Beringin Tua dan Kita Yang Lebih Gemar Hantu

0
1858

Kalau kalian pernah mengalami menjadi anak kecil yang tidak terlalu patuh dan agak seenak udel, pastilah pernah mengalami nasib yang apes karena main sampai gak tahu waktu dan gak tahu diuntung. Saat bapak-bapak sudah beranjak pulang dari masjid selepas sembahyang maghrib, kalian masih terjebak di rumah teman yang jaraknya lumayan, ditambah langit yang kepalang gelap membuat suasana jadi semakin-makin.

Di kepala yang terbayang bukanlah omelan orang tua, tapi soal bagaimana mengambil rute yang paling ramai dan terang. Yak, hantu lah alasannya, tidak lain dan tidak bukan. Kita itu tinggal di wilayah yang akrab sekali dengan kisah-kisah seputar makhluk dari dimensi lain, jadi sejak kecil kita sudah mendapat pendidikan dasar atau pengenalan dengan kisah mereka para makhluk astral dan paham betul kalau waktu-waktu sore sampai malam itu giliran mereka berkegiatan. Yang paling kita ingat adalah saat maghrib, sekitar jam 6 sore, sebab saat itu bukan hanya Pak Haji Budi yang keluar rumah untuk menuju masjid, tapi saat itu juga adalah saat dimana Wewe Gombel, Genderuwo, atau Noni Belanda penghuni beringin tua sedang sregep-sregepnya memulai jam dinas.

Tapi selama hidup sampai akhirnya menginjak usia dewasa kita juga tak pernah benar-benar mengalami kejadian mistis yang kita takutkan setengah mati itu, ya walaupaun beberapa dari kita ada yang apes harus mengalaminya, tapi saya rasa perbandingannya kecil sekali. Tikungan gelap di sebelah tembok kuburan, rumah kosong dengan kisah penghuninya yang bunuh diri, atau pohon tua tempat seorang Noni Belanda pernah dibantai semasa kumpeni dulu nyatanya tak pernah secara signifikan mengganggu stabilitas kampung.

Saya ingat dulu di tikungan sekitar jurang sebelum menuju tempat saya tinggal, terdapat sebuah pohon beringin besar yang hidup dengan berbagai mitos yang mengitarinya, mulai dari Kakek tua yang mendiaminya, warga yang tak pernah berhasil menebangnya karena kekeramatannya, sampai akhirnya beringin itu tumbang, tetap ada mitos mistis yang mengkafaninya.

Waktu saya kecil saya pernah ikut Bapak ke kandang sapi tempat ia kerja dan jalan menuju kandang pasti melintasi lokasi pohon tersebut. Persis saat melintas pohon tersebut Bapak mengajak mampir untuk melihatnya dari dekat, saya jelas ragu, tapi karena yang mengajak Bapak, saya yakin tidak akan ada apa-apa. Bapak lalu meminta saya melongok ke balik pohon, persis ke arah saluran air dan jurang, di sana terlihat aliran air yang jernih dan terasa sekali udaranya dinginnya air tersapu angin dari lembah di bawahnya. Bapak lalu bercerita kalau di bawah jurang di balik pohon tersebut terdapat mata air yang jernih, yang menjadi salah satu sumber air bagi warga di bawah lembah.

Saat kami melanjutkan perjalanan ke kandang, Bapak pun melanjutkan cerita soal pohon beringin. Bapak bilang kalau pohon beringin itu bisa jadi acuan keberadaan sumber air atau bersihnya air di satu tempat. Beringin juga menjaga tanah tidak amblas tergerus air hujan, karena akarnya yang mengikat kuat ke dalam tanah. Wah saya sempat terkesima dengan penjelasan Bapak, tapi dasar anak tak tahu diuntung, saya tetap penasaran dengan kisah-kisah misteri soal pohon tersebut.

Saya lalu bertanya soal mitos penunggu pohon beringin yang tadi kita lewati. Bapak cuma bilang, tadi dia sempat melihat sekelebat bayangan putih seperti sesosok Kakek yang berjalan cepat, sontak saya kembali terdiam dan kembali ketakutan saat itu. Tapi akhirnya sekarang saya paham kalau Bapak cuma tidak ingin mengecewakan anaknya yang lebih penasaran dengan hantu penunggu pohon beringin ketimbang manfaatnya sebagai sebuah tanaman, anak yang saat itu gemar pulang di injury time menjelang muadzin mengumandangkan seruan sembahyang, yang rela menerima cambangnya dijawil karena bolos mengaji daripada harus merelakan jam mainnya berkurang, hehe. (Ignavus Canis)