kebutuhan minyak menjadi 2,7 juta barrel per hari. Yang berarti cadangan minyak kita akan habis dalam kurun waktu lebih cepat dari estimasi awal yang kita bayangkan.

Melakukan transisi energi menjadi langkah bijak yang dapat diambil bangsa ini. Hal ini tidak hanya untuk kebaikan bangsa sendiri, tetapi juga untuk bumi kita. Namun peralihan ini bukan hal yang mudah, Indonesia masih sangat mengandalkan bahan bakar fosil sebagai sumber energi utama. Terlepas dari fakta bahwa Indonesia sendiri juga memiliki sumber energi terbarukan yang melimpah, seperti energi surya dan angin. Namun bahan bakar fosil masih menjadi pilihan utama, sebab secara ekonomi, bahan bakar fosil dinilai lebih terjangkau dibandingkan energi terbarukan.

Masalah harga memang tidak bisa diperdebatkan. Meskipun Indonesia berpotensi untuk beralih menggunakan energi terbarukan, tetap diperlukan biaya yang amat besar untuk membangun infrastruktur yang dapat mengolah energi terbarukan tersebut. Kalaupun infrastrukturnya sudah tersedia, ongkos penggunaan energi terbarukan ini pun masih terbilang tinggi, jika dibandingkan dengan ongkos penggunaan energi fosil.  Namun harga murah tersebut juga memiliki kekurangannya, yakni emisi buruk yang ia hasilkan. Sebagai perbandingan, batubara sejauh ini merupakan energi yang ongkosnya murah, Rp400-Rp500 per kilowatt jam (kWh). Akan tetapi, emisi gas buangnya 1.000 gram per kWh. Energi panas bumi dan tenaga surya beremisi rendah, tetapi ongkosnya masih tinggi, yakni Rp2.000 per kWh untuk tenaga surya dan Rp1.100-Rp1.200 per kWh untuk panas bumi. Adapun gas alam menghasilkan emisi 600 gram per kWh, ongkosnya Rp600-Rp700 per kWh.

Mengingat isu pemanasan global yang kian meresahkan kita, transisi energi menjadi semakin krusial untuk segera dilakukan. Membayar murah rasanya tidak sebanding jika akibatnya adalah kerusakan bumi kita. Namun, untuk mencapai Indonesia yang berbasis energi terbarukan, sosialisasi mengenai apa itu transisi energi, serta apa pentingnya bagi lingkungan, perlu diberikan terlebih dahulu kepada masyarakat, agar mereka paham dan bersedia untuk beralih menggunakan energi terbarukan. (Aya)