CSR dan Olahraga

0
1690

Menyaksikan langsung perjuangan GM Susanto Megaranto menghadapi GM Sergey Karjakin dari Rusia, ada rasa tegang yang sangat mengganggu. Pertarungan di papan catur ini berlangsung di Khanty-Mansiysk, Siberia Rusia, untuk memperebutkan Juara Dunia Catur 2019.

Susanto ikut bertarung bersama 127 pecatur lainnya di kejuaraan dunia ini setelah berhasil menjadi juara di babak penyisihan Zona 3.3 Asia di Monggolia. Bermain dengan buah putih, Susanto memaksa lawannya berpikir selama 12 menit, sebelum Karjakin berhasil menetralkan persaingan dan berbalik menekan Susanto, yang akhirnya menyerah. Di pertandingan kedua, Karjakin bermain aman, dengan memaksakan remis. Susanto pun kalah dan harus membereskan kopor untuk kembali ke Jakarta. Untungnya karena rating Karjakin jauh di atas lawannya, dengan draw yang diperolehnya, elo rating Susanto agak terkerek naik.

Hal ini memperlihatkan, dalam olahraga kompetitif di tingkat dunia, memperoleh kemenangan bukan perkara mudah. Karjakin bukanlah lawan catur yang baru dikenal Susanto. Di masa yunior mereka sudah sering bertemu. Di masa itu Karjakin bahkan pernah menyerah menghadapi pecatur muda Indonesia lainnya. Namun pecatur muda Indonesia itu bahkan belum menjadi GM, sementara Karjakin adalah GM Super dengan elo rating 2600, dan pernah menjadi juara dunia di tahun 2015, sehingga ia dibajak dari Ukrania untuk mewakili Rusia.

Susanto sendiri menciptakan rekor sebagai orang Indonesia yang memperoleh gelar GM di usia 17 tahun. Talentanya ditemukan di usia sangat muda, 9 tahun, oleh pengusaha Eka Putra Wirya yang kemudian melatih dan menyertakannya ke sejumlah pertandingan catur yang sebagian besar diikuti oleh pecatur-pecatur yang usianya jauh di atasnya. Meskipun demikian, banyak turnamen yang berhasil dimenangkannya karena bakatnya yang istimewa. Tak ada yang meragukan, ia memiliki talenta untuk menjadi seorang Grand Master.

Namun memperoleh gelar GM bukan perkara mudah, Susanto harus sering bertarung, untuk memahami jurus-jurus pecatur dunia, sekaligus mengerek rating untuk memenuhi persyaratan menjadi seorang GM. Dan ini bukan perkara mudah, diperlukan biaya yang cukup besar untuk memberinya kesempatan bertarung di sirkuit catur global, untuk berlatih menghadapi lawan kelas dunia, dan sekaligus mengerek naik ratingnya.

Sampai disini, kita tahu: biaya pembinaan olahraga selalu menjadi masalah yang pelik di negara ini. Meskipun di APBN selalu tercantum anggaran pembinaan olahraga, implementasinya untuk begitu banyak alasan, tak pernah cukup untuk menciptakan prestasi. Akibatnya, sejumlah perusahaan yang peduli akhirnya turun tangan ikut membantu.

Di Kudus, brak-brak produksi rokok digeser untuk bermain bulutangkis. Seorang anak kecil bermain penuh semangat, dan termenung di sudut ketika kalah dari lawannya yang lebih tua. Budi Hartono, juragan pabrik rokok itu, melihat anak kecil itu memiliki talenta bulutangkis yang sangat baik, melatihnya dan menjadikannya juara All England, dan juga pemenang Piala Thomas. Anak kecil yang bertiwikrama menjadi raksasa bulutangkis itu bernama Liem Swie King, yang kemudian terkenal dengan King smash-nya.

Di Jakarta, GM Utut Adianto menyadari masa-masa pertarungannya suatu saat akan berakhir. Namun ia belum menemukan talenta yang cukup tangguh seperti dirinya yang berhasil mengikuti Piala Dunia Catur dan melaju hingga babak kedua. Di peralihan milenium, ia merancang classic chess tournament, suatu pertarungan pecatur super dengan elo rating minimal 2600. Suatu show of force yang diharapkan menginspirasi pecatur-pecatur Indonesia, yang untuk pertama kali menyaksikan pertarungan grand master super digelar di Asia.

Mengundang pecatur GM super ke Bali tentu memerlukan biaya besar, baik untuk fee kehadiran, maupun biaya transportasi, akomodasi dan logistik. Di sini PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk turun tangan mensponsori pertarungan pecatur-pecatur super itu sehingga mereka mau hadir dan bertarung di Bali.

Sejak itu JAPFA secara konsisten mendukung pembinaan catur di Indonesia. Mengirim Susanto Megaranto dan beberapa teman pecaturnya mengikuti sirkuit pertandingan catur selama enam bulan di Eropa. JAPFA juga konsisten mensponsori pertarungan catur yang digelar di Indonesia agar bibit-bibit muda pecatur terus tumbuh dan berkembang.

Kini memasuki dua dekade  JAPFA membina olahraga catur, pecatur putra dan putri Indonesia berhasil ikut bertarung di kejuaraan catur Piala Dunia. Mereka berhasil menjadi among the best di antara pecatur-pecatur dunia, meskipun untuk menjadi juara dunia masih tetap berupa angan di dada.

Semua ini menjelaskan, perusahaan dapat berperan besar dalam pembinaan olahraga. Dalam hal ini perusahaan telah berusaha berbuat melampaui (beyond) dari hal-hal yang menjadi tanggung jawabnya.  Suatu hal yang sesungguhnya menjadi esensi dari tanggung jawab sosial perusahaan.

Perusahaan-perusahaan ini memahami, menciptakan jagoan-jagoan olahraga memerlukan talenta, yang harus diasah sejak dini, yang diharapkan akan menjadi kinclong di masa muda. Mereka harus disiapkan tak hanya jagoan bermain di olahraga yang ditekuninya, namun juga harus memiliki karakter dan unggah-ungguh, yang membuatnya siap bertempur membela merah putih, di mana pun ia bertarung.

Semuanya ini memerlukan kesungguhan, biaya, dan waktu yang panjang. Sungguh menyedihkan jika Djarum Foundation betul-menghentikan audisi untuk mencari bibit-bibit muda bulutangkis Indonesia. Beban untuk menciptakan jagoan-jagoan olahraga agaknya musykil jika hanya dilakukan oleh pemerintah semata. Itu terlalu berat. Biarlah Dilan, eh, perusahaan yang peduli juga ikut melakukannya. Dr. M. Gunawan Alif (Chairman Indonesia CSR Society)